The Way You Made Me Feel


People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.
~Maya Angelou

28 Desember 2005
Gara-gara baca blognya Ikram, saya jadi inget pengalaman di bank Mandiri waktu mau buka tabungan…

Saya baru-baru ini dari Simprug. Itu loh, daerah di deket Pondok Hijau di Jakarta Selatan. Jauhnya bukan main dari Tanjung Priuk. Saya yang naik bis harus capek badan dan capek hate gara-gara nyari daerah yang namanya Simprug itu.

Udah tau jauh, ngapain ke sana?

Dulu, sewaktu SMA, saya pernah ikutan lomba menulis essai dalam acara Jakarta Book Fair. Karena menang, saya dapet hadiah berupa tabungan sebesar Rp 300,000.-. Yang mensponsori adalah Bank Mandiri, jadi tabungannya dibuat di stan Mandiri yang memang ada di pameran buku itu. Di buku tabungan tertulis ‘Bank Mandiri cabang Simprug’. Waktu itu yang terbayang dari Simprug itu adalah daerah perkantoran di seberang Senayan (maklum, belom kenal betul Jakarta waktu itu).

Setelah tahu kalo saya gak tau sama sekali Simprug itu dimana, saya bergerilya seharian di Jakarta Selatan. Nanya sana, nanya sini.

(Maklum, kita belum kenal Google Map waktu itu.–komentar 20 Sept 2010)

Ok, ok. Gak seharian dan gak di seluruh Jaksel. Di sekitar Pondok Hijau aja.

Setelah ketemu banknya, saya kuras tabungan yang tersisa, terus saya pulang.
I’m coming back home…

Sampe di Priuk, saya langsung ke bank Mandiri cabang Yos Sudarso dan buka tabungan baru. Huf, bakal aman deh uangku sekarang.

Ngapain saya mindah-mindahin rekening? Begini, Jakarta Selatan itu jauh. Sementara aktivitas saya di Priuk. Jadi saya pikir lebih baik saya mindahin tabungan. CAPEK kalo harus bolak-balik Simprug-Priuk cuma untuk ngurus tabungan.

Sesampainya di sana bank Mandiri Yos Sudarso, saya ke bagian customer service dan langsung minta formulir pembukaan rekening. Hanya perlu sekejap untuk saya terpesona.

Yang melayani saya itu seorang mbak-mbak yang berwajah manis. Wulan namanya. Matanya coklat jernih seperti batu ambar. Wajahnya mungil, kulitnya putih, orangnya ramah. Baru kali itu saya ketemu pegawai bank yang simpatiknya gak dibuat-buat sama sekali. Tulus. Keliatan kalo pribadinya memang bagus banget. Gak bosen-bosen saya memperhatikan Mbak Wulan ini (oke, saya perempuan normal dan kekaguman saya sebatas normal, oke?).

Tutur katanya lembut dan menyenangkan. Pokoknya seneng banget dilayani oleh Mbak Wulan itu. Setelah saya beres mengisi semua form dan buku tabungan saya jadi, saya pulang dengan hati lapang.

Sebulan kemudian saya baru sempat pulang ke Priuk lagi untuk ngambil kartu ATM. ATM saya baru jadi seminggu dari tanggal pembukaan rekening saya. Tapi karena saya masih kuliah di Bandung dan baru bisa pulang empat minggu setelahnya, saya baru ke Mandiri, ya empat minggu kemudian.

Masuk ke bank, saya langsung masuk ke bagian pengambilan ATM. Setelah menunggu beberapa lama, saya dipanggil. Yang melayani adalah seorang mbak yang lumayan cantik. Tapi kemudian…

“Hmmm…,” katanya, sambil nyari amplop berisi kartu ATM saya, “…udah sebulan gak diambil ya, Mbak??” nadanya menyalahkan. Saya jadi ikutan merasa bersalah. Si Mbak gak senyum sama sekali. Tapi saya tau kalo saya masih BERHAK ngambil ATM saya sebulan setelah tanggal pembuatan karena batasnya enam bulan.

“Ini, silahkan tanda tangan di sini.” Saya tanda tangan.

Dia merobek amplop ATM dan menunjukkan bagian yang ada nomor PIN saya. “Ini nomor PIN-nya,” dia menunjukkannya dengan cepat sekali dengan cuma menyorongkan tangannya trus langsung ditarik lagi. Matanya gak memandang sekalipun ke saya. Lalu si Mbak nyerahin amplop itu.

“Makasih,” kata saya. Saya berlalu dengan gondok. Tapi dalam hati saya mencoba untuk menerima bahwa mungkin suasana hati si Mbak lagi gak enak.

Fuuuuh, orang memang gak bisa diprediksi. Ternyata gak gampang untuk menemukan orang seperti Mbak Wulan yang ramah itu. Meski di bank sekaliber bank Mandiri sekalipun.

Bener ya, ternyata jadi pekerja yang berada di frontline susah-susah-gampang. Meski cuma senyum aja, kita perlu usaha keras. Apalagi kalo lagi ada masalah. Repotnyaaa. Tapi yang saya alami cuma satu itu aja. Sebelumnya saya belum pernah ketemu pagawai bank Mandiri sejutek Mbak tadi. Tapi sekalinya nemu, saya langsung merasa gak enak.

Wah, kalo SPG/teller kayak gitu semua, mana ada pelanggan yang mau datang lagi? Semoga aja enggak.

It’s the way you make me feel…

[Dimuat ulang dari blog Jejak Langkah]

Comments
One Response to “The Way You Made Me Feel”
  1. mita says:

    kenapa frontliner harus cewek?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: