Teman. Perbedaan.


Yang mau saya ceritakan adalah seorang teman. Dan perbedaan.

Saya sering bertanya-tanya, sejauh mana saya bisa menerima perbedaan. Selama ini saya mengklaim diri saya cukup fleksibel dalam berteman. Saya tidak mementingkan latar belakang dan status dalam berteman. Selama orang yang saya ajak berteman itu bisa nyambung dengan saya, saya sih asyik-asyik saja.

Namun pengalaman berikut memberikan pelajaran yang berbeda pada saya. Saya belajar bahwa label ‘teman’ tidak bisa selalu dijadikan pembenaran untuk menerima, apalagi memaklumi tindakan yang di luar batas. Kadang-kadang, ketika kita sudah cukup akrab dan dekat dengan seorang teman, pandangan kita terhadapnya menjadi bias. Kadang kita kesulitan untuk melihat bagaimana teman kita itu sebenarnya, karena sudah terlanjur dekat.

Bagaimana ya memulainya?

Kami berkenalan dua tahun yang lalu di sebuahprojek pelatihan. Awalnya, kami sama-sama menilai yang lain adalah orang yang sok dan nyebelin. Tapi kemudian kami menjadi akrab. Sangat akrab.

Sampai satu waktu, sebuah kejadian yang–menurut saya–aneh, terjadi. Yang aneh adalah sikap dia yang membingungkan. Mau tau dia jadi aneh karena apa? Tentang seorang laki-laki. Lebih tepatnya–ini dugaan saya saja lho–lelaki pujaannya.

Saya sih bersikap biasa saja terhadap ‘laki-laki’ ini. Dan bahkan, terus-terang, saya cenderung cuek dan meremehkannya. Tapi setiap cerita teman saya tentang laki-laki ini begitu ‘wah’. Saya yang orangnya gak mudah terkesan jadi sedikit bertanya-tanya, kenapa setelah sekian lama, tanpa angin dan hujan, teman saya begitu memuji (dan memuja) laki-laki ini.

Saya kan jadi penasaran, memangnya sehebat apa sih laki-laki itu? Mestinya sih, ada apa-apanya nih. Tapi toh saya tidak berkata sedikitpun tentang keheranan saya. Karena begitu besarnya penghargaan saya terhadap teman, saya tidak ingin mengusik apapun keinginan, kegemaran, kecenderungan, ataupun pilihannya.

Pada kejadian yang saya sebut Peristiwa I ini, teman saya tiba-tiba marah pada saya. Awalnya saya tidak menyangka kalau marahnya teman saya ini lantaran kurangnya penghargaan saya terhadap laki-laki itu. Maksud saya, saya menunjukkan sikap meremehkan laki-laki itu. Saya perlu waktu sekitar setengah jam untuk bisa menghubungkan kemarahan teman saya dengan sikap cuek saya terhadap laki-laki itu (biasanya saya cuma perlu waktu maksimal lima menit untuk menyimpulkan hal-hal begini).

Pada saat Peristiwa I berlangsung, saya merasa sangat tidak enak pada teman saya. Saya sama sekali gak ngerti kenapa dia tiba-tiba mendiamkan saya. Dia memang bilang, kalau dia perlu waktu untuk menyendiri dan pada saatnya nanti, dia akan cerita penyebabnya.

Ketika dia bercerita, sekitar dua-tiga bulan kemudian, saya sama sekali gak ngerti penyebabnya. Yang dia ceritakan sama sekali gak nyambung dengan peristiwa I–menurut saya. Walaupun merasa heran, saya tidak mengorek keterangan lebih jauh. Kalau dia sudah siap, pada saatnya nanti, dia akan cerita dengan lebih jelas lagi kok, pikir saya.

Kehidupan terus berlanjut, peristiwa bergulir. Kami tetap akrab. Ada satu dua kerikil dalam pertemanan kami, tapi kami tetap baik-baik saja.

Namun kadang saya merasa ada yang tidak beres dengan saya. Kadang saya merasa malas untuk mendengarkan omongan dia. Malas dalam artian enggan untuk menerima masukan dari dia. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya ini sombong atau bagaimana terhadap teman saya ini. Dan pertanyaan ini bukan sekali-dua kali saja munculnya. Sangat sering malah. Terutama satu tahun terakhir.

Sampai kemudian Peristiwa II terjadi. Atau tepatnya, kumpulan dari peristiwa-peristiwa kecil yang berujung pada Peristiwa II.

Dia mengeluarkan pernyataan yang membuat saya ilfil.

Saya tidak bisa menceritakan apa persisnya Peristiwa II ini. Biarkanlah hanya orang-orang yang bersangkutan saja yang tahu.

Yang jelas, kalau anda tahu pun, anda akan merasa ilfil juga dengan teman saya ini. Apalagi kalau anda tahu penampilan orangnya. Anda tidak akan pernah menyangka kalau orangnya seperti itu.

Singkatnya, dia terbiasa (atau memang kepribadiannya begitu?) untuk membuat pernyataan seenak udelnya, tanpa pikir panjang, dan tidak sensitif terhadap situasi dan kondisi lingkungan dan orang lain. Misalnya, dia berkata kalau kita sebaiknya bertindak A, menekankan betul supaya kita melakukan A itu, tapi dia sendiri tidak melakukannya.

Omdo. OMong DOang.

Contoh lainnya di Peristiwa II. Saya yang sudah dua tahunan berteman dengan dia saja, yang merasa sudah cukup memahami dia, merasa kaget dengan omongannya di Perisitwa II. Benar-benar kaget. Gak nyangka kalau dia berani untuk berbicara yang gak pantas pada orang yang lebih tua di Peristiwa II. Orang yang lebih tua lho, yang mestinya menerima penghormatan yang lebih besar daripada penghormatan ke teman sebaya.

Saya sudah tiga kali mengajak dia bicara tentang Peristiwa II. Saya juga menyarankan dia untuk meminta maaf pada orang yang bersangkutan tentang pernyataannya yang ‘enggak-banget’ di Peristiwa II. Tapi sampai sekarang dia belum melakukannya. Saya gak tau apa dia gengsi atau malu.

Firasat dan perasaan tidak enak saya ternyata beralasan.

Au ah elap!

***

Saya mencoba untuk adil dalam menyikapi Peristiwa II. Bagaimanapun kesalahannya, dia tetap teman saya. Saya mencoba untuk minta saran pada orang-orang yang saya anggap bisa membantu saya untuk menentukan sikap. Yang netral. Seperti Swiss. Dan tau gak komentar mereka?

“Ya ampuuuun…”

“Ih, udah deh gak usah dibahas!”

“Enggak banget sih!”

“Kalo laki-laki yang ngomong begitu, mungkin saya masih bisa maklum. Tapi ini perempuan?!”

“Ini unik. Baru kali ini saya nemu kasus begini.”

Anda bisa simpulkan sendiri betapa seriusnya pernyataan teman saya di Peristiwa II. Saya lega karena akhirnya saya mendapat penegasan bahwa reaksi saya terhadap pernyataan teman saya itu tidak berlebihan. Sekarang tinggal bagaimana menyampaikan pada teman saya kalau pernyataannya tidak pantas.

Dari tiga kali percobaan, tampaknya dia belum mengerti juga. Tau, tapi belum mengerti kalau dia salah. Karena saya sudah terlanjur ilfil, saya memutuskan untuk menjaga jarak dari dia untuk sementara. Orang lain memang jadi sering bertanya, kenapa sekarang saya jarang terlihat bersama teman saya itu. Jawaban yang bisa saya berikan adalah jawaban klise: “Dia lagi sibuk.”

Saya memang menghindari kemungkinan untuk ditanyai tentang hubungan saya dengan dia. Begitu ilfilnya saya dengan dia, sampai-sampai membahas tentang dia saja saya malas.

Salah satu dari orang yang saya mintai pendapat mengatakan bahwa teman saya itu benar-benar berkepribadian Sanguinis (baca buku “Personality Plus”). Kecenderungannya untuk moody, membesar-besarkan sesuatu, ekstrovert, dan selalu terhubung dengan orang lain adalah ciri khas Sanguinis. Dan ketidak-sensitifannya, kurang bisa menempatkan diri, serta berbicara tentang sesuatu meski dia tidak mengerti yang dibicarakannya, juga khas Sanguinis.

Dengan segala kelebihan dan kekurangnnya, saya masih tetap menghormatinya. Tapi di Peristiwa II, rasa hormat saya terhadapnya lenyap. Kenapa? Karena meski sudah diperingatkan, dia tetap saja berbicara yang tidak pantas dan berkata kalau sah-sah saja dia berkata seperti itu.

Uh! Itu sih sombong namanya. Arogan pula.

***

Saya adalah orang Melankolis. Orang-orang Melankolis adalah orang-orang yang mendambakan dunia yang ideal. Perfeksionis. Tidak saya pungkiri, saya punya kecenderungan untuk acuh terhadap sekeliling dan asyik dengan dunia saya sendiri, mirip anak autis. Dan saya sering diprotes karena kecuekan saya itu. Tapi toh saya berusaha untuk memperbaiki diri dan menuruti aspirasi orang lain. Saya juga berupaya untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, dan satu hal penting: SENYUM!

Tapi tidak dengan teman saya. Mungkin belum. Mungkin dia masih perlu waktu yang panjang untuk bisa menyadari kekeliruannya. Di titik inilah saya memilih untuk tidak menjadikannya teman akrab lagi. Mungkin terdengar ‘kejam’, tapi saya punya kebijakan bahwa dalam berteman kita mesti pilih-pilih.

Tolong jangan salah paham dulu. Saya pilih-pilih dalam berteman karena saya tidak mau ‘terbakar akibat dekat-dekat dengan pandai besi’ dan ‘ingin ikut harum karena berteman dengan pedagang parfum’. Saya sadar kalau saya dan teman saya berbeda. Tapi saya juga sadar bahwa dia punya prinsip inti yang tidak bisa ditoleransi oleh saya. Jadi, saya memutuskan untuk menjadikan dia acquaintance saja ketimbang friend. Apalagi close friend.

Saya berharap, satu saat nanti, mungkin dia mau berubah dan saya bisa menerimanya lagi sebagai teman akrab. Entahlah, hanya waktu yang bisa membuktikannya.

PS. Saya masih emosional dalam membahas masalah ini. Baru belakangan saya menemukan satu istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya: kecewa berat. Ya, saya kecewa berat terhadap dia.

Comments
2 Responses to “Teman. Perbedaan.”
  1. Celine says:

    waw….
    marah tuh api loh…
    *membakar dan menghanguskan*
    tapi tulisannya tetap bagus🙂
    Salaam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: