Dia.Begitu.Indah


Para penghuni langit ribut
Mereka menggelar rapat besar
Riuh-rendah bertebaran
Rasa resah menggantung di udara
Sang Langit tertarik melihatnya

Ada apa gerangan, tanya sang Langit
Tahukah engkau wahai Langit, kata Angin,
kita sedang menghadapi sebuah momen
yang sukar dilukiskan
Oh ya, tanya Langit lagi
Tadi Jibril bersua dan berkata padaku agar bersiap
Bersiap untuk apa, Langit penasaran
Bersiap untuk menyambut sang Kekasih
yang diantar Izrail melewati kita

Sang Langit terhenyak
Itukah sebabnya?
Ya, jawab Awan
Sungguh kami gembira untuk menyambutnya
Karena akhirnya dia kembali ke pangkuanNya
Tapi tadi Air datang dan menyampaikan
pesan kehilangan dari Bumi
Tidak bisa tidak, tangis pun tumpah dariku

Aku baru sadar, tutur Angin
Meski kini dia kan abadi di rumahNya,
aku tidak akan pernah melihatnya lagi di bumi
Aku takkan bisa menyapanya lagi kala dia
berdiri di bawah hamparan malam
Kulihat Matahari muram
karena tidak dapat lagi menghangatkannya
Bintang-bintang kecewa
karena tidak bisa lagi bercengkerama dengannya

Langit yang terdiam sedari tadi akhirnya berkata:
Berbahagialah, wahai penghuni langit
Tidakkah kau saksikan cahaya itu?
Yang menyelimuti bumi dan isinya?
Itulah pelita yang akan abadi
di hati penghuni bumi
Sang Kekasih mungkin telah kembali
Tapi ia tidaklah pernah mati
Ia akan terus hidup hingga akhir nanti

Dan tahukah kalian?
Baru saja kudengar seorang pujangga
dari masa yang tak terkira
melantunkan kerinduannya
pada sang Kekasih

Dia berkata:
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia…
karena dia begitu indah

[ Bandung, 7 Ramadhan 1427H ]

Thanks to PADI for the inspiration.

Comments
7 Responses to “Dia.Begitu.Indah”
  1. Agung says:

    i like the poem and the ‘begitu-indah’ nya. btw, is it about in memoriam of someone?

    • sherlanova says:

      Itu tentang Rasulullah…

      Waktu itu, pas lagi ngedengerin lagu
      Padi ‘Begitu Indah’ dari kompie yang
      disetel dengan volume kenceng, sambil
      ngeliat pengumuman lomba bikin puisi
      dari Gamais (menang lho, juara 2, he…),
      tiba-tiba aja ilham masuk….

      Subhanallah…, Allah memang Maha
      Pemberi Ilham. Dan ngomong2, udah ada
      satu ide puisi lagi tentang Rasul. Masih
      tentang wafatnya. Tunggu aja. Lagi nunggu
      waktu lowong buat mengeluarkan idenya
      dari kepala.

  2. Agung says:

    Congratulations! walau udah lewat banget ya. Pantes perasaan Begitu Indah itu udah jaman kapan…

    • sherlanova says:

      Wah, kerasa ya kalau suasana
      kisah dalam puisi itu dari jaman
      baheula?

      Alhamdulillah, dapat masukan
      dan inspirasi baru. Jazakallah
      Agung!

  3. Donny Reza says:

    puisi ini juga inspiring lho, Les🙂

  4. sherlanova says:

    Terima kasih, kang Donny!
    Eh, eh, sekarang tinggal dimana
    gitu? Masih di bandung kah?

  5. kusmayanty says:

    Subhanallah, puisinya begitu indah.
    Salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: