Cat’s Issues


Ternyata, kucing pun punya kehidupan sosial yang menarik.

Hoaaeeemm...

Dan saya baru menyadarinya belakangan ini. Yaah…, sekitar… dua-tiga tahun terakhir lah!

Contohnya siang ini.

Saya sedang nongkrong di samping rumah, di tempat mencuci. Salah satu kucing yang ada di rumah, si Gendut-Hitam-Putih (jujur saja, kami tidak repot-repot menamai kucing generasi terbaru–apapun maksudnya itu, nanti dijelaskan), sedang tidur siang dengan nyaman di samping bak penampungan air ledeng. Bak cuci yang sedang saya urus, cuma berjarak 30 senti dari kepalanya. Bunyi cipratan air, baju direndam, dan ember digeser? Gak bereaksi juga. Bahkan ketika saya air cucian sedikit tumpah di dekat kepalanya, dia tetap cuek. Tidak gentar. Padahal kucing kan terkenal dengan anti-airnya.

Capek mengusili, saya melanjutkan kegiatan saya. Dan karena saya menghargai privasinya, saya berusaha supaya cipratan air jatuh sejauh mungkin dari kepalanya. Ini kucing tetep adem-ayem, apapun yang terjadi pada saya.

Deuuu, enak bener tidurnya?

Sekitar satu menit kemudian, terdengar teriakan kucing dari kejauhan. Nampaknya, ada kucing  yang sedang terlibat sengketa.

Tiba-tiba telinga kirinya bergerak. Telinganya menjadi waspada.

Teriakan berlanjut.

Entah lagi musuhan, entah lagi marahan. *Eh, sama aja ya? Hehe...

Dengan cepat, si Gendut-Hitam-Putih bangun. Dia langsung duduk tegak di atas tutup bak. Kedua telinganya telah terpasang. Dia menatap tajam ke arah gerbang samping. Lalu–wuuuss!

Komentator: “Dia melompat! Dan–YAAK! Dia berlari dengan cepat ke arah gerbaang! Lalu dia penasaran! Dan dia melongok lewat bawah pagar. Dan–OOOOOWH! Dia melihat apa yang sedang terjadi di luar, sodara-sodara! Akhirnyaa!!!”

Saya geleng-geleng kepala. Dalam hati saya ngomel, Yeeee! Giliran ada yang berantem aja… Langsung deh! Sakit hati saya, karena ternyata citra saya di mata kucing tidak semenakutkan dulu, hehe…😀

Kucing yang satu ini memang lumayan cuek dan pede. Plus tidak tahu malu. Dia tidak terlihat punya rasa sungkan pada manusia. Tidur ya tidur saja di manapun dia suka. Apapun posenya (dan sayang, saya tidak punya dokumentasinya, hehe..). Sudah begitu, dia adalah satu-satunya kucing dari generasi terbaru di rumah kami yang berani nyelonong ke dapur, melompat ke meja kompor (bahkan meja makan!), kapanpun dia melihat kesempatan.

Ngomong-ngomong soal ‘generasi-terbaru’, saya akan cerita sedikit soal silsilah kucing di rumah kami.

Keluarga kami bukanlah pemelihara kucing. Kucing-kucing yang ada di rumah bukanlah peliharaan kami. Mereka sebenarnya adalah kucing liar yang akhirnya mengalami proses domestikasi di rumah kami, lantaran kami sering memberi mereka makan.

Tidak semua kucing liar yang mampir ke rumah kami akhirnya menetap. Hanya beberapa ekor saja. Kadang bertambah, kadang berkurang. Bila kucing baru itu punya sikap yang dianggap cukup beradab oleh kucing lainnya di rumah kami, maka diterimalah ia sebagai anggota keluarga baru. Bila tidak, ya mohon maaf. Kamar sudah penuh.

(Dan kalau sudah terlalu banyak, kadang kami membuang mereka jauh dari rumah. Kenapa harus jauh? Karena kucing bisa menemukan kembali tempat tinggalnya, walaupun dibuang jauh… Pengalaman.)

Di tahun 2000, ada seekor kucing yang kami panggil ‘Nenek’. Dia betina, terlihat dari belangnya yang tiga: putih, oranye, dan hitam. Nah, si Nenek punya anak perempuan, yang kami panggil ‘Emak’. Belangnya sama, tiga juga: putih, oranye, hitam. Tapi beda corak. Emak melahirkan lima ekor bayi. Tapi hanya dua yang bertahan hingga dewasa. Itulah generasi yang cukup bertahan lama di rumah kami.

Emak sempat beranak beberapa kali, entah kucing jantan mana yang bertanggung-jawab. Yang jelas, ketika Nenek sudah meninggal, kemudian Emak juga meninggal, tinggal dua anak Emak yang bertahan, si Putih dan si Belang (a.k.a si Manis).

Kena, lo!

Lalu datang dan pergilah beberapa kucing. Ada yang cuma datang saat makan pagi atau makan sore saja. Ada yang datang seminggu dua kali. Ada juga yang akhirnya menetap. Ada juga yang kami temukan, kemudian kami tampung karena kasihan. Hingga akhirnya Emak menjadi Nenek yang baru, lalu meninggal, dan si Belang kemudian meninggal juga tahun kemarin.

Generasi terbaru kucing di rumah kami masih keturunan Nenek juga. Ada satu ekor kucing betina. Sekarang dialah yang kami panggil Emak. Masih dengan ciri khas genetik Nenek yang pertama: belang tiga, putih, oranye, hitam. Anaknya dua, jantan semua. Dan kali ini tidak ada yang mewarisi karakteristik Emak. Yang satu belang putih-kuning. Yang satu lagi belang putih-abu dengan sedikit kuning di daerah kepala.

Selain Emak yang baru dan dua anaknya, ada si Gendut-Hitam-Putih. Ada juga si Hitam-Ekor-Panjang-Kaki-Putih. Jadi resminya, ada lima kucing yang menjadi penghuni halaman samping rumah kami. Mereka cukup akur satu sama lain.

Kadang datang kucing jantan bermata biru dengan bulu Putih-Dan-Sedikit-Oranye-Di-Sana-Sini. Kadang datang kucing gendut dan jantan Belang-Abu-Putih-Dan-Sebelah-Mata-Buta. Mereka datang sesekali, saat makan pagi atau sore. Atau kapanpun mereka sedang di dekat rumah. Tapi kucing di rumah kami tidak mau menerima mereka nampaknya.

Hhhhh…, biarlah. Itu urusan mereka.😉

***

BTW, saya juga baru menyadari bahwa kucing pun punya kepribadian… (Kemana aja, Buuu?)

Saya juga memperhatikan bahwa kecerdasan kucing sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang mereka terima. Bagaimana ceritanya, saya sambung di lain waktu ya?

*Sumber foto: Internet.

Comments
4 Responses to “Cat’s Issues”
  1. riska says:

    hihihi, aleees😄 ngerti deh, kucing aku juga suka gitu tuh. dikitik-kitik cuek, gilliran denger suara kucing berantem di luar rumah dia langsung bangun ;p

  2. alfare says:

    Kupikir, karena kecerdasannya itu kucing jadi binatang kesayangan Rasulullah SAW miaw. Sejujurnya, aku juga lumayan suka kucing miaw. Mereka emang makhluk yang menarik. Kalo kita sapa mereka dengan miaw, kadang mereka balas dengan miaw juga. Yea, mereka punya kepribadian. Sama kayak ras-ras manusia tertentu juga, kepribadian kucing bisa lumayan tipikal.

    • Riska says:

      bukannya sahabatnya Rasulullah SAW yang melihara kucing banyak banget?

      piara kucing, to. nanti bisa tahu dengan cukup detail kepribadian kucing2. soalnya reaksi kucing terhadap orang asing dan orang yang miaranya kan cukup berbeda.

  3. Miftah says:

    Assalamu’alaikum
    Salam kenal, sy nge-link dari RM nih ^_^

    @Riska: Yup, Abu Hurairah :=]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: