Antara Keinginan dan Impian

pravs-j-reach-for-stars

Bayangkan… Sebuah dunia yang semua bendanya terbuat dari makanan dengan cokelat…

Awan cokelat… Pohon cokelat… Bunga cokelat… Buah cokelat… Bahkan sungai susu cokelat!

Dulu, waktu saya masih kecil, saya punya dua angan-angan besar.

Pertama, saya ingin punya sebuah rumah luas yang ruangannya penuh dengan semua snack yang saya tahu. Chiki, keripik, agar-agar, permen, biskuit, cokelat, sirup, minuman rasa buah, jelly, bolu, keju, susu, es krim, puding… Semuanya!

Semua jenis dan semua rasa yang ada: manis gula, manis cokleat, manis stroberi,  manis vanila, manis asin, asam-manis, anggur, pedas-manis, manis-gurih… Cuma saya dan hanya saya yang ada di tempat itu, mengelilingi lorong-lorong dengan rak-rak tinggi penuh makanan. Saya akan tinggal di sana seharian, setiap hari, menikmati semua makanan dan minuman kesukaan saya, kapanpun saya mau.

Saya bahkan memimpikan dunia yang terbuat dari cokelat dan permen dan es krim.

Dan perasaan itu… Perasaan antusias, senang, bahagia, yang melingkupi saya karena ‘memiliki’ semuanya untuk diri sendiri… Benar-benar tidak ada tandingannya!

Dan tentu saja itu dulu. Sekarang sih…, biasa saja.

Tiba-tiba saja, menjelang usia 20 tahun, minat saya terhadap makanan ringan menurun drastis. Saya mengonsumsinya kalau saya sedang ingin saja. Sangat jarang, sebenarnya. Itu juga hanya jenis-jenis tertentu, yang saya anggap masih layak untuk kesehatan saya. Bagi saya, rasa sebagian besar makanan ringan atau jajanan anak-anak itu artifisial. Terutama yang harganya murah-meriah-dijual-di-pinggir-jalan. Sebagian bahan-bahan pembuatnya adalah kimia sintetik, bukan? Perasa, pewarna, dan pengawetnya?

Bila saya ingat-ingat sekarang, angan-angan masa kecil itu terasa konyol.

Tapi normal. Normal kok.

Coba…, anak kecil mana yang tidak pernah punya keinginan terhadap yang manis-manis?

Tubuh anak-anak memang dikuasai oleh dorongan alami untuk ‘mencoba semua’ yang menyentuh indera mereka dengan tajam: mencecap semua rasa, melihat semua warna dan model, menyentuh semua benda, mendengar semua bunyi, ingin mengetahui hal-hal misterius, memainkan semua permainan… Pokoknya apaa… saja yang menarik bagi seorang anak kecil.

Jadi, keinginan saya untuk mencoba semua rasa biskuit dan minuman yang ada, adalah sesuatu yang alamiah. Saya ingat kata-kata saudara saya sewaktu saya masih menyenangi ‘semua’ jajanan, “Saya heran, kok (anak kecil) senang ya dengan jajanan-jajanan begitu. Saya sih gak suka…” Dalam pikiran saya waktu itu, “Bodoh sekali ya? Padahal kan enak banget. Wah, aku sih bakalan suka sampe kapan-kapan. Gak makan (nasi) pun, cuma makan snack, cukup kok…”

Kini saya mengakui kebenaran kata-katanya. Minat saya terhadap makanan ringan, yang dulu saya sangka akan selamanya, ternyata hanya berlaku di masa kanak-kanak. Tubuh manusia terus berkembang, dan makanan ringan jelas tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan nutrisi manusia dewasa.

Ngomong-ngomong, apa angan-angan kamu yang kedua, Les?

Oh ya. Angan-angan besar saya yang kedua adalah perpustakaan pribadi.

Saya doyan membaca. Sebenarnya, saya pembaca yang rakus. Ibarat makan, membaca itu tak ubahnya memberi makan pada otak saya yang lapar. Tentu saja, kadang-kadang otak saya kekenyangan sehingga saya berhenti membaca selama beberapa waktu.

Orangtua sayalah yang menyuburkan minat baca saya dan adik-adik. Saya masih ingat, dulu saat umur saya masih TK, segera setelah saya bisa membaca, majalah Bobo dan Donal Bebek adalah sesuatu yang selalu saya tunggu. Belum lagi Kompas dan Poskota yang dibaca orangtua saya tiap pagi. Saya baca semua. Saat umur saya dirasa cukup (yaitu kelas lima SD), saya dibelikan majalah remaja, Kawanku (apa kabarnya majalah itu ya sekarang?). Novel-novel Ibu saya yang juga gemar membaca, mulai dari Lima Sekawan, Pipi si Kaus Kaki Panjang, Sapta Siaga, Ko Ping Ho, sampai novel roman, detektif, pembunuhan, saya baca. Tentu saja bacaan untuk umur saya juga ada: komik Paman Gober, dongeng-dongeng Hans Christian Andersen, Goosebumps, komik-komik Elex yang pertama (Doraemon, Candy-Candy, Mari-Chan), termasuk majalah Gadis, Anita, dan Aneka.

Jadi, dalam angan-angan saya, saya ingin memiliki semua novel, komik, buku dongeng, ensiklopedi, dan majalah yang ada. Saya ingin memiliki sebuah perpustakaan lengkap. Dan itu milik pribadi. Ribuan buku bacaan, tersusun dalam deretan rak-rak tinggi menjulang, di lorong-lorong yang panjang, menunggu di rumah saya.

Ah, indahnya…

Dan yang lebih indah lagi, keinginan itu bertahan sampai sekarang. Tidak seperti angan-angan saya tentang jajanan anak-anak, angan-angan saya tentang buku ini lebih tahan lama, karena otak manusia dan pikiran manusia bisa terus berkembang tanpa batas. Tubuh manusia akan berada di fase anak-anak selama sekitar10-15 tahun. Setelah itu, tubuh manusia akan berubah. Itulah yang menyebabkan angan-angan-snack saya hanya sebatas keinginan, sementara angan-angan saya tentang perpustakaan berubah menjadi impian.

Memangnya apa beda keinginan dan impian?

Beberapa orang telah mencoba mendefinisikan perbedaan antara keinginan dan impian. Sejauh yang bisa saya tangkap, perbedaannya itu begini: Keinginan itu adalah sebuah hasrat yang sifatnya jangka pendek dan temporer, sedangkan impian adalah hasrat jangka panjang dan awet.

Kalau dipikir-pikir, impian pun awalnya adalah sebuah keinginan. Dan tentu saja manusia terkenal dengan keinginannya yang banyak serta tak ada habisnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, seiring juga dengan tumbuhnya wawasan dan minat seseorang, ada keinginan-keinginan yang kemudian tidak diinginkan lagi (mungkin karena sudah ada penggantinya yang lebih baik), ada keinginan yang bertahan, dan ada juga yang berkembang.

Impian biasanya adalah sesuatu yang menjadi ‘keinginan tanpa syarat’: apapun kondisi kita, kita akan tetap mengupayakan supaya impian itu bisa terwujud. Rencana kita buat, langkah demi langkah kita tapaki. Bila belum ada jalan menuju impian kita, kita retas jalan itu. Kita ‘babat hutan’ dan kita ‘bangun’ jalannya…

Impian adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Sekali hati kita sudah menetapkan impian itu, ya tetap itu yang kita inginkan.

Sementara itu, keinginan sifatnya sementara. Kalau dapat, ya syukur. Kalau ada yang lebih baik, ya bagus… Ambil saja yang lebih baik itu. Keinginan itu bersifat oportunis. Makanya, orang yang banyak keinginan itu oportunis.. *Eh? Lho?*😀

***

Sekarang kita lihat, apa saja keinginan-keinginan yang tadinya saya sangka impian saya:

1) Nokia Xpress Music 5800

Setelah Nokia X6 keluar, hati saya mendua. Apalagi sejak harga BB makin mur—mer, wuiiih… Belum lagi berita terbarunya: Nokia Indonesia akan meluncurkan N8… Fuuuh, makin lemah aja nih keinginan terhadap XM5800.

The latest Nokia mobile phone, N8... Adorable!

2) Tentu saja angan-angan saya tentang jajanan tadi.

Sebaliknya, saya punya daftar 101 Impian yang sudah saya tulis. Dua di antaranya:

1) Keliling dunia

Ini sudah tidak bisa ditawar. Sejak kecil, saya sudah merasa kalau saya tidak bisa terima kalau saya cuma pernah melihat Indonesia saja seumur hidup. Sudah pernah keliling Jawa-Bali dengan keluarga. Dan itu tidak cukup. Saya mupeng terus melihat teman-teman yang sekolah ke luar negeri atau sudah melanglang-buana ke mana-mana. Hiks…

Segera! Insya Allah segera!

2) Punya perpustakaan dengan koleksi ribuan buku. Penuh dengan bacaan-bacaan favorit saya.

Dan masih banyak lagi!

(Ya itulah… Saya malas mengetikkannya sisanya di sini ^^)

***

Manusia… Dengan Impian dan Harapannya

Menurut seorang kawan, ada sebuah tempat dimana harta karun yang sangat berharga dan tidak pernah bisa dibayangkan manusia, terpendam. Tempat itu adalah pemakaman.

Mengapa malah pemakaman? Karena di dalamnya terkubur manusia dengan segala impian dan cita-citanya yang belum terwujud.

Dan kalau sudah berbicara impian, apakah ada impian yang kecil dan tak berharga? Yang ecek-ecek?

Saat kita sudah menetapkan diri untuk mewujudkan impian, apapun kondisi kita, apapun tantangannya, kita harus tetap maju ke arah impian itu. Tentu saja, bila impian kita besar, usaha, tenaga, pikiran, dan waktu yang kita bayarkan juga harus besar. Perjalanannya jauh… dan melelahkan. Dalam ‘perjalanan’ itulah, jenuh, lemah, serta rasa muak bisa datang.

Saya menulis tentang keinginan dan impian ini bukanlah untuk berbicara tentang keinginan dan impian. Tujuan sebenarnya adalah untuk menguatkan diri sendiri. Menguatkan hati dan kaki untuk terus melangkah.

Saya sedang dalam proses mewujudkan impian-impian saya. Dan saya sedang jenuh.

Mudah-mudahan, tulisan ini bisa menjadi penguat dan doa buat saya…. Amiiiiin.

Comments
4 Responses to “Antara Keinginan dan Impian”
  1. euis asriani says:

    Subhanallah..Allahu Akbar, tulisan ini tak sekedar tulisan yang menyemangatimu Les, tapi juga membakarku, hehe..jadi mikir dan teringat angan-anganku dulu, ingin punya oesantren dengan rumah sakit yang sangat modern, trus nanti kalo ada yang sakit ga usah bayar, yang sakit juga dikasih makan dan minum gratis..hehe,.sekarang..semuanya tinggal kenangan. Mungkin karena angan-anganku itu hanya keinginan saja, bukan impian..
    peace Alehandro..miss u..

    • sherlanova says:

      Mudah2an hikmah dari Robert Kiyosaki ini jagi penguat, bukan penyurut langkah:

      Ayah Kaya saya berkata, “Banyak orang yang tidak punya impian.”
      “Kenapa?” tanya saya.
      “Karena impian perlu uang (biaya).”

  2. purnaning says:

    saya baru tau kalo banyak keinginan berarti opportunist Les.. bukan mengambil kesempatan di dalam kesempitan ya? sama Les saya juga punya banyak impian.. kalo ga salah ada tulisan yang bilang kalo qta punya satu impian dan menuliskannya, secara tak sadar ada ‘sesuatu’ yang akan terus menuntun qta ke arah terwujudnya impian tersebut.. (yang di atas mungkin maksudnya ya)..

    bener banyak orang terpaksa mengubur impiannya karena uang.. fuh!

    • sherlanova says:

      Arry, coba baca tulisan ini deh….

      Dan tentang mengubur impian, pertanyaan buat kita semua yang bermimpi
      itu sederhana: mau enggak? Kalo mau, sudah menemukan ‘kendaraan’
      yang tepat belum, yang akan membawa kita ke impian2 kita? Kalau
      belum, sudah mencari belum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: