Happy Family Tree


“Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain terbuka…”

Setelah Papa wafat, saya baru tahu (dengan benar) bahwa ternyata Papa punya kakak-kakak dari istri tua kakek saya. Ceritanya, dulu, kakek saya merantau ke Indonesia dari Cina. Kemudian tibalah beliau  di ujung paling selatan pulau Sumatera, Lampung.

Saya tidak tahu persis bagaimana sejarah lengkapnya. Namun, yang saya tahu adalah kakek saya menikah lagi dengan seorang wanita Cina keturunan yang tinggal di Lampung, yang dikenal dengan ‘Nyonya Bali’. Kami, cucu-cucunya, memanggil beliau ‘Popo’. Kenangan yang saya miliki tentang Popo tidaklah banyak. Hanya mencakup ingatan samar-samar selama dua-tiga tahun masa balita saya, ditambah memori tentang upacara pemakaman beliau yang saangat… Cina, lengkap dengan asap hio, jeruk plus kue yang ditata di atas batu nisan besar, uang-uangan kertas berwarna kuning dengan tulisan aksara Cina dalam tinta merah di atasnya, rumah kertas, dan mobil kertas yang harus dibakar saat permakaman.

“Biar yang meninggal punya uang, mobil, dan rumah di sana,” katanya.

Kembali ke kakak-kakak Papa tadi. Di hari Papa dimakamkan, datanglah seorang Sukme (panggilan untuk ‘uwak’ perempuan–sepertinya, saya belum pernah menanyakan arti persisnya) bersama keponakannya. Namanya Sukme Nelly. Beliau menyatakan belasungkawanya dan membantu pemakaman Papa. Orangnya ramah sekali. Saya baru tahu kalau Sukme Nelly adalah istri dari Susuk (panggilan untuk ‘uwak’ laki-laki) Awi. Kalau Susuk Awi saya tahu. Sekilas. Saya pernah mendengar Papa menyebut-nyebut beliau. Saudara Papa yang katanya pengusaha sepatu.

Setelah wara-wiri mengurus peninggalan Papa, saya mendengar dari Liza adik saya bahwa kami diundang menginap ke rumah Sukme Nelly di Kelapa Gading. Setelah saya berunding dengan Bu Dara dan mengontak Sukme Nelly lagi, datanglah kami menginap ke rumah beliau. Menurut Bu Dara, hitung-hitung silaturahmi dan membalas perhatiannya selama pemakaman Papa.

Kami datang di sore hari. Sukme Nelly dan Susuk Awi ada di rumah. Dan ternyata, di sana juga ada Susuk Tomy, kakak dari Susuk Awi. Kami beramah-tamah dan kemudian mengobrol, mencoba mengenal satu sama lain. Terutama saya. Bisa dibilang, Papa tidak banyak bercerita tentang saudara-saudara lain ibunya itu. Yang Papa banyak kenalkan hanya kakak-adik Papa di Lampung.

Dari obrolan dengan Sukme dan Susuk itulah, saya mengetahui silsilah keluarga saya dari jalur Papa. Selama ini saya hanya tahu sangat sedikit. Papa saya bukanlah orang yang banyak bercerita tentang keluarga besarnya. Maksudnya secara lengkap dan menyeluruh. Sebagian besar disimpannya sendiri, termasuk kesusahan-kesusahannya. Yah, ini masalah harga diri. Kemandirian adalah kekuatan. Begitulah prinsipnya.

Dan bagi yang selama ini mungkin penasaran dan bertanya-tanya dari mana saya mendapatkan mata sipit saya, maka…, ya, kakek saya asli dari Cina daratan sana.

Kembali ke pohon keluarga.

Susuk Awi adalah anak nomor tiga ( atau nomor dua?) dari istri tua kakek saya. Sementara Susuk Tomi adalah anak kedua (atau anak pertama?). Mereka masih punya saudari yang tinggal di Cina sana. Saya lupa nama-namanya dan berapa jumlah saudara Susuk Awi. Yang jelas, keluarga Papa adalah keluarga besar. Belum lagi sepupu-sepupu Papa. Belum lagi sepupu-sepupu saya dari pihak Susuk Awi. Mana saya tahu?

Itulah sebabnya saya membiarkan nomor Papa tetap aktif sampai sekarang, yaitu nomor GSM kedua yang saya gunakan sekarang. Saya pikir, lebih baik begitu, siapa tahu ada saudara Papa yang menghubungi, yang mungkin baru mendapat kabar lama setelah Papa wafat. Soalnya pernah sekali waktu, di tahun 2008 kemarin, saya tiba-tiba dihubungi oleh orang tak dikenal, yang akhirnya saya ketahui bernama Cici Hung Sye, saudara Papa di Bogor. Beliau baru mendapat kabar tentang wafatnya Papa sekian bulan setelahnya. Tuh kan?

Oh, ya, ngomong-ngomong, ada cerita lucu sekaligus ironis yang saya dan Liza alami ketika menginap di rumah Susuk Awi waktu itu. Lucu kalau dilihat orang lain, ironis kalau dialami sendiri.

Ceritanya begini: Sukme Nelly itu orang Manado. Beliau seorang Katolik. Sudah saya ceritakan bahwa orangnya sangat ramah. Selain itu, yang membuat saya sangat hormat pada beliau, Sukme tidak tampak terganggu dengan penampilan keponakan-keponakannya yang berjilbab lebar-lebar. (Ya anda bayangkan saja, tiga orang Cina totok paruh baya, mengajak dua wanita muda berkerudung lebar, yang satu bertampang oriental, yang satunya lagi bertampang pribumi, makan di Food Court Kelapa Gading, yang memang jelas-jelas salah satu daerah dengan penduduk keturunan Cina yang padat. Bukan pemandangan yang bisa dilihat tiap hari kan?). Sementara Susuk sendiri tidak jelas apa keyakinannya, jadi saya berasumsi bahwa beliau adalah penganut Konghucu.

Bukannya Susuk Awi dan Susuk Tomi keberatan. Tapi, untuk Susuk Awi… Bagaimana ya mengatakannya? Beliau memang tidak mempermasalahkannya, namun beliau agak iseng dengan saya dan Liza di waktu sarapan. Setelah pulang dari pasar, kami makan di rumah. Sukme menyiapkan ikan tongkol kering-bumbu yang disuwir-suwir, khas Manado, dan satu sayur lagi (saya lupa apa). Lalu Susuk Awi berkomentar.

“Eh, kemaren ada sop di kulkas kan ya?”

Awalnya saya biasa saja. Tapi kalimat Susuk yang selanjutnya membuat punggung saya dingin.

“Eh, enak lho, Les, Liz. Sop kaki babi. Mau nyoba gak?” Susuk menawarkan sop itu sambil cengar-cengir. Dituangkanlah sop itu dari plastik ke dalam mangkok.

Tangan saya mencengkeram pinggir meja. Dengan ngeri mata saya menatap lekat-lekat ke sop yang sedang dituang itu. Saya setengah mati berdoa agar jangan sampai–JANGAN SAMPAI–setitik pun dari kuah itu lompat ke piring saya.

Kalau sampai setitik saja kuah sop itu masuk ke piring saya, bisa gawat. Solat saya bisa gak diterima selama 40 hari empat puluh malam!!

Dasar Susuk iseeeeeng!

Anda perlu tahu, bahwa meja makan di rumah Susuk tidaklah besar, mengingat dapurnya juga tidak besar-besar amat. Mejanya adalah meja lipat, yang kalau dibentangkan seluruhnya, meja itu akan berbentuk bulat. Paling banter, meja itu cukup buat enam orang yang duduk agak rapat. Liza di ujung sebelah kanan meja, saya di kirinya. Sukme masih mondar-mandir, namun kemudian duduk di tengah. Di sebelahnya ada Susuk Awi, dan di ujung paling kiri ada Susuk Tomi.

Jadi, kalau kuah sop itu sampai menciprat ke mana-mana, kemungkinan piring saya ikut kena semakin besaar…

Sukme Nelly kemudian menegur Susuk. Akhirnya Susuk meneruskan makannya tanpa iseng menawarkan sop kaki itu lagi. Saya sedikit lega. Dalam hati, saya sangat berterima-kasih pada Sukme Nelly. Makin besarlah rasa hormat saya pada beliau.

Begitu sampai di rumah, saya dan Liza langsung bercerita ke Bu Dara dengan heboh. Bu Dara hanya bisa senyum-senyum saja. Bukannya kami tidak suka untuk datang ke rumah Sukme lagi. Hanya saja, ngeri juga kalau insiden semacam sop-kaki-babi itu terulang lagi. Liza yang mencuci piring bekas sarapan saja mencuci piring, gelas, sekalian spons cuci piringnya, bersih-bersih. Kemudian dia mencuci tangannya bersih-bersih. Sudah begitu, setiap kali kami minum, meski gelasnya bersih, perasaan kami tetap was-was, lantaran tidak tahu seberapa sering spons cuci piring di dapur dipakai untuk membersihkan sisa-sisa masakan babi.

Maksudnya, sekali saja cukup. Apalagi kalau harus sering-sering ke sana lagi. Enggak ah… (hehe, maaf ya Sukme…)

***

Kesedihan itu harus saya rasakan. Tidak ada jalan lain.

Kehilangan orang yang telah membawa kita ke dunia yang indah ini, betapapun buruknya orang itu, akan terasa menyakitkan.

Namun hal-hal kecil yang datang setelah kehilangan itu, keluarga yang baru diketahui keberadaannya setelah orangtua meninggal, latar belakang budaya Cina yang kental, dan segala pernak-pernik plus lucu-seramnya, sedikit banyak membuat hati ini terhibur. Hal-hal itu memberi sebenih kekuatan.

Tuhan menunjukkan pada kita kematian agar kita menyadari betapa penting dan indahnya hidup ini.

Agar kita melanjutkan hidup…

Miss u, Pop. Miss u, Mom.

[A warm memory from 30 days of my solitude… after the loss of my father, Ramadhan 5th, 1428 Hijria.]

Comments
One Response to “Happy Family Tree”
  1. oipiyah says:

    hihihi, ternyata kakek kita sama-sama keturunan China. Dulu, waktu kakekku dimakamkan aku senang sekali: rame dan banyak makanan dan buah-buahan.

    kehilangan orang yang paling kita cintai memang menyakitkan, tapi, juga merupakan teguran: dirimu selanjutnya, bersiaplah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: