Kerja Bakti


Assalamu’alaikum… warahmatullah… wabarakatuh… Ditujukan kepada seluruh warga RW sembilan… Sehubungan dengan adanya kunjungan dari Bapak Walikota, pagi ini kita akan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekitar kita. Oleh karena itu, diharapkan seluruh warga RW sembilan turut berpartisipasi pada kegiatan ini… Sekali lagi, kepada seluruh warga RW sembilan… Sehubungan dengan adanya kunjungan Bapak Walikota, pagi ini kita akan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekitar kita. Oleh karena itu, diharapkan bla…bla…bla…

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum… warahamtullah… wabarakatuh!

Orang senang menipu dirinya sendiri.

Tidak semua orang, memang. Tapi banyak yang begitu.

Pengumuman macam tadi kadang-kadang saya dengar di hari Minggu pagi, lewat corong pengeras suara mesjid, yang biasanya digunakan untuk mengumandangkan azan, atau mengumumkan berita kematian warga anu yang tinggalnya di RT anu, meninggalnya jam sekian, dan akan disemayamkan pukul sekian, atau mengumumkan agar ibu-ibu yang mempunyai balita membawa balitanya ke Posyandu untuk diimunisasi.

Di tempat lain saya mendapati ‘kerja bakti’ diganti dengan ‘perbaikan jalan’. Tepatnya, ‘penambalan jalan’.

Jadi…, jalan kecil atau gang di lingkungan RT-RW yang saban hari tidak rata, berlubang-lubang, dan becek-berlumpur setelah hujan, dipastikan akan mulus seperti betis seorang gadis di hari kunjungan pejabat macam Pak Walikota atau Wakil Gubernur.

Biasa itu mah. Di banyak tempat juga begitu, gak cuma di tempat saya ajah.

Pengurus RT, RW, bahkan Kelurahan setempat bersiap siaga, dan mengajak warga setempat untuk bersiap siaga juga menyambut pejabat yang akan datang. Lingkungan dihias ‘semeriah’ namun ‘senormal’ mungkin. Di hari kunjungan, dipastikan seluruh warga adalah warga teladan dan bahagia, dengan senyum hangat dan lebar yang sangat dikagumi turis mancanegara, dengan lingkungannya nyaman dan teratur meski sederhana, rajin menabung dan membantu orangtua… (hehe, gak nyambung).

Ya. Kebanyakan orang memang senang menipu dirinya sendiri.

Begitu kunjungan pejabat usai, kehidupan kembali seperti biasa. Orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing: bergulat dengan realita hidup. Lingkungan yang pada kunjungan pejabat menjadi ‘lingkungan teladan’, dalam satu hari kembali menjadi lingkungan yang acuh tak acuh. Seiring dengan berlalunya waktu, tambalan jalan yang memang tidak diniatkan permanen itu terkikis, meninggalkan lubang-lubang lagi di jalan atau gang, sehingga orang yang lewat harus mempraktekkan keahlian akrobatnya agar tidak terciprat lumpur.

Selama di Bandung, saya tinggal di daerah kelurahan Cicadas. Tinggal di daerah pemukiman yang padat penduduk seperti ini memang menarik. Banyak sekali bahan pengamatan pengganti bengong yang bisa diperoleh di sini. Salah satunya ya tentang ‘persiapan penyambutan pejabat’ (Pe-3) seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Tadinya mau saya singkat ‘P3’. Tapi saya tidak mau tulisan ini menjadi media kampanye parpol secara tidak sengaja karena kemiripan akronim.

Saya jadi bertanya-tanya: bagaimana pihak RT/RW tahu bila ada pejabat yang akan berkunjung? Mestinya ada informasi dari ajudan atau kantornya pejabat tersebut. Karena saya memang gak ngerti masalah beginian, saya bertanya lagi: memangnya kalau ada kunjungan ke suatu area, pejabatnya mesti membuat pengumuman ya? Lagi-lagi dijawab sendiri: rasanya sih iya.

Mungkin tujuan dari pemberitahuan adanya kunjungan pejabat itu merupakan tatacara yang berlaku; sopan-santunnya, begituh. Tapi pada praktiknya, ‘pemberitahuan’ itu oleh sebagian orang justru menjadi kesempatan untuk menipu dirinya sendiri.

Ya menipu diri dengan berlagak menjadi pejabat yang baik dan bertanggung-jawab padahal hanya peduli perut sendiri. Atau berlagak memang punya jalan atau gang yang mulus di lingkungannya padahal baru ditambal dua hari sebelumnya. Atau berlagak menjalankan cara hidup yang sehat dan peduli kebersihan lingkungan padahal sebenarnya tidak.

Orang menjadikan kesempatan ini untuk menunjukkan kemunafikannya; bahwa sebenarnya dia hipokrit. Namun berhubung hipokritnya bareng-bareng, se-RT/RW, orang tidak meributkannya. Toh demi kepentingan bersama khaan? Yaah…, demi nama baik bersama khaaan?

Hipokrit.

(Tapi sekali lagi, cerita saya ini merujuk pada kasus yang saya temui di dekat saya. Tidak semua orang begitu.)

Saya kemudian bertanya lagi: kalau kunjungan pejabat ini menjadi ajang kehipokritan, yang hipokrit siapa di sini? Warga yang dikunjungi? Pejabat RT/RW/Kelurahannya yang tidak ingin ketidak-becusannya ketahuan? Atau pejabat yang berkunjung karena ingin tetap menjadi ‘Bapak Yang Senang’? Saya pikir, ketiga pihak berpotensi menjadi pihak yang hipokrit. Bisa salah satu, atau kombinasi dari tiga pihak itu.

Tapi kalau harus menjawab yang mana persisnya yang hipokrit: au ah, elap!

Ini terjadi di RW tetangga, ‘RW sembilan’ tadi. Dan ketika ada ‘sedikit’ perbaikan kebersihan lingkungan atau jalan dalam rangka menyambut kunjungan pejabat, lumayan lah, selama beberapa lama, warga sekitar bisa merasakan hidup yang ‘sedikit’ lebih nyaman juga. Namun perlu diingat, walaupun lumayan, ‘beberapa lama’ yang saya maksud tadi ‘beberapa bulan’ yang tidaklah sampai hitungan jari satu tangan.

Seperti lantunan lagu dari Nicky Astria:  Dunia ini… panggung sandiwara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: