Begitu Mudah Berpaling


“Sebenernya teh, ibu itu lagi ada masalah sih.”

“Hmmm?” nada tanya saya sedikit naik di ujung.

“Denger-denger suaminya sempet mau nikah lagi…, tapi gak jadi. Perempuannya yang ngedeketin, dikasih ini-itu. Lama-lama jadi mau deh bapak itu.”

Saya tidak berkomentar.

Saya mengerti. Kondisi ekonomi yang dijalani selama bertahun-tahun hanya sampai dalam kategori ‘cukup’: tidak lebih, tidak kurang. Merasa diri tidak mampu membahagiakan istri dan anak-anak. Tanggungan makin besar seiring anak yang makin besar. Pekerjaan hanya sebagai pegawai di toko bunga di jalan Riau. Cobaan untuk keluar dari himpitan datang dalam bentuk kesempatan. Hati sudah jenuh dan jerih dengan kesusahan.

Ya. Jalan keluar yang sangat mudah.

Tapi apa jadinya dengan anak-istri yang (tadinya mau) ditinggalkan? Mana janjinya pada mertua dulu?

Ah…  Begitu mudah hati berpaling. Berpaling pada jalan termudah.

***

Allah Maha Pembolak-Balik Hati, jagalah hatiku dalam kesetiaan yang Kau ridhoi…

Comments
2 Responses to “Begitu Mudah Berpaling”
  1. reza says:

    cerita inpiratif. salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: