Jagalah Milik Orang Lain


Dinda sudah beberapa waktu ini resah. Cobaan itu datang ke dalam rumah tangganya.

Seorang akhawat dengan terang-terangan mendekati suaminya.

Maklum, suaminya adalah laki-laki ‘sejuta umat’: disukai banyak orang, terutama sekali para akhawat. Profesi suaminya di bidang penyiaran, dengan pembawaannya yang menarik, suara yang enak didengar, plus perawakannya yang gagah, tentu membuatnya menjadi sosok idaman wanita.

Dinda kenal dengan akhawat yang mendekati suaminya ini. Dia sudah pernah datang ke rumah sebelumnya. Seharusnya tidak mengkhawatirkan toh? Dia sudah pernah ke rumah kan? Berarti akhawat ini sudah tahu dong bahwa suaminya jelas-jelas sudah punya istri, yaitu Dinda sendiri.

Tapi itu tidak menghentikan akhawat tersebut.

Terlalu paranoidkah Dinda?

Kalau begitu kita lihat apa yang akhawat itu lakukan hampir setiap hari:

Akhawat ini rajin sekali datang ke tempat kerja suaminya Dinda. Ada saja yang dibawanya. Ya makanan, ya cemilan. Dan itu diberikan khusus untuk suami Dinda. Belum lagi dengan panggilan khusus yang diberikan akhawat tersebut untuk suami Dinda. Ketika semua orang, termasuk rekan kerja suami Dinda tersebut memanggilnya ‘Kang’, akhawat ini memanggilnya dengan ‘Abang’.

Belum lagi baru-baru ini terdengar kabar bahwa akhawat itu hendak ke Jawa Tengah. Katanya sih, mau cari kerja di sana. Yang membuat Dinda makin resah, suaminya juga sedang ditugaskan ke Jawa Tengah!

Dinda sudah pernah menanyakan perihal ini pada suaminya. Karena cinta Dinda pada suaminya, karena sayangnya, karena cemburunya Dinda pada akhawat itu, Dinda bertanya. Tapi suaminya menegaskan berkali-kali bahwa dia hanya menganggap akhawat itu sebagai adik. Apa yang semula diniatkan Dinda sebagai upaya konfirmasi, akhirnya berujung pada pertengkaran.

Sebagai wanita yang halus perasaannya, Dinda teramat sedih. Dia berpikir, memang suaminya menganggap akhawat itu adik, sekarang. Setidaknya sampai saat ini. Tapi tidakkah pernah terpikir oleh suaminya bahwa peribahasa ‘sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’ adalah sebuah kebenaran sederhana yang sering luput dari pertimbangan banyak orang? Tidakkah terpikir oleh suaminya bahwa apa yang sekarang dianggap ‘bukan apa-apa’ bisa menjadi ‘apa-apa’?

Terlalu paranoidkah Dinda?

Ya Allah, tolonglah aku…. Tolonglah aku!

***

Catatan:

akhawat
Secara harfiah istilah ini berarti ‘saudara perempuan’. Pada prakteknya, istilah ini mengalami penyempitan makna ketika digunakan untuk menyebut semua wanita berjilbab rapi dan lebar, yang aktif di kegiatan-kegiatan kerohanian mesjid.

Comments
6 Responses to “Jagalah Milik Orang Lain”
  1. yuti says:

    konsep adik2an yang bukan sedarah mah udah bikin masalah les

    • sherlanova says:

      Ya itulah, teh.
      Saya malah heran, kok suami
      bu Dinda itu naif banget ya?
      Mungkin memang dia seneng
      diperhatiin sama perempuan itu
      kali ya?

  2. Joe says:

    Les, pake teknik pembuktian di matematik aja..
    Let suppose there exists another ikhwan who treats Dinda with the similar treatment as the akhawat does.. how would Abang react?

    klo gw sih mikirnya, dalam pernikahan ato hubungan antar 2 manusia dalam satu ikatan, mereka harus selalu menjaga perasaan pasangannya.. salah satu caranya, ya berempati dan menghormati pasangannya pada saat ada kekhawatiran2 tertentu..

    • sherlanova says:

      Hahaha….
      Emang udah mikir gitu. Tapi gimana
      caranya? Dinda ini adalah temen dari
      temen akrab saya. Jelaslah temen akrab
      saya gak mungkin ngasih identitas Dinda
      sebenarnya. Temen memang diminta
      sama Dinda untuk ‘mencoba’ ngomong
      ke suaminya Dinda (temen ini kenal dengan
      kedua suami istri ini).

      Atau….
      Kita coba cara ala Parker Pyne-nya Agatha
      Christie, yang buka biro konsultasi. Begini
      iklannya:
      “Apakah anda tidak bahagia? Kalau begitu,
      mintalah nasihat Parker Pyne, Richmond
      Street 17.”

  3. alfare says:

    Karena laki-laki emang bisa bersikap sedemikian bego, mungkin ada baiknya mbak Dinda ini ngejalasn lagi pada suami tentang gimana perhatian dari perempuan lain ini membuat dirinya tak nyaman, resah, cemburu dsb. Mbak Dinda pada waktu yang sama juga mesti menyampaikan secara jelas apa-apa yang akan dilakukannya seandainya perhatian dari perempuan itu masih terus berlanjut. Apa-apa yang dikatakannya itu mesti sungguh-sungguh dilaksanakan selama si suami belum menegaskan juga pada si perempuan tentang perbedaan keadaan mereka sesudah menikah.

    Situasi ini saat enggak baik karena dapat memicu fitnah.

  4. euis asriani says:

    alehandro pakabar?mau nimbrung …sepakat dengan beberapa komen sebelumnya, selebihnya mbak dinda tinggal tawakkal, tak ada yang bisa terjadi tanpa izin Allah. Semakin mbak dinda bersabar semakin berpahala..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: