Balada Toilet Duduk


Tadi pagi saya menyempatkan diri berkunjung ke toilet wanita di Tony ‘n Jacks Kelapa Gading. Pikir saya, “Mampir bentar ah, mumpung mobil travelnya belum datang.”

Tentu saja anda tidak berpikir saya mengatakan ‘berkunjung ke toilet’ secara harfiah berarti ‘bertamu’ kan? Saya yakin anda mengerti maksudnya.:mrgreen:

 

Hadoooh... Jangan dipotret dong! Kan eke malu...

 

Ketika saya sudah masuk ke dalam bilik toilet dan tinggal berdua saja dengan toilet tersebut, saya melihat apa yang terjadi pada dudukan toilet itu. Kasihan deh melihatnya.  Dudukan yang terbuat dari plastik itu lecet-lecet dan berwarna coklat, persis di sisi kiri dan kanannya, akibat terlalu sering diinjak.

Ya itulah… Banyak yang tidak tahu cara menggunakan toilet duduk dengan benar. Kalaupun tahu, sebagian orang belum merasa ‘aman’ untuk menggunakan toilet duduk. Ya bayangkan saja, bekas bokong orang kita duduki lagi. Nyaman gak tuh?😀

Akibatnya, ya itu tadi. Toilet duduk yang dijongkoki yang menjadi korban. Terutama dudukannya. Padahal, kalau mau sedikit bersimpati dan repot, angkat saja dudukan itu, dan jongkoklah di atas bibir toilet yang keras dan terbuat dari keramik.

Artinya, sebagian orang Indonesia memang tidak siap untuk menggunakan toilet duduk. Mentalnya masih mental toilet jongkok. Dan apakah itu dikarenakan IQ-nya juga jongkok? Hoooo, itu sama sekali tidak ada hubungannya, sodara-sodara!😉

 

Kalau petunjuk di toiletnya begini, mungkin banyak dudukan toilet yang akan 'selamat'. Mungkiiin ya, hehehe... (Lihat yang kanan bawah. Gambar itu berkata lebih banyak daripada "Dilarang kencing di sini, kecuali Gukguk.")

 

Tapi ini tidak terjadi di semua tempat kok. Apabila anda berkunjung ke mall yang memang segmen pengunjungnya dari kalangan menengah-atas, yang toilet duduknya mewah dan wangi, dengan petugas kebersihan yang selalu sigap membersihkan, kasus dudukan-toilet-yang-malang tidak akan anda temui di situ. Apakah karena petugasnya canggih banget kerjanya? Tidak juga. Sebagian besar para penggunanya memang ‘beradab’ dan tahu cara menggunakannya.

Pada dasarnya saya tidak sekedar prihatin dengan dudukan toilet. Ada hal tersirat yang disimbolkan oleh dudukan-toilet-merana tadi. Melihat toilet duduk yang tidak digunakan dengan semestinya, saya jadi berpikir tentang kesenjangan yang terjadi antara fasilitas umum yang tersedia dengan perilaku dan latar belakang (sebut saja: budaya, intelektualitas, atau yang lainnya) dari penggunanya. Sebagian besar penduduk kota besar, meskipun sudah disebut ‘penduduk kota besar’, ternyata tidak mengadopsi (atau mungkin memang belum mampu beli) toilet duduk. Begitu dihadapkan pada kenyataan bahwa di mall atau di restoran-restoran tertentu toiletnya adalah toilet duduk, ya mau tidak mau mereka menggunakannya. Padahal, kalau saja mereka-mereka yang belum biasa menggunakan toilet duduk mau jujur, mereka akan mengalami kegamangan dan sedikit ketidaknyamanan ketika harus menggunakannya.

Tapi ya gimana mau protes, yang ada hanya itu toh?

Memang di mana sih masalahnya? Masalahnya ada di budaya penggunaan jamban mayoritas orang Indonesia. Budayanya belum sepenuhnya cocok dengan fasilitas yang tersedia di tempat umum tertentu. Standar yang dipakai di tempat tertentu itu adalah standar tertinggi yang bisa diterapkan, terlepas dari siap-tidaknya para (calon) pengguna toiletnya. Jadi, yang di rumahnya menggunakan toilet jongkok, terpaksa belajar dengan tiba-tiba (yaitu ketika pertama kalinya mereka masuk ke kamar mandi dengan toilet duduk, dan ragu-ragu menatap dudukan toilet, sambil berpikir, “Bersih tidak ya? Kan bekas pantat orang…”).

Penempatan fasilitasnya tanpa pandang bulu. Dipukul rata saja, nampaknya.

Maunya sih terlihat keren dan meng-internasional. Tapi yang terlihat malah kesan latahnya. Latah dan ikut-ikutan.

Padahal, menurut saya, fasilitas umum yang baik itu adalah fasilitas yang mengakomodasi para (calon) penggunanya. Kenyataannya berkata sebaliknya kan? Itulah yang membuat saya miris. Seringkali suatu penerapan suatu ide atau kebijakan terutama yang berkaitan dengan publik tidak diiringi dengan survey sosial dan sosialisasi yang tepat. Atau malah tidak ada upaya untuk itu sama sekali. Sederhananya: kurang atau malah tidak tepat sasaran. Termasuk masalah penggunaan toilet duduk ini. Apa tidak pernah terpikir oleh pemasang toilet duduk itu, bahwa tidak semua pengunjung fasilitas umum siap menggunakannya?

Tapi saya salut juga melihat ada mall-mall mewah yang menyediakan toilet jongkok di kamar mandinya, untuk mengakomodir orang-orang yang tidak biasa menggunakan toilet duduk. Yang biasa menggunakan toilet jongkok senang, pengelola gedungnya juga senang, lantaran dudukan toilet-duduknya aman sentosa dari injakan kaki orang-orang.

Maksudnya, pengguna toilet jongkok mana sih yang tidak gamang dengan teknologi toilet duduk, yang kadang-kadang memang ajaib banget? Siapa yang tidak butuh waktu, paling tidak, 5 menit untuk memandangi toilet, untuk mencari-cari tuas flush kalau bentuknya tidak jelas? Belum lagi masalah ceboknya. Kan banyak tuh, toilet yang cuma menyediakan tisu untuk membersihkan lubang anus. Yang lebih ajaib lagi adalah beberapa toilet jongkok yang menyediakan tisu untuk bebersih, bukannya ember air dan gayung atau sprayer berselang. Padahal kan, kalau habis jongkok, enaknya mencari gayung dan air toh?

Well, yang saya alami sih begitu. Tidak tahu ya kalau anda.:mrgreen:

Jadi, selamat bertoilet-duduk-ria deh!😀

(Sumber foto: Internet)

Comments
9 Responses to “Balada Toilet Duduk”
  1. Maximillian says:

    Memang begitulah adanya. Banyak pelosok desa di pegunungan yang masih menggunakan jamban ( buka/ tutup) dan ATM ( anjungan tokai mandiri) yang metodenya “plunk lap” ( Nyemplung langsung dilap).

    Ini, soal peradaban. Saya diketawakan dan dianggap utopis pas dulu mahasiswa bilang soal, “Kita membangun peradaban. Soal membangun bangsa dan negara, itu adalah urusan yang megaloman hiperbolik buat manusia yang belum punya instrumen. Peradaban itu dimulai dari kita, manusia yang beradab, lalu lingkungan yang beradab, berbudaya…”. Jadi, belum tentu sebuah komunitas dalam sebuah negara itu beradab, akan tetapi, sebuah komunitas yang beradab, cenderung akan membentuk negara.

    Ini, soal membangun Peradaban Indonesia….

  2. sherlanova says:

    Ahahahahahaha…(LOL)

    ATM?? Hahaha.

    Yah, kalau istilahnya ‘peradaban’, banyak
    orang akan melihatnya sebagai sesuatu
    yang di awang-awang. Banyak orang, perlu
    mendapat penjelasan yang sederhana, yang
    langsung masuk ke otak bawah sadarnya.
    Banyak orang, tidak mengerti makna ‘beradab’…😀

  3. purnaning says:

    wah-wah untuk petunjuk penggunaan toilet duduk segitu lengkapnya ya, yang kreatif pemakai toilet di indonesia atau yang buat papan petunjuk.

  4. mita says:

    setau aku, yang begitu itu karena dia jijik pake toilet duduk, secara yang kulitnya nempel langsung ke toilet kan banyak… apalagi kalo toiletnya g ada petugas kebersihannya…makanya banyak yang lebih suka kalo toilet umum mah yang jongkok ajaa…

    *blogwalking di ales :)) haha, ini blog taun berapaaa cobaaa

  5. syamsul says:

    He…He…he….begitulah masyarakat kita, apalagi kalo nge”flush”nya tidak tuntas, bisa dibayangin betapa asoinya pemandangan di-“mulut” closed, jadi ndak nafsu lagi mau “nongkrong”. mendingan di”upload” dirumah ajah…..

  6. eko says:

    kalau jongkok doang sih masih belum apa apa, pengalaman kerja di mall, waktu sidak, masak ada wc jongkok yang ee nya terbalik posisinya dan tidak disiram, atau ada urinoir buat pipis di pakai ee, sampai geleng-geleng kepala, kasian juga cleaning servicenya

  7. Mantab Tipsnya…
    Sangat aman, dan tidak terlalu berat untuk di jalankan..
    Salam kenal mas…🙂

  8. JellyGamat says:

    wah, jadi keinget pengalaman pertama pakai toilt duduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: