Tukang Ramal


19 September 2010

Sewaktu SMA, saya pernah sempat dipanggil ‘tukang ramal’ oleh beberapa teman dekat saya. Sebutan itu muncul lantaran waktu itu saya sedang hobi-hobinya dengan pseudo-science yang bernama palm-reading. Dengan mudah teman saya akan mengulurkan telapak tangan mereka, lalu saya lihat garis tangannya. Mereka juga sama penasarannya dengan saya tentang membaca garis tangan itu.

Saya tidak sedang mencoba mengklaim bahwa saya bisa nerawang masa depan ketika melihat garis tangan mereka. Tak pula saya mendapat penglihatan. Waktu itu saya mencoba mempraktekkan pengetahuan yang baru saya dapat dari majalah Intisari tentang arti-arti garis tangan.

Waktu itu, tentu saja, saya belum belajar agama dengan benar. Segera setelah saya paham ilmu aqidah, saya tinggalkan semua yang bisa menjurus ke arah syirik. Termasuk segala hal yang berhubungan dengan ramal-meramal.

Anyway, kejadian itu sudah lamaa sekali terjadi (masa SMA adalah masa yang sudaaah laamaaaa sekaaliiii terjaaadiiinyaaaa). Begitu lamanya, saya sampai lupa sama sekali tentang karir pendek saya sebagai tukang ramal itu.

Saya justru diingatkan kembali dengan masa-masa itu karena sekitar dua bulan yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang teman SMA di Facebook. Namanya muncul di friend suggestion. Setelah saya dan dia terhubung, kami langsung saling menulis di wall dan berkangen-kangen ria. Dan anda tahu apa yang dia katakan pertama kali ketika kami berkangen-kangenan setelah hampir 9 tahun tidak mendengar kabar satu sama lain?

“Iya nih, Les… Gue kangen diramal sama elo.”

Krik. Krik. Krik.

Saya sampai heran. Masa-masa itu sama sekali terkubur dalam pikiran saya, sampai saya tidak ingat kalau saya pernah jadi ‘tukang ramal’ dulu.😀

Ngomong-ngomong soal ramal-meramal, saya jadi teringat pada obrolan dengan seorang kawan lewat YM beberapa waktu lalu. Peristiwa ini tidak ada hubungannya dengan ramal-meramal sih, tapi rasanya relevan untuk saya ceritakan di sini.

Begini ceritanya: Di depan kantor kawan saya ini ada sebatang pohon delima atau dikenal juga dengan nama pohon pomegranate. Anda tahu kan pohon delima seperti apa? Haha, memang tak seberapa banyak orang yang tahu pohon delima itu seperti apa; yang mereka tahu buahnya saja. Saya sendiri bisa tahu seperti apa rupa pohon delima itu karena saya pernah ke kantor kawan saya tadi beberapa kali dan diberitahu bahwa itu pohon delima.

Naah, di tengah obrolan santai ngalor-ngidul kami lewat YM, saya nyeletuk, “Kan ada pohon delima di depan?”

“Ha? Ada gitu? Yang maana?” tanyanya keheranan.

Saya malah lebih heran. Kawan saya ini, orang yang jelas-jelas sudah bekerja di sana lebih dari dua tahun, kok tidak tahu kalau ada pohon delima di depan kantornya? Bahkan pohon delima itu seperti apa, kelihatannya baru kali itu dia menyadarinya. Setelah saya beri tahu itu juga.

Lalu saya mengetik jawaban, melanjutkan obrolan di YM dengan dia. Tapi hening. Tak ada respon darinya. Ditunggu beberapa saat, tetap hening. Lah, ke mana orang ini?

Tiba-tiba dalam benak saya muncul sekelebatan gambaran kawan saya yang keluar dari ruangannya, berjalan ke depan pintu kantornya, lalu melongok ke pohon delima yang selama ini memang ada di sana tapi terabaikan.

Tak lama kemudian, dengan yakin, saya mengetik lagi, “Pasti barusan melongok keluar kan?”

Kali ini jawaban kawan saya seketika, “He? Kok bisa tahu sih?”

Dia benar-benar heran. Saya cuma senyam-senyum sendiri karena keheranan dia. Kalau ditanya bagaimana saya bisa tahu, saya juga tak bisa menjelaskannya dengan pasti, bagaimana dalam benak saya, saya melihat dia berjalan keluar sebentar dari ruangannya, lalu melongok pohon yang diperkarakan tersebut. Masa’ iya saya mau bilang ke kawan saya kalau mendapat ‘penglihatan’? Bisa disangka paranormal lagi nantinya, haha.

Tapi bila saya pikirkan lagi sekarang, sebenarnya itu logis saja kalau saya menyimpulkan dia keluar ruangan kantornya untuk menengok pohon delima itu. Kan barusan dia keheranan karena baru ngeh kalau ada pohon delima di depan kantornya. Walaupun… sebenarnya, bisa saja yang terjadi bukan itu.  Bisa saja pada jeda tadi, sebenarnya kawan saya ini sedang dipanggil bosnya. Mungkin juga dia sedang didatangi teman sekantor. Atau mungkin, dia sedang mengambil air minum.

Intinya, ada berbagai kemungkinan lain yang menyebabkan dia tak menjawab YM saya. Tapi entah bagaimana, otak saya langsung mengeluarkan kesimpulan ‘dia keluar melihat pohon delima itu’. Implikasi logis dari berbagai pilihan yang ada…. atau intuisi?

Entah. Tak tahu.

Dan mengenai keheranan kawan saya bagaimana saya bisa tahu kalau dia melongok pohon delima, saya tak bercerita apa-apa. Saya cuma menggodanya saja bahwa ‘pokoknya saya tahu’, tanpa memberitahukan rahasia saya.😀

Ngomong-ngomong soal intuisi, pernah gak sih anda mengalami hal seperti ini?

Seperti kawan saya Sra. Pernah ia ceritakan pada saya, waktu sekolah SMP atau SMA dulu (saya gak ingat persisnya yang mana), ada siswa satu sekolahnya yang terkenal bandel. Suka bolos dan nge-trek naik motor. Satu siang, dia melihat anak ini bolos dan sedang ngebut di jalan, lewat di depannya.

Di detik-detik motor si Bandel tadi lewat, tiba-tiba saja ada lompatan penglihatan di pikirannya. Dia melihat bahwa motor anak itu akan tergelincir di belokan tak jauh dari tempat teman saya berdiri dan kemudian menghantam tembok sekolahan.

Lalu, dalam keadaan terkejut, sepersekian detik kemudian ia tersadar kembali ke alam nyata. Dia masih melihat kelebatan motor dan mendengar raungan knalpot motor siswa bandel yang baru saja lewat. Dan benar saja, apa yang sebelumnya ia lihat dalam benaknya terjadi:

“Ciiiiiiiiiittttttt……… GUBRAK!!!!!”

Kita sebut apa itu? Intuisi? Indera keenam? Penglihatan batin? Atau sekedar hasil kalkulasi bawah sadar otak kita yang memperhitungkan segala variabel yang terlibat dalam satu kejadian lalu memberikan keluaran yang paling mungkin dari variabel-variabel tadi?

Dalam bukunya Blink!, Malcolm Gladwel sudah membahas tuntas tentang hal semacam ini: kemampuan berpikir tanpa berpikir. Entah bagaimana, kita kadang bisa mengetahui sesuatu akan terjadi atau sesuatu itu baik/buruk buat kita, tanpa kita sendiri tahu dari mana kita bisa tahu. Seperti yang saya alami atau teman saya Sra alami, kemampuan atau keadaan itu nyata adanya dan tidak unik terjadi pada orang-orang tertentu saja.

Atau mungkin… itu adalah para ‘penjaga’ kita ya?

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(Al Quran surat Ar-Ra’d: 11)

Allahu’alam bishowwab.

————————————————————–

(Pembahasan detail tentang pengamatan Malcolm Gladwel dapat anda pelajari di bukunya yang berjudul Blink! itu.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: