The Beauty of The Unseen


Jiwa manusia itu ternyata indah.

Saya menyadarinya ketika satu kali saya membaca tulisan seorang wanita yang berjuang untuk bisa bergabung bersama suaminya yang bersekolah di luar negeri. Sejak menikah, dia hanya bersama suaminya beberapa minggu. Suaminya kemudian pergi bersekolah. Wanita ini berjuang mendapatkan visa, tapi selalu ditolak. Sampai sekarang.

Membaca tulisannya, melihat untaian huruf dan tutur katanya, saya tiba-tiba saja merasakan keindahan jiwanya. Entah bagaimana, saya merasakannya. Dan ketika melihat ke bagian belakang buku itu, mencoba mengetahui bagaimana rupa sang penulisnya, terus terang, saya harus kaget.

Bukan. Bukan karena wanita ini jelek atau cacat. Normal, bahkan cenderung manis. Tapi…, terus terang, saya berharap kalau saya akan melihat wajah yang cantik.

Konyol memang harapan saya itu. Tapi, bila merasakan apa yang saya rasakan, harapan semacam itu serta-merta ada.

Bukan pula kemudian saya selalu berasumsi bahwa kehalusan budi dan keindahan bahasa hanya datang dari orang-orang dengan rupa indah dan bagus pula. Hanya saja, saya akhirnya mengerti, bahwa keindahan yang tak terlihat jauh lebih besar dari yang terlihat oleh mata.

Dan saya menyadari, sebagai manusia, dengan anugerah penglihatan kita, lapisan luarlah yang menjadi penilaian kita pertama kali. Itu tidak dapat diingkari. Untuk melihat jauh ke kedalaman jiwa, perlu waktu yang tidak sebentar. Namun begitu kita sudah menyelaminya, maka kita akan terkejut. Kita akan sangat terkejut.

Pengalaman pribadi.

Orang ini sama sekali orang yang saya pandang hanya dengan sebelah mata. Plin-plan, tidak tegas, dan sangat mudah untuk diremehkan.

Dan kemudian waktu menunjukkannya. Waktu memberi saya kesempatan untuk melihat sisi lain dari tampilan luarnya. Dia mau berubah. Dia mau berkembang. Dia mau membawa dirinya ke tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Darinya saya belajar tentang sabar dan mendengarkan. Darinya saya belajar tentang kelembutan hati dan penerimaan.

Waktu telah membawa saya ke kesadaran bahwa orang ini adalah orang yang sangat penting buat saya.

Terkadang kita sangat mudah menghakimi orang lain hanya dari pengetahuan yang sangat sedikit.

Pengalaman pribadi.

Dan percayalah. Tanpa mengesampingkan adanya kebalikannya, jiwa manusia itu sungguh indah. Jika kita mau membiarkan waktu menunjukkan, kita pasti akan melihat keindahan yang tak terlihat mata itu…

Comments
2 Responses to “The Beauty of The Unseen”
  1. panah hujan says:

    Hm, sebaliknya… sekarang saya justru seolah sedang melihat kedalaman jiwa dari seseorang yang menuliskan keindahan jiwa orang-orang di sekitarnya.🙂

  2. eecho says:

    hmm…sebelumnya saya berasumsi kalau perempuan lebih cenderung mengedepankan pendengaran dibanding penglihatan, rupanya sama juga

    apakah “seorang yang baik selalu berwajah cantik” itu doktrin dari budaya saat ini? mungkin karena di setiap film yang kita lihat saat ini, peran utamanya selalu cantik/ganteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: