Bahasa Kita Menentukan Dunia Kita


“Dalam bahasa Inggris, bila saya memecahkan cangkir, bahkan bila saya tidak sengaja, maka Anda akan berkata, ‘Dia memecahkan cangkir.’ Dua hal yang berbeda, dikategorikan dalam satu kejadian yang sama secara tata bahasa. Namun, dalam bahasa Spanyol dan bahasa Jepang, niat itu penting.” Demikian ungkap Boroditsky.

“Bila seseorang sengaja memecahkan cangkir, akan ada kata kerja khusus yang menjelaskan bahwa si pelaku memang sengaja melakukannya. Tapi bila kejadian itu murni ketidaksengajaan, maka orang Spanyol akan mengatakan, ‘Cangkir itu pecah sendiri,’ ” lanjutnya.

Benarkah bahasa yang kita gunakan mempengaruhi persepsi dan cara berpikir tentang dunia?

Para ahli linguistik sudah sejak lama memperdebatkannya: Apakah benar ‘cara pandang’ yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa yang lain, menyebabkan pengguna bahasanya memandang dunia dengan cara yang berbeda? Ternyata, jawabannya, “Ya.”

Demikianlah hasil penelitian psikologi yang dilakukan oleh Lera Boroditsky yang dipublikasikan di majalah alumni Stanford, Stanford Magazine, pada tahun 2010. Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat yang terjadi antara dua budaya yang berbeda bukanlah semata karena mereka ‘ngotot’ terhadap pendapat masing-masing. Perbedaan itu ternyata bisa terjadi karena bahasa yang mereka gunakan membuat mereka melihat satu fakta yang sama sebagai dua hal yang benar-benar berbeda.

Boroditsky bukanlah ahli linguistik. Dia adalah ahli sains kognitif. Lebih tepatnya, seorang asisten profesor di bidang psikologi, neurosains, dan sistem simbolis di Stanford. Ia memfokuskan penelitiannya pada bagaimana penutur suatu bahasa berpikir, memahami, dan mengingat suatu kejadian. Salah satu hasil penelitiannya menyatakan, mekanisme penggunaan bahasa seperti bahasa Inggris yang cenderung fokus pada pelaku dari suatu kejadian tanpa melihat niatnya, menyebabkan si pelaku cenderung lebih ‘nempel’ di dalam memori penutur bahasa Inggris. Boroditsky juga menemukan sekumpulan bukti yang menarik dan kreatif bahwa bahasa tidak hanya mempengaruhi fokus penuturnya pada suatu kejadian, tapi juga mempengaruhi cara mereka mengingat kejadian dan orang, serta pada cara mereka berpikir tentang dunia di sekeliling mereka. Pengaruh-pengaruh ini dapat memberi kita pemahaman tentang konsep waktu, ruang, warna, gender, atau bahkan bagaimana konsep keadilan dari suatu budaya.

Mari kita lihat perbandingan ‘penempatan’ waktu dalam bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Penutur bahasa Inggris cenderung melihat waktu dalam bentuk bidang datar (horisontal): ‘hari-hari mendatang’ ada di ‘depan’, sementara ‘masa lalu’ ada di ‘belakang’. Namun tidak demikian dalam bahasa Mandarin. Penutur bahasa Mandarin cenderung melihat waktu secara horisontal dan juga secara vertikal. Kejadian-kejadian yang baru terjadi ‘muncul dari dalam tanah’ seperti mata air, dengan ‘masa lalu’ berada di ‘atas’, sementara ‘masa depan’ berada di ‘bawah’.

Beberapa bahasa lain mengharuskan penuturnya untuk menyertakan informasi waktu dalam setiap pembicaraan. Pada bahasa Yagua di Peru, terdapat lima bentuk kata kerja yang berbeda untuk bentuk lampau saja. Ya, lima bentuk kata kerja untuk past tense. Misalnya, kata kerja untuk kejadian yang baru terjadi, untuk kejadian yang terjadi beberapa jam lalu, untuk yang terjadi sehari sebelumnya, untuk seminggu hingga sebulan lalu, sekitar dua bulan hingga dua tahun lalu, dan untuk masa lampau hingga waktu yang tak terkira.

Bahasa Inggris tidak sedetil itu tentu saja, tapi bahasa Inggris kita ketahui menggunakan keterangan waktu di dalam kata kerjanya itu sendiri: Baru terjadi (I made dinner), sedang terjadi (I am making dinner), atau akan terjadi (I will make dinner). Akan terdengar lucu bila dalam bahasa Inggris kita mengatakan ‘I make dinner’ untuk tiga situasi tersebut, yaitu menggunakan kata kerja dasar untuk tiga keterangan waktu yang berbeda. Sementara, itulah yang terjadi dalam Bahasa Indonesia: penggunaan kata kerja dasar yang sama dengan keterangan waktu yang terpisah dari kata kerja atau berdiri sendiri. Tidak seperti bahasa Inggris, kata kerja dalam bahasa Indonesia memang tidak pernah berubah terhadap waktu. Keterangan waktu bisa ditambahkan sendiri, tanpa perlu mengubah kata kerja. Tapi apa pengaruhnya terhadap cara pandang orang Indonesia terhadap waktu?

Siswanya dari Indonesia mencoba meyakinkan Boroditsky yang skeptis bahwa penutur bahasa Indonesia tidak akan repot-repot memperhatikan waktu dalam pembicaraan mereka. Ia menantang siswanya untuk membuat penelitian di Indonesia. Boroditsky pun membuka laboratorium bahasa di sini. Dalam penelitiannya, para relawan ditunjukkan tiga foto seorang laki-laki yang menendang bola dalam urutan waktu: akan menendang bola, sedang menendang bolanya (bola menempel di kaki), dan sudah menendang bolanya (artinya bola sudah melayang menjauh). Pertanyaannya adalah, bila penutur bahasa Indonesia tidak memperhatikan waktu, maka apa yang mereka perhatikan?

Hasilnya ternyata sesuai dengan perkiraan siswa Boroditsky: penutur bahasa Indonesia tidak peduli pada waktu. Mereka cenderung menggunakan satu keterangan untuk tiga gambar tersebut, yaitu “Seorang laki-laki menendang bola.” Bahkan banyak dari relawan mengatakan bahwa ketiga foto tersebut tidak ada bedanya. Lebih jauh lagi, ketika para peneliti mencampur foto-foto dari berbagai orang yang menendang bola, para relawan cenderung melihat dua foto sebagai dua foto yang mirip ketika orang dalam foto-foto tersebut orang yang sama, walaupun tindakan menendangnya berbeda. Sementara itu, penutur bahasa Inggris akan menyebut dua foto sebagai dua foto yang mirip bila para pelaku dalam kedua foto melakukan tindakan yang sama.

Hasil penelitian ini menunjukkan, ketika ditanya tentang ‘kesamaan’, penutur bahasa Indonesia fokus pada orang, sementara penutur bahasa Inggris akan fokus pada tindakan. Dalam bahasa Indonesia secara umum, Boroditsky berkata, bila kita hendak menyatakan sesuatu dan mengungkapkannya dalam kata-kata, maka kita baru memperhatikan detil itu dan menggunakannya. Kalau tidak, ya tidak perlu.

Ruang, Warna

Sekitar sepertiga dari bahasa di dunia tidak bergantung pada konsep ‘kanan’ atau ‘kiri’. Penutur bahasa-bahasa tersebut malah menggunakan istilah yang kita sebut ‘arah absolut’: utara, selatan, barat dan timur. Jika, contohnya, Michael Jordan hendak memberikan pelatihan bola basket pada suku Aborigin Kuuk Thayoore di Australia Utara dalam bahasa mereka, maka ia harus memerintahkan para pemain untuk melakukan dribble di selatan lapangan, lalu melakukan fake ke arah timur, lari ke arah barat lapangan, kemudian lay up di sebelah barat dari ring basket.

Orientasi berdasarkan arah mata angin ini juga mempengaruhi aktivitas-aktivitas lainnya. Ketika penutur bahasa-bahasa ini diminta untuk menyusun foto dalam urutan waktu, mereka menyusunnya dari arah timur ke barat. Sementara itu, penutur bahasa Inggris cenderung melakukannya dari kiri ke kanan. Lain lagi dengan pengguna bahasa Ibrani: mereka menyusun foto-foto itu dari kanan ke kiri.

Akibat dari perbedaan dalam persepsi ruang ini sungguh mencengangkan: para penutur bahasa non-kanan-dan-kiri ini memiliki kemampuan spasial dan navigasi yang luar biasa. Bahkan anak kecil dari suku terpencil Aborigin yang Boroditsky teliti pun dengan mudah mengenali arah. Ketika Boroditsky kebingungan, anak-anak tersebut hanya menggelengkan kepala karena menganggap kemampuan navigasi Boroditsky payah dan menggandeng tangannya untuk menunjukkan cara agar terhindar dari ditelan buaya.

Kita lihat contoh lainnya: Apakah persepsi terhadap warna terhubung dengan apa yang kita sebut ‘warna’? Dalam suatu penelitian, Boroditsky membandingkan kemampuan penutur bahasa Inggris dan penutur bahasa Rusia dalam membedakan berbagai tingkatan warna biru. Bahasa Inggris tidak memiliki istilah spesifik untuk warna ‘biru’ , selain ‘biru tua’ atau ‘biru muda’, sementara bahasa Rusia memiliki label  khusus untuk berbagai gradasi warna biru.

Hasil penelitiannya pun menunjukkan hasil yang sejalan: penutur bahasa Rusia bisa mengenali berbagai warna biru yang berbeda (dan gradasi warna biru tersebut mereka anggap warna yang berbeda), bila mereka menggunakan istilah dalam bahasa Rusia. Sementara itu, penutur bahasa Inggris tidak menunjukkan sensitivitas yang sama. Padahal, dalam bahasa Inggris, ‘merah’ mereka sebut ‘red’ sementara ‘merah muda’ mereka sebut ‘pink’, atau dua warna yang berbeda. Artinya, warna biru tidak ‘sepenting’ warna merah buat penutur bahasa Inggris. Lain halnya dalam bahasa Mandarin: ‘merah’ disebut ‘hóng’ dan ‘merah muda’ disebut ‘fen hóng’. Artinya, dalam bahasa Mandarin warna merah saling terhubung, bukan dua warna yang berbeda.

Bahasa Baru, Cara Pandang Baru!

Jika satu-satunya alat yang dimiliki adalah palu, maka anda cenderung melihat masalah seperti anda melihat paku.
~Abraham Maslow

Meski banyak yang menentang hasil penelitiannya dan tidak setuju dengan cara pandangnya, hasil penelitian Boroditsky ini memberikan kita cara pandang baru bagaimana bahasa yang berbeda bisa menyebabkan perbedaan persepsi antara budaya; dan tentu saja, konflik yang sering timbul karenanya. Tidak usah jauh-jauh menilik bahasa antar-bangsa. Bahasa daerah yang berbeda di Indonesia saja ternyata memiliki perbedaan persepsi yang cukup serius.

Dengan kata lain, untuk menjembatani perbedaan persepsi yang memang ada antar penutur bahasa dan antar budaya, rasanya belajar bahasa baru yang bukan bahasa ibu kita adalah suatu pilihan yang bijak. Seperti yang teman saya katakan dalam Faster Everyday, “Learning a new language, gives us more perspectives (paradigms) to see and understand something, that perspective make us wiser, gives us another many resources in that language; this improves our intelligence. On the other side it also gives us many new friends, and most of them are open-minded, friendly and ready to understand us and be our friend. It means getting in contact with a new culture and social reality.

Jadi…, selamat melihat dunia baru! ^^

[Dimuat dalam situs RuangMuslim.com di tahun 2010 dan diperbaiki beberapa bagiannya pada 29 Januari 2014. Sumber bacaan lain ada di sini.]

Comments
6 Responses to “Bahasa Kita Menentukan Dunia Kita”
  1. Maximillian says:

    Dalam kata itu ada makna, dalam makna akan membentuk persepsi, disitu hebatnya Homo sapiens dalam mengembangkan kapasitasnya untuk tetap bertahan hidup di muka bumi. Spesies yang berada di luar kapasitas ekosistem, spesies alien.

    Kuncinya memang di linguistik dan matematika, keduanya adikarya spesies manusia.

    • sherlanova says:

      Dan bayangkan persepsi yang dimiliki poliglot (orang yang bisa berbagai bahasa) terhadap dunia…

      • Maximillian says:

        Dalam lakon Kejawen dan Zen, mereka mengajarkan bahwa bahasa adalah permainan kata, dan manusia akan cenderung berbohong saat mulai berkata. Bukan karena sengaja akan berbohong, namun persepsi yang dimaksudkan oleh pembicara bisa berbeda makna saat ditangkap oleh pendengarnya.

        Pengalaman dan pernyataan akan pengalaman itu punya esensi yang jauh berbeda, baik dari sisi pelaku, atau cuma pendengar pelaku berbagi pengalaman lewat kata.

        Maka alami saja, dan diamlah, kata para pelakon Kejawen dan Zen. Jikalaupun terpaksa berkata atau menuliskan kata, maka pastikan kita paham benar apa yang kita sampaikan.

  2. sherlanova says:

    “Pengalaman dan pernyataan akan pengalaman itu punya esensi yang jauh berbeda…”
    Setuju, Oom.😀

    Tambahan: berdasarkan pengalaman saya sendiri, karena keterbatasan pemahaman akan pengalaman yang dijalani, kata atau bahasa justru membantu diri saya untuk mengenali dan memahami ‘pengalaman’ tersebut.

    Contoh: baru tahun 2011 saya paham dan sadar secara penuh keberadaan pengalaman yang dilabeli dengan kata ‘frustasi’. Mungkin terdengar lucu. Tapi setelah bertahun-tahun mengalami keadaan frustasi berkali-kali, baru 2011 saya sadar akan perasaan tak berdaya karena upaya tak sukses-sukses yang dialami itu, semata karena mempelajari kata ‘frustasi’.

    Sederhananya: kata atau bahasa berkembang salah satunya untuk mengakomodasi pengalaman manusia serta mempermudah mereka mengenali dunia yang dijalaninya ini, dengan memberi label pada pengalaman-pengalaman universal yang dihadapi manusia/penutur bahasa.

    IMHO. CMIIW.😀

  3. Maximillian says:

    Pengalaman itu menghasilkan tacit knowledge, dan narasi adalah bentuk pengetahuan eksplisit, explicit knowledge. Keduanya bisa jadi bahan untuk belajar, manusia itu spesies cerdas, dan mungkin kita masuk kategori manusia itu tadi, soal cerdas atau tidak itu susah diukur sih ya?

    Narasi manusia bisa dari bahasa, bisa dari angka/ numerik. Angka adalah bentuk lain bahasa yang tak kalah indah. Bentuk yang lebih kompleks lagi adalah narasi suara dan warna, keduanya juga cara manusia untuk menarasikan sebuah wujud hasil pengalaman, atau bisa juga sebuah imajinasi tentang pengalaman.

    Manusia hidupnya pendek, itupun cuma melakukan 2 hal di waktu yg pendek itu, aksi dan narasi.

    Yah, manusiawi lah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: