It’s The Power of The Dream


“Introducing… The Nash Family!”

“Aaw… than.”
“I’m sorry?”
“Aaaw… than.”
“What?”
“Aaw… than.”

Ibarat ikan, saya bagaikan ikan mas yang terdampar di pinggir kolam, menggelepar-gelepar, setengah-idup-setengah-mati, megap-megap mencari air. Maksudnya, udah masang telinga selebar apapun, saya teteeep aja gak bisa menangkap apa yang dia omongin.

Sampai akhirnya dia dengan ‘murah hati’ memperjelas omongannya dalam aksen Amerika.

“Aawer… thawn.”

‘Our Town’ ternyata judul dramanya!

For God sakes! Gitu aja susah banget sih? Hhhhhh….

Oke, jadi…, yang ada di depan saya namanya Jazz. Dia murid privat matematika saya. Latar belakang: Bapak orang Inggris tulen. Dinas di Bandung sejak tahun 2006. Ibu orang Palembang tulen. Pokoknya klop dah British dan Palembang: sama-sama keras. Dan anaknya…, huuf, anaknya…

Anaknya tuh, kalo ngomong bener-bener berlogat British, yang cara ngomongnya mirip orang lagi kumur-kumur alias gak jelas itu! (Tapi gak separah cara ngomong orang Skotlandia sih, he…). Padahal katanya dia menggunakan plain British accent. Deeuh… so much for the ‘plain Brittish accent’.

Fakta lain tentang keluarga Nash: gen hooligan yang, konon, bercokol dalam darah sebagian orang-orang Inggris, yang selama ini desas-desusnya cuma saya denger dari tipi, ternyata benar ada! (Jadi, percayalah pada televisi anda, saudara-saudara! Wkwkwk! ^^)

Jazz sendiri agak temperamental. Kalo lagi bagus mood-nya, saya dianggap belahan jiwanya. Diajak ke kamarnya, dipinjemin buku novel, dll. Kalo lagi jelek, wiiii…, saya dimusuhin abis! Padahal saya gak ngapa-ngapain dia, gitu looh! Ya…, namanya juga anak-anak.

Pernah sekali waktu, pas saya datang ngajar malem-malem, saya denger Mister lagi teriak-teriak di dalam kamar. Pokoknya marah-marah, entah karena apa. Terus terang malam itu saya jadi ciut.

Ini yang terjadi gak lama kemudian:
Beliau keluar dari kamar…diikuti istrinya. Lalu…, tanpa dosa, beliau menyapa saya dan Jazz yang lagi melakukan KBM (kegiatan belajar mengajar) di meja makan… dengan ramah!

Saya jadi merinding…, hiiiiiiy!

(Gimana ceritanya saya bisa sampai terdampar di keluarga ini, bisa dilihat di sini.)

Ini yang taringnya tajam tea...

Ini yang taringnya tajam tea…

Saya sendiri orang Sumatera yang memang punya warisan budaya tegas dan punya gen ‘teriak-teriak’ (maksudnya, kalo ngomong bawaannya stereo, gitchu). Tapi, rasanya, kok gak segitunya yaaa?

Tapi saya tahu kok kalau Mister adalah orang yang baik. Cuma satu malem itu aja kejadiannya. Selanjutnya gak pernah lagi (atau mungkin sayanya aja yang gak tau ya?). Yaaa, gimana ya? Saya ngerti sih, kalau apa yang sudah mengalir di dalam darah memang tidak bisa diingkari. Termasuk gigi taring saya yang tajam karena memang keturunan vampir, hehe…

Kabar baiknya, segala kesusahan itu terobati setiap kali ibunya Jazz bercerita tentang kehidupan di Inggris. Waktu Jazz dan adiknya masih kecil, mereka tinggal di Bandung. Kemudian mereka diboyong ke Inggris oleh Mister. Begitu Jazz kelas 7, Mister dapat tugas lagi di Bandung. Selama di Inggris, mereka tinggal kota yang ada di sebelah utara London. Jadi, gak terlalu jauh lah dari ibukota negara Inggris yang kueren itu.

Inilah kelakuan orang Inggris berdasarkan penuturan Ibunya Jazz: orang Inggris seneng banget ngomongin cuaca (“They love to talk about weather, dear...”), udah gitu, musim dingin di sana sepi dan menggigit, dijamin bakalan membuat kita orang Indonesia kangen kampung halaman. Trus tipikal orang Inggris itu acuh gak acuh (that bloody cold Brittish people). Trus katanya rasa susu dan keju di sana rasanya jaaaaauh lebih lezat daripada yang ada di Indonesia (yang di sini

Ini nih gantungan kuncinya. Tapi coklatnya udah  habis saya makan sendiri, gak bisa bagi-bagi deh,   hehehe...

Ini nih gantungan kuncinya. Tapi coklatnya udah habis saya makan sendiri, gak bisa bagi-bagi deh, hehehe…

rasanya aneh, kata Jazz, rasanya tawar). Dan yang gak bisa dilewatkan, panorama pedesaan Inggris (misalnya: Surrey) yang indaaah… banget itu lho!

Di tahun pertama saya ngajar Jazz, pas lagi liburan summer, Jazz dan keluarganya mudik ke Inggris. Setelah mereka balik ke Bandung lagi, saya dibawain oleh-oleh gantungan kunci dari London dan coklat yang rasanya super-duper lezat! Rasa coklatnya itu… Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata! Gantungan kuncinya sampai sekarang masih nempel di ransel saya. Belum lagi cerita-cerita perjalanan wisata mereka ke Paris (dari Inggris kan gampang banget ke Perancis). Hiks, hiks!

Jadi tambah mupeeeeng…

***

Amerika atau Inggris?

Begitu saya wisuda sarjana, gak sedikit yang nanya apakah saya mau melanjutkan pendidikan ke S2 atau enggak. Sayangnya saya belum berminat untuk melanjutkan kuliah dalam waktu dekat ini. Tapi rencana sih sudah ada, terutama bidang apa yang mau saya tekuni nanti di S2–jika dan hanya jika saya jadi kuliah S2! ^_^ Yang pertama adalah matematika, sesuai dengan bidang yang saya tekuni waktu S1, dan yang kedua adalah linguistik dan/atau sastra inggris.

Hehe, gak nyambung banget yak? Biarin deh… Soalnya, kalo udah cinta, kita bisa apa? *Halah*

Prof. Jeffrey Lang

Prof. Jeffrey Lang

Kalau saya mengambil S2 di matematika, kemungkinan saya akan mengambilnya di Amerika. Sssst! Soalnya, saya pengen ketemu dengan profesor Jeffrey Lang yang saya kagumi itu. Orangnya keren deh pokoknya. Tapi kalau saya mau mengambil linguistik dan/atau sastra inggris, saya sih maunya ke Inggris, bukan Amerika. Mau tau kenapa?

Dari dulu saya tertarik dengan bahasa dan kata-kata. Saya juga senang mengulik kata dan maknanya. Bagi saya kegiatan itu sangat menyenangkan, karena saya tidak sekedar mengetahui artinya saja, tapi juga sejarah dan tautan budaya yang terdapat dalam bahasa dan kata tersebut. Tulisan ini dan ini adalah dua di antara hasil hobi saya mengulik bahasa dan kata.

Kemudian saya mengenal bahasa inggris, gerbang pertama yang memperkenalkan saya pada dunianya dua film romantis ‘Love Actually’ dan ‘The Holiday’ (so sweeeeeet!). Bagi saya, bahasa inggris itu menarik: istilah-istilahnya lebih kaya dan spesifik dari bahasa ibu saya. Belum lagi permainan kata yang bisa dijadikan lelucon bagus. Tak ketinggalan ragam logat penutur bahasa Inggris yang kadang-kadang lucu kalau didengerin. Ditambah lagi penulis-penulis buku dan sastra dalam bahasa inggris yang karyanya hebat-hebat itu. Huaaaa…, lengkap deh!

Tapi kenapa Inggris? Pertama, karena saya cinta banget sama aksen British dan budaya orang Inggris yang terkenal sopan-banget-tapi-berjarak itu, dan yang kedua, tentu saja, J.K. Rowling dengan serial Harry Potternya!

Impian no. 13
Bertemu dan berteman akrab dengan J.K. Rowling.

Buku Harry Potter 4 saya yang udah ganti sampul plastik dua kali.

Buku Harry Potter 4 saya yang udah ganti sampul plastik dua kali.

Saya tidak perlu lagi mengulas kekaguman saya tentang penulis yang satu ini. Buktinya, sangking tidak bosan-bosannya dibaca oleh saya, buku Harry Potter jilid 4 saya sudah begini rupa (lihat foto).

Dan saya juga kagum dengan para pemeran film-film Harry Potter. Makanya, saya juga pengen kenalan dan berteman dengan mereka kalau sudah sampe di Inggris.

Impian no.15
Berteman akrab dengan pemain film Harry Potter, seperti Daniel Radclieff, Emma Watson, Rupert Grinn, Allan Rickmann, Emma Thompson, Michael Gambon.

Liat nih, kertas udah kuning-kuning begini...

Liat nih, kertas udah kuning-kuning begini…

Ngomong-ngomong, sangking inspiratifnya buku ini, setelah membaca tiga buku pertama Harry Potter, saya seperti mendapat disihir ketika menulis essei untuk Lomba Menulis ‘Jakarta Book Fair’ di tahun 2001. Topiknya sederhana, ‘buku’. Judul essei saya waktu itu “Buku Favorit Saya? Harry Potter!”. Kata-kata dan judul essei itu mengalir begitu saja, tanpa susah payah dipikirin (“Bayangkan, ada naga di halaman belakang rumah anda!“).

Dan, saya bersyukur, essei saya jadi juara harapan satu! Maksudnya, untuk ukuran orang yang gak punya pengalaman nulis essei dan belum pernah ikut lomba menulis, menjadi juara harapan satu itu saaaangat membanggakan! Itu tak lain karena sentuhan ajaib dari J.K. Rowling. Tapi sayang, karena waktu itu saya masih berada di jaman-kegelapan-komputer, belum banyak pengetahuan komputernya, arsip essei itu lenyap entah kemana.

Impian no. 21
Belajar bidang Linguistik (khususnya bagian analisis bahasa, aksen, perilaku penutur bahasa, dan komunikasi)…

Impian no. 25
Mendapat kemudahan, kesempatan yang luas, dan dapat mempelajari aksen-aksen dari bahasa Inggris serta bahasa asing lainnya.

Kembali ke soal S2 tadi. Saya juga sudah berpikir, kalaupun saya gak jadi perempuan-sucimengambil kuliah di bidang linguistik dan/atau sastra inggris, saya tetap harrruss ke Inggris. Minimal sekali. Apalagi kalau bisa tinggal di sana, merasakan kehidupan di sana, dan berada di sekeliling orang yang berbicara dengan logat British yang kental; itu merupakan hadiah besar buat saya. Dan ini membuat saya teringat satu momen ketika Qaisra Shahraz, pengarang novel ‘Perempuan Suci’ (Mizan), datang ke Salman ITB untuk mempromosikan novelnya. Qaisra merupakan penulis asal Inggris keturunan timur tengah. Saya hadir di acara bedah bukunya.

Qaisra Shahraz

Qaisra Shahraz

Begitu ibu Qaisra berbicara, saya langsung terpesona. Itulah pertama kalinya saya mendengar langsung orang bertutur dalam logat Inggris yang halus dan lembut seperti mentega susu itu. Kata demi kata keluar dengan pasti dan teratur. Ada keanggunan dalam setiap kata yang diucapkan. Terutama ketika yang mengucapkannya adalah wanita. Seperti alunan musik! Huhuhu…, indah sekali caranya berbicara! Jadi terharu…

Jadi Oom Jeffrey Lang, nampaknya ke Amerikanya belakangan aja deh ya? Hehe…

***

101 Impian

Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, duet penulis yang terkenal dengan serial “Chicken Soup For The Soul” yang fenomenal itu, menulis sebuah buku lain yang gak kalah kerennya (anda harus baca bukunya). Judulnya ‘Seajaib Lampu Aladin’ (penerbit Kaifa, 2002). Dalam buku itu, Jack dan Mark bercerita tentang dahsyatnya kekuatan impian.

Dan inilah salah satu kisah luar biasa di dalamnya, tentang keajaiban dan kekuatan impian:

Ayah John Goddard adalah seorang pengusaha yang berhasil. Beliau biasa mengundang relasinya untuk makan malam di rumah mereka sekali sepekan, tepatnya setiap Jumat malam. John Goddard muda, yang masih berusia lima belas tahun waktu itu, sangat terkesan dengan pembicaraan yang didengarnya saat makan malam. Ayah John dan tamu-tamunya pada akhirnya akan mendiskusikan penyesalan mereka dalam hidup–semua hal yang pernah mereka ingin lakukan, namun tidak pernah diselesaikan, atau bahkan dimulai. Setelah melewati suatu jamuan makan semacam itu, John bertekad untuk tidak bernasib seperti teman-teman ayahnya di usia mereka.

John masuk ke kamarnya dan menuliskan 127 hal yang dia ingin raih dalam hidupnya. Saat ini, dalam usia enam puluhan, John telah menyelesaikan 115 dari 127 cita-cita tersebut. Daftar ini telah memberikan kerangka bagi hidupnya dan dia telah mengunjungi lebih dari seratus negara, bertemu banyak pemimpin dunia, termasuk Paus, dan mencapai banyak impian yang bersifat pribadi. Dia telah mengunjungi Tembok Besar di Cina, menjelajahi sungai Nil, mengendarai kuda di Rose Bowl Parade, dan belajar menerbangkan 48 (empat-puluh-delapan!) jenis pesawat terbang yang berbeda!

Inilah buku Jack Canfield dan Mark Victor Hansen yang sangat menginspirasi saya...

Inilah buku Jack Canfield dan Mark Victor Hansen yang sangat menginspirasi saya…

Kisah itu telah menginspirasi saya untuk membuat Daftar 101 Impian saya sendiri. Aturan: tulislah impian kita sebanyak mungkin, harus ditulis, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun, tambahkan dengan gambar atau hal-hal yang menguatkan lainnya, seperti gambar, souvenir, musik, dan lain-lain, dan gak boleh kurang dari 101 impian. Dan anda tahu? Kurang lebih tujuh dari Daftar 101 Impian saya sudah terwujud! Dan sampai sekarang saya sudah menuliskan 105 impian yang ingin saya capai, dan masih bertambah terus!

Dan saya percaya, impian-impian saya akan terwujud. Termasuk impian-impian tentang Inggris. Meskipun saat ini saya belum tau gimana jalannya, saya tau saya akan menemukannya. Bertemunya saya dengan keluarga Nash, pasti ada maksudnya. Saya pikir Tuhan pasti mengaturnya sebagai persiapan, supaya nantinya, pas saya sudah di Inggris, saya gak kaget lagi menghadapi orang Inggris dan kelakuannya.😀

Saya berjanji, bila saya sudah tiba di Inggris, tinggal di sana, serta berteman dengan J.K. Rowling dan para pemain film Harry Potter, saya akan segera mengirim kabar. Doakan saya ya, agar impian-impian itu segera terwujud. Dan pesan saya, buatlah juga Daftar 101 Impian anda. Saya yakin, anda juga akan merasakan keajaiban dari kekuatan impian seperti yang sudah John Goddard dan saya alami…, hanya jika anda menuliskannya! You just have to believe in your dreams. Just believe… And let your heart show you the way.

“So…, see you in England, love!”

Sampai ketemu di Inggris! \\^o^//

There can be miracles… when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe…, somehow you will
You will when you believe!
(Whitney Houston & Mariah Carey: “When You Believe”, OST. Prince of Egypt)

Comments
6 Responses to “It’s The Power of The Dream”
  1. Adi Onggoboyo says:

    Great!!! ^_^ Sampai ketemu di eropa dengan impian yang berbeda hehehe… sekarang masih nyungsep di bandung aja nih kite…

  2. Agung says:

    Hey, i feel the spirit in this post, great!
    I haven’t read that book, though i’ve seen the cover berfore. I’ll put it in my reading list then, thanks. Allright, way to go! See you in England!🙂

  3. Ales says:

    Oke, see you too insya Allah, agung…

  4. purnaning says:

    kabar2i ya Les kalo mau berangkat, adikku pasti pengen nitip minta tanda-tangannya JK Rowling, harry potter dan kawan-kawan😀

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] , Unee Adisti , Yusuf Abdulwahid , Azrul Makarim , Yuli Ana , Nove E. Variant , Erna M. Manna , Sari Alessandra , Bertha Diana , Ambar Arum , Ditra Purna Masyitah , Garindra Putra , Agus Setiawan , Ainan Ilmanda […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: