Aku Cinta Indonesia!

Selimut Tenunan Ubud

[Dimuat ulang dari blog Jejak Langkah]

6 Desember 2005
Seumur-umur, belom pernah deh berurusan dengan polisi. Bukannya takut sih, tapi belom pernah aja. Nah, tanggal 3 Desember kemaren adalah peristiwa perdana dari ‘Ales berurusan dengan polisi’. Gak sendirian sih, tapi berdua dengan Teh Yuti.

Jadi ceritanya pagi itu kami berdua abis lari bareng (acara rutin-gak-rutin setiap Sabtu pagi anak-anak Aksara Salman). Seperti biasa, saya pulang menumpang motor Teh Yuti. Karena helmnya cuma ada satu, ya saya gak pake helm. Biasanya, gak ada masalah dengan ketiadaan helm di kepala saya pas ngelewatin jalan layang dan perempatan Dago Stock Export. Tapi dasar nasibnya bakal ditilang, ada polisi pagi itu.

Teh Yuti nyetop motornya. Si Polisi yang masih keliatan muda dan baru keluar dari Akpol meminta SIM Teh Yuti. Motor itu diberhentiin di depan toko mainan di seberang DSE. Si Polisi nyebrang ke DSE, ke tempat temennya nongkrong sambil baca koran. Kita berdua pandang-pandangan. He? Kita diminta ke sana juga ya?

Yah, daripada bingung-bingung, kita ikutin aja tuh polisi ke seberang. Sampe di sana, si Polisi kelihatan pasang aksi untuk ngelama-lamain prosedur penilangan. Sambil nungguin si Polisi beres nulis nota penilangan, Teh Yuti nanya.

“Eh, aku bener gak ya ngasih SIM-nya? Yang diminta SIM motor kan? Aku punya dua SIM, SIM mobil dan SIM motor. Aku salah ngasih gak ya?”

GUBRAK!

Setengah gak percaya, saya nerangin kalo yang namanya SIM A itu SIM mobil dan SIM motor itu SIM C.

“Oh, aku baru tau,” katanya sambil cengar-cengir.

Huahahahahahahahaha….

Padahal kami berdua saat itu lagi tegang. Tapi ada aja yang membuat kami berdua senyum-senyum. Gak lama si Polisi nanya.

“Tadi mau ke mana? Kenapa gak pake helm?”

Kami bertanya-jawab seputar itu trus si Polisi ngasih nasehat kalo naek motor itu mesti pake helm semua. Kita manggut-manggut. Trus si Polisi bilang nanya, “Tanggal 7 bisa sidang?”

“He? Tanggal 7?”

Tanpa tanda apa-apa, si Polisi kedua yang lagi baca koran nyeletuk dengan sok, “Udah, tanggal 14 aja. Biar lama sekalian!”

Teh Yuti motong, “Pak bisa cara cepet gak?”

“Cara cepet? Gini aja deh, punya 25 ribu gak?”

“Eh, 20 aja ya, Pak. Baru abis bulan nih, jadi cuma punya 20 ribu.”

“Ya udah.”

Uang dua puluh ribu itupun berpindah tangan. Gak lama, satu orang polisi datang naek motor (jadi, totalnya ada tiga polisi di situ). Dia berwajah lebih ramah daripada dua orang sebelumnya. Dia nanya tentang kenapa Sabuga keliatan macet. “Emangnya ada acara apa?”, tanya Pak Polisi yang ramah ini.

Weleh, mana kita tau! Kami jawab seadanya aja. Trus pas kami mau pulang, kami berdua bingung. Karena abis ditilang, Teh Yuti dan saya bingung apa saya harus naik angkot atau ikut motor Teh Yuti aja. Tapi Pak polisinya bilang, kita berdua boleh naek motor kok. “Kalo ada yang nilang lagi, bilang aja udah ditilang di sini (sama polisi-polisi itu maksudnya).”

Ya sudah, kami berdua melanjutkan perjalanan. Dalam pikiran ini, berkecamuk berbagai pikiran. Mulai dari kenyataan pahit yang harus kami berdua hadapi (ditilang), sampai fakta bahwa kebanyakan polisi masih menganggap semua orang harus dihadapi dengan sok dan garang, hanya karena kesalahan sederhana. Tidak ada keramahan di sana.

Aku Cinta Indonesia!

[Sinis banget yak?]

Comments
One Response to “Aku Cinta Indonesia!”
  1. Lucky - Nino says:

    wahaha.. pantesan polisi2 pada buncit ya perutnya…

    Lucky – Nino..
    (numpang baca ya..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: