Jadi, Miskin Itu Emang Cuma Nasib Atau Pilihan?


“Subuh-subuh ada tiga orang tuh anaknya. Jam limaan lah. Mereka nyebar ke seluruh komplek.”

“Emang disuruh mereka sama orangtuanya.”

Saya duduk di kursi tengah mobil Avanza, menyimak penuturan saudaranya Pak Yadi tentang fenomena ‘dimaling mangganya terang-terangan’ yang dialami warga komplek Baitusalam, Ciwastra.

Pak Yadi menimpali, “Yah, mereka akan tetap miskin dengan kelakukan itu.”

Sudah bukan rahasia lagi kalau anak-anak kecil yang tinggal di kampung perbatasan komplek kerap menyelinap ke halaman rumah-rumah di dalam komplek dan mengambil mangga atau buah apapun yang menggelantung menggoda iman. Bukan di pinggir jalan, bukan di tengah lapangan umum. Pohon-pohon buah yang kita bicarakan ini ada di tengah halaman rumah orang! Toh anak-anak itu tetap mencuri-curi kesempatan untuk mencuri. Ya subuh-subuh, ya sore hari di saat pemilik rumah masih dalam perjalanan pulang dari kantor atau terjebak macet, yang menyebabkan rumah masih lengang tak berpenghuni, atau… kapanpun anak-anak itu sempat.

Apalagi ada sebatang pohon mangga yang masih muda, yang tegak tumbuh di sudut lapangan kosong, di sebelah rumah si empunya Avanza tadi. Belum lagi sampai di setengah jalan ukuran maksimal buahnya, mangga-mangga muda itu sudah raib.

Mereka bahkan tidak memberi buah-buah itu kesempatan untuk matang.

“Ya, kita mau ngomel gimana? Mereka seenaknya aja. Buah-buah yang masih muda itu dipetik, tapi akhirnya dibuang karena belum mateng. Kan mubazir. Kurang ajar banget deh!”

“Ya biarin aja. Mereka tetep miskin karena mereka begitu, ” timpal yang Pak Yadi.

***

Bermental miskin berarti:

1) tidak tahu apa itu ‘kaya’, karena memang belum pernah belajar tentang ‘kaya’
2) mencuri, bukannya menjaga harga diri dengan meminta baik-baik ataupun meningkatkan diri atau mencipta ke-mampu-an
3) bangga dan tidak merasa ada yang salah dengan mengambil hak orang lain, yang tak lain akibat dari kebodohan atau memang ketidakpeduliannya
4) rasa malunya ditempatkan di tempat yang salah: pada ‘jangan sampai ketahuan/kelihatan’ bukannya pada ‘jangan meminta (secara baik-baik ataupun non-baik-baik)’

Dan kutipan ini merangkum semuanya:

Apapun yang terjadi pada kita mungkin bukan hasil dari pilihan-pilihan kita, tetapi menjadi pribadi apa kita setelah itu, itu sepenuhnya tanggung jawab kita.
[Mario Teguh]

Terjemahan:
Banyak di antara manusia lahir dalam keadaan miskin, kurang beruntung, terbelakang, kekurangan, secara fisik maupun emosional. Fakta itu tidak bisa dipungkiri. Tapi bila mereka tetap dalam keadaan seperti itu, padahal mereka bisa lebih dari itu, maka itu salah mereka sendiri…

Kesimpulan?

Saya lagi jadi penunggu rumah orang lain. Artinya, saya harus pasang telinga sering-sering supaya mangga di halaman tetap aman sentosa… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: