Naik ojek aja, Pak!


Saya sedang duduk di atas motor di perempatan Simpang Dago. Saya dan teman saya, Teh Evi, baru saja dari Cisitu. Langit sore sudah gelap. Sudah magrib.

Lampu merah masih menyala. Dari tiga arah, mobil-motor diam di tempat. Hanya dari satu arah lalu lintas bergerak.

Detik-detik terasa lambat. Sampai akhirnya, tiba-tiba kedamaian itu dipecahkan dengan suara sirine dari arah Pasar Dago.

“Ngiiiiiuuuuuung! Ngiiiiiiuuuuung! Ngiiiiiuuuung!”

Leher saya panjangkan. Dalam hati saya bergumam, paling juga pejabat lagi. Leher saya kembalikan ke posisinya.

“Apaan tuh, Teh?” tanya teman saya dari belakang.

“Pejabat, mungkin.”

Muncullah sumber bunyi itu. Berparade ke arah kami. Selama sesaat semua menahan napas dan menunggu:

Sebuah mobil pengawal. Lalu Alphard hitam. Lalu SUV hitam. Mereka melaju dengan cepat. Secepat mereka datang, secepat itu pula mereka menghilang. Semua itu terjadi hanya beberapa detik.

Tiba-tiba teman saya bersuara dari belakang:
“Pejabat mah naik ojhek aja biar gak kena macet…”

Saya terdiam.

Ah, betapa benarnya kata-kata teman saya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: