Relativitas Nilai Uang: Sebuah Kisah Pribadi

Terasiring Ubud Bali


Pengantar
: Saya iseng membuka catatan-catatan lama. Kemudian saya menemukan catatan ini, berisi cerita waktu jaman mahasiswa dan masih susah dulu, hehe. Catatan ini sudah saya publikasikan di FB tanggal 18 Nopember 2012. Saya publikasikan juga di sini, berikut komentar-komentar yang saya terima di FB…

So, please kindly enjoy!
——————

12 Juni 2005

Di tengah kuliah Geometri, di suatu siang yang tenang di ITB, saya terlibat percakapan yang seru dengan seorang teman di deretan bangku paling depan. Percakapan kami lakukan dalam bahasa Inggris karena pembicaraannya case sensitive. Paling tidak untuk kami berdua.

Siapa teman saya itu? Tidak perlu menyebut namanya di sini. Tapi dia adalah teman seangkatan saya, yang juga tetangga rumah di Tanjung Priok. Ia terkenal sangat sanguinis dan kami berdua akrab, cocok satu sama lain.

Pembicaraan kami siang itu adalah mengenai relativitas nilai uang. Awalnya dia bertanya pada saya, “Can you believe that I could spent only about 400 grand per month for my needs? But it’s beyond the expenses for room rent, 400 grand. So, totally I spend about 700-800 grand per month.”

Dan saya berkata, “Yes, I believe that. Because I experienced that too, before. With room rent that cost 125 grand per month or 1,5 millions a year, I spend 500 grand per month.”

“Wow, that’s cheap!” timpal teman saya. “Maybe because your room rent is cheap, huh?”

Ia melanjutkan, “Ok, I’ll explain my condition. One day, my father and I had a conversation. My father said that he’s broke now. He aleady retired, so he must recondition their budget in order to make everyone in this family happy. So we bargain and we agreed that I will receive 500 grand per month since then.”

Tambahnya, “Can you imagine? My room rent cost 400 grand. So I must find a way to cover my expenses every month.” Dan saya berkomentar sambil tersenyum sedikit geli, “Now you know how it feels to get money by your own, huh?”

Sambil mendengarkan, saya teringat pada diri saya sendiri sewaktu TPB. Waktu itu saya dikenal sebagai “wiraswastawati” oleh teman-teman sekelas dan kos saya. Saya mendapat julukan itu karena saya giat berjualan kue-kue di kelas selama hampir dua semester. Untungnya tidak seberapa, tapi kalau ditotal, labanya cukup untuk uang makan siang satu kali yang agak mewah buat saya.

Setelah tingkat dua, saya tidak melakukan kegiatan berjualan lagi karena: 1) saya mau istirahat dari berjualan, 2) pesaingnya sudah banyak, antara lain teman yang sedang saya ajak bicara dan teman dari himpunan, 3) saya sudah mendapat pekerjaan sebagai guru privat yang penghasilannya lebih besar daripada berjualan kue, 4) kondisi keuangan saya sudah membaik.

Saya paham betul apa yang dirasakan teman saya itu. Bagaimana rasanya? Seperti ini: Bila jam makan siang sudah tiba, saya pergi ke kantin Salman dan membeli nasi yang dibungkus, karena harganya jauh lebih murah daripada makan di tempat. Saya sudah menyiapkan sendok dari rumah. Nasi bungkus yang saya beli itu saya makan di kantin Salman juga. Saya menebalkan muka dari pandangan teman-teman dan pegawai kantin Salman. Semua itu demi penghematan!

Kalau cerita seorang kawan lain lagi. Saya mengetahui keadaannya dari tangan kedua, bukan dari orangnya langsung. Sebutlah kawan saya ini Agus. Temannya Agus bercerita bahwa satu saat mereka makan bersama di warung Indomie. Waktu mau makan, Agus dihadapkan oleh dua pilihan, mie goreng atau mie rebus. Akhirnya dia memilih mie rebus yang berkuah. Dengan begitu dia tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli minuman!

Saya tertawa geli sekali mengetahui itu. Geli padanya sekaligus geli pada diri sendiri. Tawa saya benar-benar geli tanpa ada muatan sinis. Saya tertawa lantaran melihat kelucuan dari situasi itu.

Sekarang keadaan saya sudah lebih longgar. Dulu sewaktu TPB, segala penghematan saya lakukan karena uang yang saya peroleh tiap bulan tidak cukup untuk membeli buku. Padahal saya adalah monster buku. Makanya saya menerapkan strategi itu.

Kenapa saya menceritakan ini? Ada beberapa alasan: Pertama karena saya sudah lama punya ide untuk menulis tentang ini. Kedua, karena saya membaca tulisan teman saya yang bertemakan “Relativitas Nilai Uang”. Terakhir adalah karena suatu peristiwa yang saya alami pagi ini.

Saya sedang berada di warung nasi milik Bapak Kos saya untuk membeli nasi. Saya ke situ sambil membawa tempat air minum untuk diisi ulang (biar hemat, minta air minum dari Bapak Kos). Saat berada di dalam (saya boleh masuk ke dalam untuk mengisi air minum), ada pemuda yang berbelanja di warung itu. Saya mendapati bahwa yang dia beli adalah sebungkus rokok entah merek apa, yang harganya 7200 rupiah.

Lantas di kepala saya terputarlah semua memori dan ide tentang relativitas nilai uang. Saya membandingkan harga sebungkus rokok itu dengan nasi bungkus yang baru saja saya beli. Harga nasi setengah porsi dengan gulai telur rebus dan sayur tumis dihargai 2200 rupiah. Sementara rokok seharga 7200 itu akan terbakar habis ke udara, nasi itu membantu saya mengisi hari dan memberi gizi. Sementara rokok itu membantu pemuda itu menambah penyakit bagi dirinya, orang lain, dan lingkungan (saya memang anti rokok), dengan uang 2200 rupiah perut saya kenyang pagi ini. Dengan uang 7200 pemuda itu belum tentu kenyang. Uang 7200 sendiri itu nilainya kira-kira sama dengan uang makan saya satu hari!

Anda boleh tidak percaya. Tapi di kampus saya ada yang bisa hidup dengan uang 150 sampai 200 ribu sebulan. Saya tahu persis dan dekat dengan orangnya. Sementara itu pada saat yang sama, banyak mahasiswa yang pengeluarannya sebulan di atas satu juta rupiah. Saya pun tahu orangnya. Saya tidak bermaksud menyalahkan mahasiswa yang mempunyai kelonggaran seperti itu. Saya juga tidak iri. Saya hanya berpikir-pikir betapa luar biasa nilai uang itu!

Nilai uang itu relatif, tergantung ada di tangan siapa uang itu. Nilai uang bisa sangat berharga bagi satu orang, tapi tanpa arti bagi orang lain. Mahasiswa yang punya budget 150-200 ribu sebulan itu baik-baik saja tanpa merasa kesusahan atau bagaimana. Alhamdulillah dia mendapat beasiswa sehingga dia bisa mendapat sedikit kelonggaran finansial. Rezeki bisa datang dari mana saja.

Lantas saya punya satu pertanyaan: bukankah orang-orang yang punya standar ketat terhadap ‘nilai’ uang (maksudnya serba terbatas) lebih banyak jumlahnya di negeri ini? Dan mereka tetap bisa hidup sampai saat ini; bertahan dengan keadaannya.

Hari ini, saya kembali terngiang dengan ayat, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan kau dustakan?” Sungguh, tak ada rasa lain yang bisa terungkap selain rasa syukur.

(Disunting kembali, 19 Nopember 2012)

—————————————————————————————–

Komentar yang saya terima di FB:

Rangga Ganzar Noegraha Gimana caranya share tulisan ini?
Biar anak2 ITB sekarang tahu bagaimana kerasnya perjuangan mahasiswa saat itu.😀

Sari Alessandra Eh ada Acung… Kopas aja, dengan catatan
bahwa ini ceritanya Ales dulu, haha.

Donny Reza Saya pernah bilang rada ekstrim ke istri, kira-kira:
“jangan terlalu khawatir kalau nanti memutuskan berhenti bekerja, ada yg gajinya jauh di bawah gaji kita berdua, tapi masih cukup hidup sebulan.” :-)) cuma memang gak mudah jg meyakinkan seperti itu😀
barangkali “Relativitas Nilai Uang” itu terkait dengan prinsip “Barokah”, ya?

Sari Alessandra Setuju, Kang Donny, dan juga rasa syukur. Jadi  berkah dan rasa syukur.
Saya sendiri, dengan keadaan yang lumayan stabil–karena belum berani menyebuf mapan, suka menegur diri di saat ada aja perasaan kurang. Padahal barang yang diinginkan, misalnya, merupakan barang dengan prioritas bawah. Alias gak penting-penting amat, haha.

Haii Ogi gk bisa kalau di jakarta 500rb all in, total dulu kuliah habis  700rb – 800rb. anehnya setelah kerja peningkatain pengeluaran 5 kali lipat…. bikin kepala pusing…. baca tulisan ini jadi inget kuliah, bagaimana pinter2 mengatur anggaran.

Sari Alessandra Iya, kalau di Bdg terjadi, 500 rb all-in. Dulu
tahun 2002-2005an ya. Sekarang, kalo udah kerja, godaan terbesarnya memang gaya hidup. Maksudnya gini: dengan pemasukan yang berlipat sekarang, apa-apa yang dulunya gak kepikiran untuk dibeli/dimiliki (karena belom mampu), jadi kebeli deh karena udah bisa. Biasanya kebutuhan sekunder atau tersier yang sangat mengoda.

Akhirnya kalau menurut Ales sih, kitanya yang mesti cermat menentukan prioritas finansial, hehe. *speak from my own-recent experience.

Lenggana Sukria Baru tau saya Les, ga nyangka aslinya seperti  itu. Maaf dulu ga pernah beli kuenya.😦

Klo dulu 500rb utk hidup, semoga sekarang atau nanti bisa zakat minimal 500rb, jadi sisa 97,5% lainnya bisa untuk yang laen.

Susan Fauzana Mengingatkan masa kuliah.kalau saya dulu
budget sekitar 400ribu termasuk sewa rumah.dan saya juga setuju dengan tulisan di atas dan kadang juga menyampaikan ke yang lain untuk menggambarkan 400ribu per bulan itu tidak terlalu buruk asal bisa mengaturnya,tau prioritas.dulu,salah satu pertimbangan memilih unit kegiatan unit kegiatan mahasiswa itu adalah apakah ada biaya yang dibutuhkan dan saya termasuk yang kecewa ketika kokesma tutup.sekarang pengeluaran saya per bulan sekitar 3 kali lipatnya bahkan lebih (apalagi bulan ini,ongkos padang-bandung mahal -_-)

Susan Fauzana Tapi dulu rasanya saya tidak pernah
mendiskusikannya dengan teman kuliah karena menurut saya itu isu yang lumayan sensitif dan saya ga suka dikasihani,bahkan saya berhenti mengurus beasiswa karena membuat saya mengasihani diri(apalagi pas wawancaranya) dan saya juga berpikir banyak yang lain yang jauh lebih membutuhkan.toh saya tidak kesulitan hidup dengan uang segitu.dulu pun pas masa2 sekolah sebelum kuliah,kalau ada yang nanya uang jajan berapa biasanya saya jawab dengan senyuman karena rata2 yang lain uang jajannya 3 bahkan 10 kali lipat.saya dah belajar memaklumi kondisi dari kecil,sewaktu meminta sepatu baru karena sepatu lama sudah robek.karena kesal dijanji2in terus,saya marah dan bilang orang tua pelit/bohong.sampai akhirnya dibelikan saya merasa terharu dan hampir nangis dan menyadari bahwa bukannya orang tua tidak mau,tapi memang tidak mudah untuk mengalokasikan dana untuk hal itu.sejak itu,saya berusaha untuk tidak terlalu menuntut dan memenuhi kebutuhan dengan yang ada

Prihatmaka Prihatmaka Prihatmaka dulu di Bandung
500ribuan cukup lah untuk hidup, masih ada nasi goreng kantin kokesma yang 1500an, kantin salman gak sampai 5000an, cukup itu mah, kurang lebih 6 tahun saya hidup per bulan

Gumi Gumi-nya Ayla aaaah kak Moko T_T
baguuus banget catatannya kak Alesss. Dibikin note dong, terus tagg ke saya yah….

Imas Muhimmah Afrendy saya termasuk yg sama ortu dikasih
uang terbatas dan g mau tau sebulan harus cukup, sementara aktivitas banyak dan jauh (cibiru-salman aja bisa min 2x1minggu), bersahabat dgn yg keuangannya dibawah saya dan kami beraktivitas bareng. ajaib…alhamdulillah…kami g pernah kelaparan, kesusahan, dan aktivitas lancar..malah dikit2 bisa nabung. kl orangtua saya pas ngasih uang jajan selalu bilang “semoga ini cukup, kl tidak cukup insy Allah mencukupkan”. Saya percaya, rejeki itu bukan masalah jumlahnya..tapi barakahnya (kadang saat ini keuangan sangat longgar tp sering merasa kurang kan?)

Mohammad Rahmansyah Jadi ingat jaman dulu. Tapi 2200
untuk gulai telur sama sayur mah termasuk mahal Les. Dulu aku nasi 1 plus telur ceplok plus tempe plus sayur 1700 perak. Kalo langganan sebulan cuman 90.000-an. Plus kost-an 600 rb setahun alias sebulan cuman 50 rb. Jadi sebulan paling banyak keluar 200 rb an. Itu pun udah termasuk fotokopi dan ongkos kemana2 hehe..

Sari Alessandra @Mohammad Rahmansyah: Iya. 2200 itu tahun
2005. Kalau tahun 2002an masih 1700, sudah termasuk perkedel jagung. Kosan saya 1,5 juta setahun itu karena 2 lantai, jadi barengan sama temen saya, hehe. Terakhir, sebelum saya pindah dari sana tahun 2010, masih 2,5 juta setahun.

@Lenggana: Gak apa-apa, Gana, it’s okay. Lagian Ales masih menilai diri beruntung kok, bisa dapat kiriman di atas 200 ribu sebulan–kalau mau membandingkan dengan teman yang kirimannya 150-200 rb sebulan.

Keadaan itu bisa jadi cerita sekarang, saat kondisi keuangan sudah lapang. Bisa jadi pelajaran juga, bahwa uang 100-200 ribu itu nilainya lebih dari sekedar pulsa BB aja.😀

Oh ya, kalau untuk zakat, alhamdulillah baru mencapai 1/5 yang Gana sebutin tadi. Mudah-mudahaaan, segera bisa zakat 5 kali lipatnya. Aamiin.

Arief Nugroho dulu 10-15 ribu total per hari buat makan ajah.
transport ngga keluar karena pake sepeda.
dan baru aja kemaren pas makan nasi timbel di punclut 40rb berdua rasanya murah setelah merasakan jakarta. ^_^”

Firman Malazi salah satu piilhanya adalah puasa senin kamis
……. niat ibadah sekalian ngirit / ngrit sekalian ibadah…..

Susan Fauzana kalau masak bisa irit kok,dan untungnya lagi di
Itb bertiga dengan saudara jadi bisa kontrak paviliun sekitar 3,5jt/tahun(3,5jt:12:3 jadi sekitar 100an sebulan).uang saku kalau ga salah sekitar 50ribu setiap 2 minggu untuk biaya makan di luar,ongkos transportasi(untungnya kontrakan di sekitar kebun bibit jadi masih bisa jalan kalau ga terlalu buru2/capek,ke pusdai pun masih bisa jalan),fotokopi,dll.sisanya yang 200ribu sebulan/orang dikelola sama2 untuk biaya listrik dan air bulanan,makan di rumah(masak),kebutuhan sehari2,cadangan kalau ada biaya fotokopi atau biaya perkuliahan lain yang ga tercover oleh yang 50ribu itu,dll.

Susan Fauzana Perasaan hampir tidak pernah krisis pangan
ataupun krisis keuangan(paling waktu saya dirujuk ke rs dan diperiksa macam2 sehingga uang cadangan banyak kepake dan akhirnya pulang paksa karena biaya naik terus dan tes2nya terasa makin ngawur).menu makanan pun bisa bervariasi,lengkap nasi,lauk,sayur,buah dan susu.

Sari Alessandra Ya. Bahkan dengan uang bulanan segitu, saya
bisa beli buku bacaan di luar buku kuliah, beli DVD film kadang2, bisa jalan2, bisa macam-macam. Dan betul Teh Susan, seingat saya, saya tidak pernah sampai yang kelaparan atau gak bisa makan.

Berkecukupan, singkatnya. Alhamdulillaah…🙂

Muhammad Setiawan Berkahnya harta karena bersyukur.
Mensyukuri harta dengan menjaga jangan sampai ada sepeser harta dibelanjakan untuk yang makruh apalagi yang haram.

Demikian dulu kata guru saya.

Yuk Belajar Menjadi Arif di asrama kampus, saya sekamar sama
teman yang beasiswa dari ortunya Rp.70 rb/bln, periode 2000-2004.. dia lulus lebih cepat, nyaris cum laude, duluan pula jd pengusaha.. dia juga yg bikin saya malu mau nego tambahan kiriman ke ortu yg 250 rb/bln itu.. Dan ternyata kiriman segitu sudah menjadikan saya orang “terkaya” kedua setelah ketua asrama yg dpt 500 rb/bln dari neneknya.. akhirnya memang berkah itu yg akan menjadikan berapa nilai uang kita. Tulisan bagus Les, jd bahan buat cerita ke siswa yg kalo ditanya “mau kuliah dimana?” jawab mereka “gak punya duit Pak!”

Comments
2 Responses to “Relativitas Nilai Uang: Sebuah Kisah Pribadi”
  1. riza says:

    -_-
    no wonder you put a big resistant to me.
    hey, bbrp hr yg lalu, sy sarapan d salman. 6rb. Trus pas jalan pulang, beli makanan utk d rmh,dgn utk adik,75rb. Adik sy cuma 2 loh! Sometime i had ironic experience.

    • sherlanova says:

      Really? I put big resistant back then?
      Haha, I forgot really. About what, exactly?😀

      Sekarang juga kalau saya beli makan, kadang-kadang gak berhitung dengan ‘benar’. Biasanya sih kalau lagi males masak atau memang lagi sibuk banget, jadi gak sempet masak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: