My Jilbab’s Chronicle


Ya. Inilah cerita tentang jilbab saya. Ketika saya menyebut ‘jilbab’, saya tidak mengacu pada selembar kain yang saya gunakan untuk menutup kepala—saya punya banyak kalau itu yang saya maksud. Istilah itu lebih cenderung pada satu set cara dan gaya berpakaian muslimah yang saya kenakan tiap keluar dari rumah.

Bagi yang mengenal saya, sudah tentu akan mengetahui bagaimana rupa jilbab saya tersebut. Yah, seperti yang—orang biasa menyebutnya dengan—‘akhwat’ kenakan: Tunik atau blus lengan panjang, kerudung memanjang hingga ke pinggang. Rok wajib menjadi bagian dari busana saya, plus celana panjang yang warnanya senada dengan rok dikenakan di dalam rok.

Tapi, masalahnya, saya memiliki murid privat yang masih muda-muda. Layaknya kebanyakan anak-anak lain di generasi mereka, mereka sangat sadar mode. Diantaranya ada Olive dan Brin, di kembar keturunan Denmark-Medan yang masih kelas satu SMA. Setiap kali bertandang ke rumah mereka, mengobrol dengan mereka, melihat gaya berpakaian mereka, mau tidak mau naluri mode saya terusik. Mupeeeeng… Apalagi minggu kemarin saya mendapati mereka memiliki buku koleksi foto desainer muda Eropa. Isinya ya karya desainer-desainer Eropa tersebut, yang saya akui… BAGUS-BAGUS!

“Maksudnya, kalau bukan disuruh Allah mah, buat apa saya berjilbab, gitu loh?”

Bukannya saya tidak pernah melihat remaja mengenakan pakaian-pakaian ‘gaul’ sebelumnya. Sering malah. Di mall, di jalan, di kampus, saya melihat remaja atau anak muda bergaya. Namanya juga di Bandung. Namun belum ada yang sampai mengusik diri saya sampai taraf yang intens. Paling-paling membuat saya membayangkan versi lengan panjangnya, atau bila dimodif dengan rok panjang. Apalagi sampai menerbitkan keinginan dalam diri saya untuk mencoba jenis pakaian seperti mereka, yang dengan kata lain, tidak melibatkan jilbab. Sederhananya: membuat saya membayangkan seandainya saya tidak mengenakan jilbab.

Sungguh belum ada. Belum ada yang sedemikian mengusik, sampai saya mulai mengajar si kembar tadi…

***

Saya baru mengenakan jilbab di semester terakhir kelas tiga SMA. Itu artinya enam tahun yang lalu. Saya kenakan jilbab saya dengan sukarela, setelah sekian lama ‘diarahkan’ oleh Bibi saya. Waktu itu keluarga beliau adalah satu-satunya keluarga dalam keluarga besar Ibu saya yang wanitanya mengenakan jilbab. Berikut ini adalah percakapan yang sering terjadi sebelum saya berjilbab:

Bu Dara: (dengan logat Lampung yang kental) “Kapan kamu mau pake jilbab, Les?”
Ales : “Ntar-ntar aja deh, Bu Dara…”
Bu Dara: “Ya kapan? Liza aja udah tuh.”

‘Liza’ yang dimaksud adalah adik saya yang (waktu itu) masih SMP. Bu Dara sama sekali tidak memaksa. Hanya sering ‘mengarahkan’ dan mempertanyakan ‘kapan saya berjilbab’. Ya…ya…ya… Mengarahkan. Namun, karena tidak ada paksaan, saya juga tidak merasa harus berjilbab. Dan selalu, buat apa, tanya saya dalam hati. Apalagi saat itu saya lagi senang-senangnya mengenakan celana panjang 7/8 yang terbuat dari bahan denim dan ketat. Biasanya saya padukan dengan kaus yang unik-unik modelnya.

Tapi ketika pergi ke pengajian pakaian saya lebih ‘sesuai’ tentunya. Eh, jangan salah, meskipun gaul dan tomboy, begini-begini saya rajin ikut pengajian lho! Beberapa mesjid yang ada di dekat rumah orangtua saya memiliki ustad-ustad yang canggih ilmunya. Saya semakin paham dan kenal tentang Islam, tidak hanya aspek ritualnya saja. Gak kalah deh dengan yang sudah berjilbab. Saya juga jadi tahu bedanya yang ‘pokok’ dan yang ‘cabang’ dalam Islam.

Meskipun sudah sekian banyak ilmu baru yang saya dapatkan tentang Islam, hati saya belum tergerak sedikitpun untuk berjilbab. Yang penting ‘isi’, prinsip saya waktu itu. Padahal sewaktu les di NF, saya sudah pernah ditegur oleh salah seorang pengajar Biologi lantaran saya tidak berpakaian dengan ‘rapi’ di kelas. Yang dimaksud kakak itu adalah kain yang saya kenakan untuk ‘kerudung’ cuma disampirkan sekenanya saja di kepala saya. Sudah begitu saya mengenakan kaus lengan pendek yang agak ketat. Dianggap ‘kurang rapi’ oleh beliau.

Dan juga, meskipun saya sering terkagum-kagum melihat teman-teman saya di Rohis yang kerudungnya panjang-panjang, saya belum tergerak untuk berjilbab. Senang sih melihat mereka, terkesan santun dan berbudi pekerti. Untungnya mereka bukan tipe ‘akhwat’ yang menggolongkan manusia berkelamin wanita menjadi ‘jilbaber’ dan ‘non-jilbaber’. Mereka tetap gaul dan hormat pada semua teman. Itu adalah satu poin plus yang menjadi catatan saya tentang perempuan berjilbab.

Nah, suatu hari, di satu pengajian, dibahaslah tentang ‘keimanan’. Setelah itu, ustad juga membahas tentang perintah-perintah dalam surat An-Nur. Salah satunya perintah tentang ‘memanjangkan hijab’. Dibacakanlah ayat 31 oleh sang Ustad.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Tidak ada yang istimewa. Saya sudah sering mendengarnya. Saat itu, ayat yang dibacakan oleh Ustad tidak lebih dari sebuah ayat yang akan saya catat nomor surat dan ayatnya, dengan label ‘perintah berjilbab’, yang kemudian akan menjadi satu poin dalam buku catatan pengajian.

Kemudian sang Ustad melanjutkan dengan kalimat yang kira-kira begini, “Perhatikan awal dari ayat ini: Katakanlah kepada wanita yang beriman… Ayat ini ditujukan kepada wanita-wanita yang beriman dan hanya kepada wanita-wanita yang beriman. Jadi, yang tidak beriman tidak termasuk, tidak dianggap. Sekarang, pertanyaannya, Ibu-ibu beriman tidak?”

Mendengar pertanyaan itu, muncul sikap defensif dalam diri saya. Rasanya setiap orang yang mengklaim bahwa mereka yakin terhadap agamanya akan bersikap serupa. Pertanyaan tentang keimanan adalah pertanyaan yang begitu personal. Keimanan adalah hal paling inti dari keberagamaan seseorang. Bila keimanan dipertanyakan, terlepas dari terbukti-tidaknya klaim keimanan seseorang, reaksi yang umumnya muncul adalah ‘bertahan’. Dan dalam kasus saya, kalimat ini: Tentu saja dong saya beriman!

Pergulatan itu berlangsung beberapa mili detik saja dalam benak saya. Yang kemudian terjadi adalah: Klik! Terbukalah pintu pikiran saya. Anak kuncinya cocok. Tergugahlah kesadaran saya.

“Bila mengaku beriman, maka seruan tadi harus dipatuhi, karena ayat itu hanya ditujukan pada wanita yang beriman. Kalau ternyata tidak dipatuhi, maka artinya tidak beriman dong…”, sang Ustad melanjutkan pemaparannya.

K-O. Knocked out. Telak banget.

Saya tidak lagi memperhatikan  apa yang Ustad sampaikan. Pertanyaan ‘kenapa saya mesti berjilbab’ terjawab saat itu juga:

“Kalau memang beriman, ya harus patuh terhadap (Tuhan) yang diimani. Kalau tidak, ya tidak usah mengaku beriman. Sesederhana itu.

Sederhana dan lugas. Dan saya, dengan klaim keimanan saya pada Tuhan, secara sukarela memutuskan untuk berjilbab.

***

Momen yang saya gunakan untuk berpenampilan baru adalah saat sekolah dimulai lagi setelah lebaran. Waktu itu Idul Fitri jatuh pada bulan Desember. Ternyata saya tidak sendiri. Teman sekelas saya, Siti, juga berjilbab pasca-lebaran itu. Paling tidak saya tidak sendirian.

Sebelum lebaran saya bersama Bu Dara berbelanja seragam baru dua stel. Sementara itu, baju-baju ‘main’ saya belum ada yang panjang. Paling hanya celana panjang jins dan beberapa kaus lengan panjang hibahan dari sepupu. Kerudungnya pun baru kerudung langsung yang dikencangkan dengan karet. Teman saya langsung menyarankan agar saya mengenakan kerudung dari kain yang dipenitikan biar rapi. Yaah, tetap saja, saya perlu waktu untuk mengumpulkan baju-baju penunjang ‘kostum’ baru saya. Dan saya beryukur, tidak berapa lama baju-baju panjang, rok, dan aneka kerudung kain bisa saya kumpulkan (beli) sedikit demi sedikit. Sampai sekarang.

Oh ya, kakak pengajar Biologi di NF yang waktu itu sempat bertanya begini setelah saya berjilbab, “Kamu yang waktu itu ya? Alhamdulillah, kalau begitu.”

Maksud ‘waktu itu’ adalah waktu beliau menegur saya. Saya bahkan sudah tidak ingat lagi tentang teguran itu. Tapi saya senang karena orang lain merasa senang karena saya, hehe…

***

Tak dapat dipungkiri, keinginan untuk berpakaian dengan busana yang menurut saya ‘keren dan anggun’ banget, sering datang. Terutama busana rancangan desainer populer. Namanya juga perempuan. Masalahnya, busana-busana tersebut tidak menyertakan kerudung dalam paketnya. Tapi bagus banget. Baguuuus banget. Akhirnya yang bisa saya lakukan adalah melihat dan mengagumi saja. Kalaupun ada busana muslimah yang dikeluarkan oleh beberapa desainer lokal, belum ada yang cukup kasual untuk saya kenakan sehari-hari. Terlalu formal. Cocoknya dipakai saat pergi ke pesta atau acara resmi. Yang saya perlukan adalah yang kasual.

Untuk menjawab tuntutan itu, yang saya lakukan adalah memadukan rok model A dari bahan denim dengan tunik-tunik beraneka corak yang bisa ditemukan di Pasar Baru. Pengen mencoba yang berbeda, tapi ya itu, yang berbeda dan saya nilai bagus ternyata bukan busana yang sesuai untuk muslimah.

Konflik antara keinginan dan komitmen saya untuk patuh pada perintah berjilbab memang sedang menguat belakangan ini. Dulu, saat baru berjilbab, keinginan apapun yang bertentangan dengan peraturan dalam Al Quran, langsung saya tepis. Dalam istilah lugasnya, saya ‘bunuh’. Saya melakukannya tak lain karena saya berkomitmen untuk ‘taat dan patuh pada ajaran Islam’. Pokoknya saya harus sesempurna mungkin menaati perintah.

Namun yang terjadi adalah pengingkaran terhadap fitrah saya. Saya mengingkari bahwa saya punya keinginan manusiawi, yang kadang memang bertentangan dengan norma-norma dalam Islam. Bahkan saya sampai pada titik dimana saya mengingkari bahwa saya punya perasaan. Yaaa…, lama-kelamaan, saya ‘bengong’ deh. Hampa. Gak beda dari robot. Wah, wah, pikir saya, ini sih gak sehat namanya. Saya merasa kehilangan kemanusiaan dalam kepatuhan saya.

Tapi sekarang saya memilih respon yang berbeda. Saya santai saja menyikapi keinginan-keinginan yang muncul. Saya menerima kenyataan bahwa keinginan untuk tidak berjilbab itu memang ada. Saya biarkan konflik batin terjadi. Dan ini membuat saya tersadar sepenuhnya bahwa inilah yang dimaksud dengan ‘bersabar dalam ketaatan’. Komitmen dan kerelaan saya berjilbab diuji di sini. Maksudnya, kalau bukan disuruh Allah mah, buat apa saya berjilbab, gitu loh? Gak bisa menikmati rambut yang tergerai bebas diterpa angin, gak bisa memakai baju-baju bagus yang saya sukai, dan kadang, saya merasa kurang fashionable!

Saya bahkan berpikir begini: “Ya Allah, aku berjilbab karena patuh padaMu. Kalau ganjarannya gak besar, wah…bener-bener deh”, dengan nada sedikit merajuk. Namuun…, saya tetap yakin ada kebaikan dalam setiap perintahNya.

Hasilnya? Lebih baik! Saya merasa lebih hidup dan merasa bahwa saya manusia yang seutuhnya. Maksudnya, saya mengikuti perintah berjilbab bukan semata karena kepatuhan buta. Saya mengikutinya dalam keadaan rela sepenuhnya. Bukankah tidak ada paksaan dalam beragama? Iya, kan? Ya gitu, deeeh!

Mudah-mudahan pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi Anda semua. Terutama para muslimah yang pernah dan/atau sering mengalami konflik internal dan lika-liku dalam berjilbab seperti saya. Tapi tenang saja, itu wajar kok. Wajaaar… banget. Muslimah juga manusia kok.

Comments
2 Responses to “My Jilbab’s Chronicle”
  1. Donny Reza says:

    Kan masih bisa pake di kamar sendiri Les? atau kalau nanti, insya allah, sudah punya suami, kan bisa di depan suami pakenya?😀 tapi beda ya? tetep ada perasaan pengen show off juga ke orang lain ya?😀

    Saya sepenuhnya setuju, berjilbab tidak ada bedanya dengan perintah shalat dan shaum, pilihannya kan cuma taat atau tidak taat. Saya tidak cukup punya keberanian untuk mengatakan kalau jilbab adalah budaya arab untuk dijadikan pembenaran nggak pake jilbab.

  2. Okky says:

    Entahlah….

    Salah satu hal yang paling menentramkan dari

    wanita bagiku adalah jilbabnya.

    Ada keteduhan ketika melihat seorang

    muslimah memakai jilbab. Semacam rasa

    terlindungi.

    (Andai aku boleh pakai jilbab, he..he..),

    Jadi ingat lagu belajar pake jilbabnya padvoca

    pas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: