Tolol (Part I)


Belum ada yang mengalahkan pengalaman sebagai guru terbaik.

Pengalaman telah mengajarkan saya tentang “kebodohan”. Dan pengalaman juga yang telah memberi saya ilham tentang makna istilah berikut: ‘tolol’.

Dari pengalaman saya, istilah ‘tolol’ ternyata punya dua makna. Makna pertama merujuk pada ‘kecerdasan yang rendah’. Lengkapnya saya uraikan sebagai berikut (dengan gaya penulisan a la kamus yang saya buat-buat sendiri, hehe…):

tolol
(nomina ke.tolol.an, superlatif ter.tolol)
ajektiva

1) ofensif: rendah dalam kecerdasan atau kemampuan, lambat berpikir, bodoh

Bisa kita lihat (dan sadari) bahwa makna pertama dari ‘tolol’ ini mengandung unsur yang menghina (ofensif). Penggunaannya memberi nilai rasa yang ‘kasar’ dan ‘rendah’. Karena nilai rasa itulah, penggunaan kata ‘tolol’ dengan makna pertama terhadap orang lain akan terasa sangat menghina.

(Saya sendiri tidak nyaman untuk menggunakannya dalam melabeli orang lain. Terlepas dari kenyataan bahwa ada orang-orang yang memiliki kecerdasan rendah, saya tidak sampai hati menyebut mereka ‘tolol’. Dalam hati pun tidak. Saya memilih untuk tidak berkomentar biasanya.)

Sekarang kita lihat makna kedua dari ‘tolol’. Untuk bisa memahami makna kedua ini, saya sarankan agar pembaca menilik sejenak makna ‘bodoh’ yang pernah saya bahas di blog saya yang pertama. Bila pembaca tidak mau repot, saya kutip sebagian penjelasan saya tentang makna kata ‘bodoh’ sebagai berikut:

Kita menyebutnya ‘bodoh’ karena orang itu melakukan tindakan yang ceroboh, dan/atau kurang hati-hati, dan/atau tidak cermat dan/atau kurang pertimbangan. Dari sini, saya mendapati bahwa kata ‘bodoh’ tidak hanya mengandung aspek ‘ketidaktahuan’ dan ‘rendahnya kemampuan berpikir’, tapi juga mengandung ‘kecerobohan’, ‘ketidakhati-hatian’, ‘ketidakcermatan’, dan ‘kurang pertimbangan’.

Berangkat dari makna ‘bodoh’ yang telah saya paparkan, saya mendefinisikan makna ‘tolol’ yang kedua:

2) tolol = bodoh + sombong + arogan

——————————————————
tolol
nomina

1) orang yang bertindak tolol
2) tindakan yang tolol

Definisi ‘sombong’ yang saya gunakan adalah seperti yang didefinisikan Rasulullah SAW, yaitu ‘tidak mau mendengarkan orang lain’. Sedangkan ‘arogan’ saya definisikan dengan ‘merasa dirinya lebih baik dari orang lain dan bersikap angkuh serta nge-sok karenanya’.

Sekarang, bagaimana penggunaannya? Kita dapat menggunakan istilah ‘tolol’ dalam makna kedua tadi bila kita menemukan orang yang bersikap bodoh, dibalut dengan kesombongan dan arogansi. Sebenarnya akan lebih tepat bila penyebutan ‘tolol’ ini dianggap sebagai ‘akibat’ dari sikap ‘bodoh+sombong+arogan’. Atau dapat juga digunakan ketika kita mendapati orang yang ‘bodohnya sudah kelewatan’.

Bila anda masih bingung, mungkin contoh berikut bisa membantu:

Ada orang yang baru datang dari kampung, kini tinggal di kota besar, mencoba mengadu nasib. Satu hari, ada saudaranya datang dan menawarinya usaha. Penghasilan yang akan didapatnya terhitung lumayan untuk membantu dapur tetap ngebul setiap hari.

Tapi…, karena merasa dirinya berasal dari golongan yang ‘priyayi’ di kampungnya, tawaran usaha itu ditampik mentah-mentah. Bukan sekali ini saja sih ada orang yang menawarinya peluang usaha atau pekerjaan. “Masa’ iya saya disuruh dagang?! Ke mana muka saya mau ditaro’? Mbok ya yang elit dikit kalo nawarin apa-apa itu.”

Dan berlalulah saudaranya itu, menawarkan usaha tadi pada saudara yang lain, yang punya kemauan, yang dalam hitungan beberapa belas bulan, berhasil mendulang sukses, meninggalkan orang ini dalam keadaan gigit jari…

Kesimpulan: sudah miskin, sombong.

Mungkin contoh barusan terdengar klise bagi anda. Kalau ingin contoh yang nyata, maka inilah pengalaman saya, yang benar-benar saya alami sendiri dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 8 Febuari.

Saya datang ke kantor di hari Minggu siang, setelah bertemu teman di kampus. Jangan heran dulu bila mendengar saya datang ke ‘kantor’ di hari Minggu, di saat orang kerja normal seharusnya liburan di rumah. Kantor saya adalah sebuah lembaga pengembangan SDM yang berbasis di mesjid kampus ternama di Bandung. Wajar saja bila setiap hari, di hari Sabtu dan Minggu sekalipun, mesjid tetap ramai dan lembaga-lembaganya aktif mengadakan kegiatan.

Saya sedang duduk di depan komputer, ketika Manajer saya datang dan bertanya apa ada orang yang datang mencarinya. Belum, jawab saya. Manajer saya keluar dan saya kembali menekuri layar di depan saya.

Tak lama ada seseorang yang datang. Mencari Manajer saya. Oh, Manajer lagi keluar, jelas saya. Harap tunggu sebentar ya. Sambil menunggu Manajer, tamu tadi saya persilakan duduk. Saya mengajaknya mengobrol, saya ceritakan sedikit tentang perkembangan lembaga selama ini. Kenapa saya ceritakan perihal lembaga pada tamu ini?

Begini, lembaga tempat saya beraktivitas adalah lembaga yang mengurus pengembangan SDM dan membuka jasa layanan psikologi, seperti psikotes dan konsultasi psikologi. Sebelum lembaga SDM berdiri, di sini sudah ada sebuah biro psikologi. Sejak lembaga SDM berdiri, layanan psikologi di mesjid ditangani lembaga SDM. Nah, tamu ini adalah psikolog yang dulu turut membesarkan biro psikologi ‘era lama’ itu.

Sambil bercerita tentang perkembangan lembaga dan kegiatannya, psikologi ini mengatakan sesuatu tentang ‘Manajer kamu pernah menghentikan psikotes di tengah jalan’ dan ‘mungkin karena Manajer kamu lulusan BK dari UPI, makanya dia gak ngerti yang begitu’. Saya tidak berkomentar. Begitu Manajer saya datang, tamu tadi ditemui olehnya. Saya berkutat di depan komputer selama beberapa lama, baru kemudian saya beranjak keluar ruangan untuk solat zuhur.

Begitu saya kembali dari mesjid, saya kaget. Si Bos saya dapati sedang marah-marah pada tamu itu dengan nada tinggi. Entah apa yang mereka perselisihkan. Saya berjalan cepat-cepat kembali ke depan komputer (yang untungnya dibatasi sekat ruangan setinggi 1.7 meter). Jelas saya mendengar apa yang perselisihkan, tapi saya tidak ikut campur.

Hingga di satu titik Manajer saya begitu marahnya, sehingga saya dipanggil ke meja tamu, untuk dimintai pendapat sebagai ‘pihak netral’ oleh Manajer saya. Ternyata yang membuat Manajer saya marah adalah masalah ‘menghentikan psikotes di tengah jalan’ tadi.

Karena saya tidak tahu kejadiannya, Manajer saya menjelaskan:
Sekitar dua bulan yang lalu ada klien datang ke lembaga dan minta untuk dites psikologi, entah untuk keperluan masuk perguruan tinggi atau masuk kerja–saya tidak tahu. Tanggal psikotes ditetapkan, psikolog yang bertanggung-jawab dihubungi, dan klien tadi diminta dengan hormat untuk datang tepat waktu, yaitu pukul delapan pagi.

Manajer saya meminjamkan ruangan ke BRT mesjid untuk hari Sabtu. Perlu diketahui bahwa ruang-ruang kelas yang ada di mesjid digunakan untuk keperluan bersama dari berbagai lembaga. Hari Sabtu dan Minggu adalah dua hari yang penuh kegiatan di mesjid kami (tentu saja–kan hari libur keluarga). Oleh karena itu, peminjaman ruang harus dilakukan jauh-jauh hari dan waktu penggunaan harus tepat, karena setelah satu lembaga beres menggunakan ruang, ada lembaga lain yang sudah menanti untuk menggunakannya. Itu hari Sabtu dan Minggu, hari-hari dimana ruangan merupakan barang mewah yang benar-benar diatur penggunaannya, agar tidak melanggar hak lembaga lain yang sudah meminjam tempat juga.

Psikolog yang bertanggung-jawab juga sudah menyampaikan pada klien agar datang tepat waktu. Berarti sudah dua kali klien mendapat penegasan tentang pentingnya datang tepat waktu. Psikotes memakan waktu lima jam. Sesuai etika dalam psikotes, proses psikotes tidak boleh diganggu, harus berkesinambungan hingga selesai. Berarti psikotes akan selesai tepat jam satu siang bila dimulai jam delapan.

Pada hari itu, lembaga lain sudah mendapat izin untuk menggunakan ruangan jam satu siang. Tepat setelah ruang digunakan untuk psikotes.

Apa yang terjadi? Klien datang terlambat. Berapa lama? Satu setengah jam. Saya ulangi: SATU-SETENGAH-JAM. Berarti psikotes dimulai jam 9.30 pagi. Dan psikotes berlangsung hingga pada pukul satu siang, lembaga lain yang mau menggunakan ruangan datang dan menuntut haknya.

Psikotes dengan sangat terpaksa dihentikan dan hasil psikotes klien tadi hanya didasarkan pada tes yang telah dilaluinya saja.

Psikolog yang bertamu dan menemui Manajer saya ini mendengar kabar bahwa ‘Manajer saya YANG MENGHENTIKAN psikotes.’ Kita gunakan istilah lain: ‘Manajer saya yang memerintahkan psikotes untuk dihentikan dan klien diminat pindah ruangan tanpa alasan jelas.’ Psikolog ini tidak mengetahui bahwa klien datang terlambat, oleh karenanya tes dihentikan (sudah sewajarnya kan?).

Yang membuat Manajer saya marah adalah sikap psikolog tamu ini yang datang dan langsung menuduh Manajer saya yang-cuma-lulusan-Bimbingan-Konseling-UPI-tea-jadinya-gak-ngerti-etika-psikotes, kemudian ketika Manajer saya menyampaikan cerita yang sebenarnya, psikolog ini tetap bertahan dengan tuduhannya, dan tidak mau mengakui kalau dia mengambil kesimpulan yang salah. Bahkan dengan arogannya psikolog ini menyebut-nyebut almamaternya di Psikolog Unpad yang begini-begitu serta keanggotaannya di himpunan psikolog indonesia (saya tidak tahu apa namanya).

Bahkan Manajer saya sampai bilang begini pada psikolog tamu itu, “Anda itu ndableg ya?” sangking sudah berkali-kali dijelaskan kejadian yang sebenarnya, psikolog itu tetap keukeuh menganggap Manajer saya yang sengaja dan bertanggung-jawab atas terhentinya psikotes.

Ketika saya mencoba menjelaskan perihal ruangan yang dipakai bersama, psikolog ini bahkan tidak mendengarkan penjelasan saya sama sekali. Bagaimana? Ketika saya baru membuka mulut, psikolog ini langsung memotong, “Iya…iya…saya tahu itu.” Saya bengong. Ngomong saja belum, bagaimana dia bisa tahu apa yang mau saya omongkan.

Terang saja saya langsung naik darah dan hampir menggebrak meja–untung saya tahan tangan saya dan beristighfar. Saya yang tadinya dimintai bantuan untuk menengahi oleh Manajer saya, malah jadi marah juga pada psikolog ini. Akhirnya saya memilih untuk angkat tangan dan minta diri untuk kembali ke depan komputer.

Tak lama, setelah Manajer saya minta maaf atas kata-kata dan kemarahannya, menutup pertemuan dengan beberapa basa-basi tentang ‘semoga hubungan dan silaturahmi kita terjaga’, tamu itu pulang. Saya tetap menekuri layar komputer. Begitu Manajer saya kembali, beliau dan saya berkomentar bersamaan, “Kesimpulan…”

“Sok, akang duluan,” kata saya.

“Sakit. Orang itu sakit.”

“Kalau saya: jangan kerja sama dengan orang kayak gitu.”

Selepas itu kami tidak banyak berkomentar. Saya sempat bertanya, memangnya Manajer saya mengundang psikolog itu dalam rangka apa? Mau membahas program psikologi di lembaga?

“Enggak. Orang itu sendiri yang datang dan mau ngobrol dengan saya, katanya.”

Ooh, gitu.

Saya benar-benar tidak habis pikir sampai sekarang, kok bisa ya ada orang seperti itu? Entah arogansinya, entah kesombongannya yang membuat psikolog itu begitu menyebalkan. Saya pikir yang biasa bersikap begitu hanya orang-orang di ITB saja. Ternyata, di tempat lain, di profesi lain, orang bisa menyombongkan diri sedemikian rupa, sehingga tampak tolol di mata orang lain. Padahal punya gelar ‘psikolog’ lho…

Fiiuuuuh… Chape deeeh!

Comments
One Response to “Tolol (Part I)”
  1. aku setiawan says:

    memang, banyak psikolog yang butuh bimbingan psikologis yah …

    aku, agak tersinggung juga tuh, dia bawa-bawa almamater… aku kan UNJ, temennya UPI ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: