Komunikasi


Kata orang, ilmu yang mengubah hidup itu adalah ilmu yang menggugah kesadaran (ranah kognisi) dan menggerakkan jiwa. Jika menggunakan perumpamaan lainnya, ilmu seperti itu ibarat cahaya yang akhirnya datang menerangi kegelapan panjang.

Sounds cheesy, huhBut anyway, mari kita berbicara mengenai komunikasi.

***

Pada tahun 2011, saya bertanya pada salah satu kawan yang sangat saya hormati, Mas Aji, apakah ia punya tips mengenai komunikasi. Saya bilang, “Katakanlah saya punya problem kronis terkait komunikasi.”

Yang kemudian Mas Aji sampaikan kurang lebih begini: “Ada dua hal yang perlu dimengerti mengenai ‘komunikasi.’ Pertama, komunikasi itu bukan tentang apa yang kita sampaikan.”

Kalau bukan itu, lantas apa?

“Definisi ‘komunikasi’ itu adalah ‘respon yang kita terima dari orang lain’.

Sampai di situ, ada sesuatu yang berbunyi ‘krak’ di kepala saya.

Mas Aji melanjutkan, “Kedua, jika orang lain marah (saat bekomunikasi dengan kita), itu artinya orang tersebut punya niat baik.”

Mata saya kehilangan fokus. Saya melamun sejenak, memproses apa yang disampaikan Mas Aji. Lalu bagaikan terbangun dari tidur panjang, akhirnya saya mengerti. Melalui penjelasan sederhana itu, saya akhirnya mendapatkan kunci dari pintu pengetahuan yang mengubah hidup saya selamanya.

***

Mungkin bagi sebagian dari rekan-rekan pembaca blog ini, penjelasan tentang komunikasi (interpersonal) tadi adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang menjadi wawasan umum atau bahkan wawasan mendasar. Namun jika mengingat latar belakang keluarga saya, ilmu komunikasi tadi adalah ilmu yang hilang, ilmu yang di masa muda tidak sempat saya pelajari sebagai modal saya untuk menjadi seorang pribadi yang utuh dan sehat lahir+batin.

Berikut ini adalah poin-poin mengenai komunikasi yang saya pelajari dari obrolan singkat di tahun 2011 itu:

  • komunikasi itu bukan ‘berbicara’; berbicara hanya salah satu cara kita berkomunikasi, sementara ‘komunikasi’ lebih luas dari itu,
  • komunikasi interpersonal bisa dilakukan lewat lisan (berbicara), lewat tulisan (menulis), dan lewat bahasa tubuh (isyarat),
  • kalau anda yang berbicara terus menerus tanpa/hanya sedikit saja memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara, itu namanya ‘monolog’, bukan ‘dialog’; it takes two to tango, you see,
  • kalau memang maunya bergaul dan melakukan monolog saja di depan orang lain seumur hidup, maka lakukanlah di: a) panggung teater atau hiburan–bisa dapat duit dan terkenal, b) hutan rimba–jika lelah dengan manusia dan ingin menyepi saja di keheningan, atau c) rumah sakit jiwa–tak perlu dijelaskan lagi ya,
  • poin ke-2 dari penjelasan Mas Aji mengenai orang lain yang marah saat berkomunikasi dengan kita dan artinya punya niatan baik, saya menerjemahkan poin tersebut begini: a) orang lain marah karena merasa khawatir dengan kita, b) orang lain marah karena niatan baiknya tidak diterima/salah dimengerti/tidak ditanggapi dengan semestinya.

Waw. Just waw. Ke mana aja yak gue selama ini?

Selain poin-poin tadi, saya juga belajar bahwa dalam definisi komunikasi interpersonal yang Mas Aji sampaikan itu ada aspek ’empati’ yang wajib kita pertimbangkan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Singkatnya adalah ‘komunikasi empatik’. Itu bisa diartikan sebagai:

  1. komunikasi yang melibatkan empati, atau
  2. komunikasi itu pada dasarnya harus empatik.

Lalu, aplikasinya seperti apa?

  • Ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain dan dia seperti tidak nyambung dengan pembicaraan kita, respon darinya adalah ‘ketidakmengertian’. Evaluasi dari diri kita adalah ‘lawan bicara tidak mengerti’, atau ‘lawan bicara tidak ngeh’. Salah satu tindakan yang perlu diambil dalam merespon keadaan lawan bicara yang demikian adalah mencoba menjelaskan dengan cara dan kalimat yang berbeda.
  • Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain dan orangnya terlihat mengabaikan kita atau kurang responsif, evaluasinya adalah, “Oke, sepertinya ada sesuatu yang membuat dia bersikap demikian.” Bisa jadi karena lawan bicara kita sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, bisa jadi sedang fokus pada hal lain sejenak pada saat itu, atau bisa jadi  karena waktunya sedang tidak pas dan lawan bicara kita sedang tidak ingin diganggu. Lantas spa yang harus kita lakukan? Coba tanya begini, “Sedang tidak fokus ya?” atau, “Apakah mungkin kita lanjutkan lain kali saja obrolannya?”, atau “Apakah ada yang membuat anda terganggu dengan sikap/pembicaraan saya ini?”
  • Kesimpulan saya: jangan mendesak lawan bicara jika memang yang hendak kita komunikasikan tidak penting, tidak mendesak, atau tidak penting dan mendesak. Jika memang penting dan/atau mendesak, gunakan cara-cara terbaik untuk mengingatkan lawan bicara.

Sebelumnya, saya sering heran sendiri kenapa orang lain sepertinya tidak banyak yang paham dengan maksud saya. Di sisi lain, dulu saya memiliki citra bahwa saya itu ‘jutek’ dan super-tegas dan kawan-kawannya. Sering juga saya merasa disalahartikan atau salah dimengerti.

Ternyata saya yang salah, Bapak-Ibu! Hahahahahha. Dulu saya tahunya berkomunikasi itu = monolog, dengan hanya sedikit mempertimbangkan respon orang lain.

Yaaaa, dulu sih saya menyalahkan dunia. Yaaaaaa, namanya juga anak muda. Haahahahahahaha.

*tertawa lagi, sendirian

Abaikan yang barusan. :p

Setelah saya mengerti prinsip dasar komunikasi interpersonal yang empatik, semua pertanyaan dan permasalahan yang saya alami dalam komunikasi selesai. Selesai, seselesai-selesainya. Saya juga menjadi lebih berhati-hati lagi ketika berbicara/menulis. Bisa jadi saya bermaksud A, tapi bahasa penyampaian saya bermakna ganda dan bisa diinterpretasikan sebagai Z. Oleh karena itu pemilihan diksi, momen penyampaian, dan pembacaan atas situasi saat saya berkomunikasi saya pertimbangkan baik-baik sebelum saya melakukannya.

Dari situlah saya memahami makna ‘diplomatis’ dan ‘taktis’.

Lanjut lagi soal komunikasi: setelah memahami aspek empati dalam komunikasi, saya menyadari bahwa ada yang namanya ‘sabar’ yang harus disertakan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana? Seperti yang saya jalani ketika mengajar, saat murid tidak mengerti dengan penjelasan saya, saya langsung memutar otak untuk mencari cara lain dalam menjelaskan materi pelajaran, bukannya marah-marah ketika murid tidak mengerti. Apalagi kalau sampai memaki… Duh jauh-jauh deh dari perilaku begitu!

Saya memahami bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri dalam memahami. Setiap orang juga memiliki kurva belajarnya sendiri. Emosi ‘marah’ dalam komunikasi bisa diterapkan ketika akan ada kerugian atau marabahaya yang terjadi pada diri kita atau orang lain, dan pada kasus ketika ada hal-hal tidak diinginkan yang ingin kita cegah.

***

Saya ingin menutup tulisan kali ini dengan kutipan dari Maya Angelou, sastrawati dari Amerika Serikat:

Benar.

Orang seringkali akan lupa apa perkataan dan/atau perbuatan kita dulu. Namun ketika kita meninggalkan kesan baik atau buruk, maka kesan itulah yang akan terekam selamanya dalam benak orang lain.

Dan ‘kesan’ itu akan sampai kepada orang lain lewat ‘komunikasi’.

Ketika kita tidak mendasarkan komunikasi kita pada definisi yang ‘benar’, kesan yang kita tinggalkan mungkin tidak positif. Jejak rekam kita mungkin akan dinilai tidak positif. Dan seterusnya. Jika itu yang yang telah terjadi atau mungkin malah masih berlangsung pada diri anda hingga saat ini, mungkin pelajaran yang saya peroleh di tahun 2011 tersebut bisa bermanfaat untuk anda.

Harapan saya sederhana: semoga, kesan yang kita semua tinggalkan sejak saat ini hingga nanti adalah ‘baik dan positif’ untuk selamanya. Aamiin. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: