Berhentilah Menolak Rezeki


Hari itu adalah Sabtu pagi. Pagi yang tenang untuk ukuran kota Jakarta. Lalu lintas lancar dan terkendali. Saya sendiri sedang menikmati semilir angin yang mengalir dari jendela bis yang terbuka, dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Dalam bis sudah ada seorang pengamen. Dia dendangkan lagu-lagi pamungkasnya. Meski kualitas suara dan iramanya jauh dari artis aslinya, paling tidak, lagunya enak didengar. Tidak sampai membuat orang menutup telinga karena kesakitan.

Begitu pengamen itu selesai bernyanyi, dia menutup penampilannya dengan segala puja dan puji serta harapan, diikuti oleh prosedur standar mengeluarkan topinya (atau bungkus permen bekas, biasanya) untuk menampung uang receh.

Mulailah dia menyodorkan topi ke barisan pertama. Nol. Selanjutnya? Nihil. Baris ketiga? Ada satu. Selanjutnya? Nda’ ado.

Tampaknya, pagi ini tidak banyak yang merasa terhibur olehnya.

Saya memperhatikan pengamen tersebut sedikit demi sedikit mendekati baris tengah. Kenapa saya begitu perhatian? Karena saya sendiri sudah menyiapkan uang untuk diberikan padanya. Sedang menunggu giliran, ceritanya. Dan saya melihat ada seorang Mbak di baris sebelah kiri saya sedang menyiapkan beberapa koin lumayan banyak untuk diberikan.

Namun apa yang terjadi? Begitu pengamen tersebut sudah ada di dekat Mbak itu dan melihat Mbak itu mengeluarkan uangnya, dia berkata, “Sudahlah, Bapak, Ibu… Simpan saja semua uang Anda-Anda iTU. Saya tidak buTUH uang Anda… Saya memang orang keCIL, Bapak Ibu.. Tapi tidak perlulah Anda seMUA…bla…bla…bla…” dengan penekanan pada suku kata tertentu.

Sisa omongannya tidak saya perhatikan lagi. Sambil mengomel panjang-pendek, dia menyudahi penampilannya dan berjalan cepat ke bagian belakang bis, tanpa menyodorkan topinya kembali.

Saya bengong. Bahkan saya bisa melihat Mbak itupun bingung. Kenapa orang ini? Dari tadi dia tidak diberi ketika meminta, terlihat dari wajahnya yang kecewa ketika meminta di baris-baris depan. Tapi begitu dia sudah hampir sampai ke dekat orang yang mau memberi, dia malah menyerah, tepat ketika orang yang memberi ada di depan hidungnya.

Kok begitu ya?

***

Katanya, perbedaan yang kaya dan yang miskin itu terletak pada sikap. Apalagi, di berbagai buku-buku pengembangan diri dan bisnis, para penulis dan tokoh suksesnya berkata demikian berulang-ulang.

Oke, itu memang terdengar tidak adil. Sebelumnya pun saya tidak percaya bahwa perbedaan antara orang yang kaya (atau akan jadi orang kaya) dan yang miskin (atau tetap demikian) sesederhana itu.  Memangnya kaya atau miskin bukan ditentukan oleh hasil doa, perencanaan, dan kerja keras ya?

Pengalaman yang saya temui di bis kota tadi berkata lain. Ternyata doa, rencana, dan kerja keras tidak cukup.

Pengamen tadi telah ditolak oleh, paling tidak, oleh hampir separuh penumpang bis yang ada di bagian depan. Ditolaknya dalam artian tidak diberi uang. Maka ketika ada yang akhirnya hendak memberi, mungkin karena merasa kecewa akibat penolakan sebelumnya, dia bersikap negatif dan akhirnya menolak uang yang baru saja akan diberikan padanya.

Dia yang menolak.

Padahal, setelah Mbak tadi kan ada saya yang sudah menyiapkan uang. Dan mungkin setelah saya, di barisan di belakang saya, sudah ada orang lain yang juga mau memberi.

Tanpa sadar, dia telah menolak rezekinya sendiri. Mungkin tidak hanya satu. Mungkin malah banyak.

Pengalaman ini telah membuka mata saya, bahwa sikap memang menentukan orang itu akan menjadi kaya atau tetap miskin. Contoh ini begitu jelasnya menjawab semua pertanyaan saya, bagaimana sikap kita bisa menentukan besarnya nilai rezeki yang akan kita terima (bahkan apakah kita akan menerima atau tidak). Semua pelajaran tentang rasa syukur dan sikap positif yang mengawali kehidupan sejahtera, ada di situ.

Ternyata, cara menerima pun penting. Terutama menerima rezeki.

Dan sikaplah yang menentukan bagaimana cara itu kita lakukan.

Apakah pengamen tadi tidak bekerja keras? Dia sudah bekerja keras. Menebalkan muka setiap hari, bernyanyi di hadapan orang tidak dikenal, dengan resiko dicemooh oleh penumpang meskipun hanya dalam hati mereka saja (terutama ketika suaranya memang bikin sakit telinga), bukan perkara yang mudah dilakukan. Tidak semua orang tahan lho menjalani keseharian yang demikian. Harus orang yang benar-benar tahan banting (atau memang kepepet) yang bisa menjalaninya. Jadi saya yakin bahwa dia sudah bekerja keras.

Apakah tidak ada yang menghargai kerja kerasnya? Ada kok. Tapi dia tidak bisa berharap setiap orang akan menyukai lagu-lagu yang dinyanyikannya kan? Siapa tahu saja pagi itu kebanyakan penumpang adalah penggemar dangdut yang fanatik.:mrgreen:

Yang dia perlukan hanyalah keyakinan bahwa usahanya tidak sia-sia. Bahwa ada yang  melihat upaya dan jerih payahnya. Bukan patah arang, apalagi kalah sebelum perang. Namun dia akhirnya dia memilih untuk patah arang, terhadap Mbak tadi dan terhadap semua penumpang setelahnya. Dengan yakinnya, dia menganggap bahwa semua penumpang tidak murah hati. Dia tidak tahu dan tidak mau mencari tahu apakah masih ada orang yang akan memberi uang padanya.

Jadi mungkin, sampai saat ini, kehidupan sebagian dari kita belum berubah bukan karena doanya kurang kencang. Bukan pula karena rencananya kurang matang, apalagi karena kerja kerasnya kurang. Dan mungkin juga, bukan karena tidak ada yang menghargai jerih payah kita. Mungkin, kehidupan kita belum berubah, karena tanpa sadar, setelah kita bedoa, berencana, dan bekerja keras, kita malah menolak rezeki kita sendiri…😐

Allahu’alambhissowwab.

Comments
10 Responses to “Berhentilah Menolak Rezeki”
  1. Donny Reza says:

    Kesimpulannya: kita tahu kenapa dia tetap mengamen dan ‘miskin’ … eh😀

  2. alfare says:

    Percaya akan datangnya rezeki itu yang disebut tawakal kan? Memang situasi masyarakat zaman sekarang udah sedemikian ke-twisted-nya sehingga orang kebanyakan cenderung susah berpikir jernih lagi.

    Thanks for the share, Ales.

  3. ikhwan says:

    waw! sikap adalah manifestasi pengambilan keputusan dalam waktu yang sangat singkat. bahkan,hanya dalam kejapan mata. ingat apa kata Malcolm Gladwell dalam “blink”? dan pengambilan keputusan secepat kedipan mata itulah yang ikut menentukan hasil…

    trims,mbak. inspirasi pagi,nih.

    • sherlanova says:

      Alhamdulillah, senang bisa berbagi inspirasi.

      Kalau boleh saya jelaskan sedikit, pelajaran yang saya dapat
      pagi itu di bis bisa dibilang sebuah ‘jawaban’ atas pertanyaan
      dan olah pikir saya tentang proses ‘rezeki’ itu. Jadi, begitu melihat
      pengamen yang ngedumel, di kepala saya langsung terjadi
      proses “Aha!”

      Dalam buku “Blink!” juga (seingat saya) pernah diceritakan tentang
      orang yang bisa ‘menebak’ apa yang terjadi dari laporan bisnis, semata
      karena dia sudah membaca ratusan laporan bisnis. Lalu dia bisa memprediksi
      atau bertindak langsung ‘sekejap mata’. Secara bawah sadar, sebenarnya
      orang ini sudah mengenali polanya.

      Artinya, tindakan yang kita ambil sekarang sebagian merupakan manifestasi
      kebiasaan kita, termasuk pilihan-pilihan yang biasa kita ambil. Jadi benar
      kalau ada yang bilang bahwa kesuksesan (dan kegagalan juga, sayangnya)
      adalah akumulasi dari ‘tindakan-tindakan sukses’ yang kecil, atau sebutlah
      dengan ‘kebiasaan-kebiasaan sukses’.

      SemangKa!

  4. euis asriani says:

    Mantap Les pelajarannya..

  5. ikhwan says:

    ada juga kalau udah marah2 gitu menghina2 penumpang…tak sosial dsb…bgtu diliat malah ngebentak..padahal mo dkasi duit…nasib nasib….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: