Bukuku, Kakiku


Suatu siang di tahun 2000, sewaktu saya masih kelas 2 SMA, saya berjalan melewati mading sekolah seperti biasa. Tapi yang membuat siang itu tidak biasa adalah apa yang saya lihat di mading itu: sebuah selebaran Jakarta Book Fair 2000.

Di selebaran itu terdapat informasi tentang lokasi acara (Senayan, memang biasanya di sana) dan berbagai kegiatan yang diadakan di Jakarta Book Fair. Dan mata saya tertambat pada sepetak kecil informasi tentang lomba menulis essei. Topiknya tentang ‘buku’. Apapun yang kita mau ceritakan tentang buku, tulislah. Lalu kirimkan essei itu pada kami, panitia. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilaksanakan saat Book Fair berlangsung.

Hmmm, pikir saya. Gampang sekaali! Saya bisa kalau disuruh menulis ‘apa saja tentang buku’.

Pernahkah anda mendapatkan momen dimana benak kita seperti mendapat sebuah bibit kecil kebahagiaan, yang kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh diri kita, yang kemudian membuat diri kita sangaaaat bahagia? Nah, siang itu, saya mengalaminya.

Seperti mendapatkan pencerahan, saya berjalan pulang dengan langkah ringan dan segera menyusun rencana. Di dalam kepala saya mengalirlah ide-ide tentang essei yang akan saya tulis. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, lahir dengan sendirinya dan cepat! Keesokan harinya, setelah mempersiapkan diri dengan disket dan bahan tulisan, saya menyambangi rental komputer di depan sekolah. Saya menuntaskan ketikan dan segera saja saya mencetaknya. Saya fotokopi (lupa berapa kalinya) lalu saya amplopkan ke alamat panitia lomba.

Dan akhirnya saya ditelepon beberapa hari kemudian, menjelang Book Fair, dan diberitahu bahwa saya meraih juara Harapan entah 1 atau 2 (saya masih belum ingat sampai sekarang) lomba essei tersebut. Saya pun diminta hadir di acara pengumuman pengumuman dan penyerahan hadiah. Hadiahnya adalah tabungan dari sebuah bank nasional sebesar tiga ratus ribu rupiah! Wow, pikir saya… (ingat, saat itu tahun 2000 lho, nilai hadiahnya lumayan banget buat saya).

Judul essei yang saya tulis adalah “Buku Favorit Saya? Harry Potter!”

***

Bila saya mengingat-ingat momen tersebut, saya masih dapat merasakan kebahagiaan dan keajaiban yang saya rasakan saat itu: Bahagia karena saya bisa memenangkan lomba menulis pertama kalinya (saya belum pernah menulis untuk lomba sama sekali sebelumnya), merasa mendapatkan keajaiban karena segalanya berlangsung dengan sangat mudah. Maksud saya, segalanya terasa pas. Pas karena buku memang bagian dari kecintaan saya pada dunia, pas ketika saya memang sedang merasakan keajaiban dunia Harry Potter dan sangat antusias terhadapnya, dan pas sedang diadakan lomba menulis.

Bagi saya yang baru pertama kalinya ikut lomba menulis, juara harapan jelas membuat saya sangat bahagia. Tidak masalah kalau saya dikatakan ‘hanya’ meraih juara harapan. Saat itu, yang paling penting dan yang membuat saya sangat bahagia adalah fakta bahwa ide saya diterima lho! Bahwa ternyata, saya bisa menulis! Dihargai lagi! Bagaimana saya tidak makin cinta pada buku dan menulis coba? Bahkan waktu itu saya sangat optimis, bila saja saya menyempatkan diri membaca ulang ketikan saya, beberapa kesalahan ketik dan penataan paragraf bisa diperbaiki, lalu mungkiiin, saya akan mendapat juara 3 malah!😀

Tapi sayang, entah karena kecerobohan atau ketidakpedulian saya, disket berisi naskah essei itu lenyap. Kadang-kadang, timbul keinginan saya untuk memperbaiki tulisan itu dan memasangnya di blog. Namun mau bagaimana lagi? Dulu di SMA saya belum sanggup punya komputer sendiri. Saya menggunakan komputer dengan aktif baru di kampus (saya benar-benar bersyukur dengan lab Matematika; isinya bukan tabung reaksi, tapi komputer semua!). Saya baru mengenal blog di awal tahun 2005. Punya komputer pribadi juga tahun 2005. Jadi, bisa dibilang, kalaupun disket berisi naskah itu masih ada, saya tidak menjamin kalau disketnya belum rusak pada tahun 2005.🙂

***

Buku. Menulis. Dua aktivitas ini adalah hal-hal yang bikin hidup lebih hidup. Bahkan, saat saya sedang menulis kalimat ini, semangat dan rasa bahagia terus mengalir dalam diri saya. Buat saya, buku dan menulis itu sama pentingnya dengan bernapas atau makan: sudah menjadi kebutuhan pokok hidup saya. Kalau tidak ada, ‘matilah’ saya. ^^

(Tulisan tentang itu pernah dimuat di blog saya yang ini.)

Bila sedang ‘rakus’, saya bisa menghabiskan antara lima sampai sepuluh buku sebulan. Belum lagi novel fiksi atau komiknya (kalau novel sih, sehari bisa dua sampai lima buku, yang ukurannya standar dan tebalnya 450-an halaman; komik bisa habis 20-30 buku sehari kalau berseri). Tapi ada kalanya otak saya jenuh (yang artinya ‘kepenuhan’, bukan ‘bosan’) dengan buku, sehingga saya bisa melewatkan empat-lima bulan berturut-turut tanpa membaca buku. Kalaupun membaca buku, tidak akan tuntas dibaca; keburu bosan. Nah, di saat seperti ini, biasanya saya mengisi otak saya dengan nonton film. Dan ya, dengan ‘rakus’ juga, hehe…

Intinya, kegiatan ‘membaca’–dan juga ‘menulis’–itu vital buat saya. Kalau tidak membaca, otak saya ‘kelaparan’. Sementara itu, kalau tidak menulis, ide-ide di kepala saya akan membusuk dan menjadi sampah yang mengeruhkan proses berpikir saya. Dan memang sampai sebegitunya. Pikir saya, ya sudahlah, pasrah saja… ^^

Memang tepat bila dikatakan bahwa buku itu seperti kaki kita. Kaki (fisik) yang kita miliki tugasnya menopang badan kita agar kita bisa tegak berdiri. Kaki (fisik) juga bertugas melangkah, ke manapun kita hendak pergi. Buku pun demikian. Informasi, cerita, pelajaran, petunjuk, kesan, emosi yang kita dapat dari buku akan menopang pikiran dan jiwa kita; menopangnya dengan ilmu pengetahuan, yang cahayanya menerangi pikiran dan jiwa kita. Bukankah dalam kitab suci pun dikatakan bahwa perbedaan antara orang yang berilmu-pengetahuan dengan yang tidak seperti perbedaan antara orang yang berada dalam terang dan orang yang berada dalam gelap? Lalu dengan buku pula kita bisa mengetahui tempat dan hal-hal baru, dan karena itulah kita bisa punya pilihan baru untuk hidup kita, sehingga kita tidak melulu memilih tindakan yang sama, atau melangkah ke tempat yang itu-itu lagi.

Tulisan ini sendiri terinspirasi dari buku yang judul “Bukuku Kakiku” (Penerbitan Gramedia, 2004). Buku ini berisi kumpulan tulisan dari tokoh-tokoh senior di Indonesia, mulai dari dosen, agamawan, jurnalis, budayawan, pebisnis, hingga ekonom. Dari 24 orang yang menyumbangkan tulisannya untuk buku ini, hanya Ajip Rosidi, Azyumardi Azra, Fuad Hassan, Jakob Utama, Remy Silado, Rosihan Anwar, dan Yohanes Surya yang saya kenal. Yang lainnya? Blank. Meski tak kenal, saya sangat senang untuk mengetahui sejarah mereka, latar belakang kecintaan mereka terhadap buku, dan berbagai pengalaman yang pernah mereka jalani dalam hidup.

Aah… Makin cinta saya sama buku.

Salah satu tulisan yang berkesan adalah tulisan Remy Silado. Beliau menceritakan pengalamannya dengan buku sejak kecil dan perjalanan hidupnya setelah itu. Beliau pun bercerita tentang masa-masa ketika beliau masih di Semarang. Dan ceritanya membuat saya terkenang pada masa tinggal yang singkat selama empat bulan, dulu, di tahun 1996. Membuat saya ingat Ronggolawe, Simpang Lima, Peterongan, Ungaran, kompleks Undip, PPRP…

Halah! Jadi melamun saya…🙂

Comments
5 Responses to “Bukuku, Kakiku”
  1. mayuko says:

    Happy ngalong, Teh!
    Betul2! saya masi berasa pertama dapet duwit dari nulis (padahal cm cerpen ababil ecek2 di majalah Anehkan Yess!, malu rasanya haha)
    *kalo dipikir2 harta saya juga cuma buku humm..

    • sherlanova says:

      […kalo dipikir2 harta saya juga cuma buku humm..]

      Dan buku itupun tersalin ke dalam diri kita,
      yang menjadikan diri kita harta yang teramat
      berharga… ;D

      • mayuko says:

        Bener banget😀
        Kata pepatah lama ‘Book is the window of the world’ (lumayan bisa plesiran..)

        oh ya, boleh saya link blognya, Teh? You are welcome on ‘my blog’ anytime (ahah, kek ada isinya aja ^^)
        And I’ll be back!

  2. sherlanova says:

    Udah kok; sejak Mayuko komentar pertama kalinya. Liat aja di
    daftar ‘Friends’ saya di kolom sebelah kiri bawah😀

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] This post was mentioned on Twitter by wage , Sari Alessandra. Sari Alessandra said: Bukuku, Kakiku: http://wp.me/pi2BS-aG […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: