Friends


Selepas SMU, tidak semua dari kita menempuh jalan yang berbarengan. Beda universitas, beda prioritas: antara langsung kerja, membangun bisnis, nikah, atau kuliah–atau yang lainnya. Atau… memang sekedar beda nasib aja.

Beda jalan, beda perkembangan. Beda komunitas, beda aktivitas. Setiap orang berkembang menurut keadaannya masing-masing. Ada teman yang kalo kita temui masih ramah seperti dulu, misalnya. Ada yang udah lupa dengan nama kita, cuma ingat wajah. Namun ada juga yang masih kenal dengan kita, tapi udah gak nyambung lagi entah kenapa.

Ternyata, dari berbagai keadaan yang memungkinkan kita dan teman-teman SMU terpisah jauh lahir-batin, masih ada di antara teman-teman saya, yang walaupun mereka beda universitas, beda lingkungan, beda keadaan, setelah saya temui kembali, mereka tetap nyambung dengan saya. Sudah bertahun pun, mereka masih memberikan kualitas pertemanan yang sama seperti ketika kami masih SMU dulu.

Kami bisa dibilang satu geng, walau tidak resmi. Dan saya satu-satunya perempuan.

Pertemanan kami terjadi sejak kelas satu SMU. Saya waktu itu didaulat sebagai ketua kelas. Entah karena saya ketua kelas, entah karena memang sifat saya, saya akrabnya dengan anak-anak lelaki, terutama dari geng saya ini. Dengan mereka saya bisa santai bergaul (bukannya gak bisa dengan yang lain). Tapi dengan mereka, ada yang berbeda.

Just for your information: Yang satu sebenarnya teman sejak SMP. Gembong, panggilannya.

Mungkin karena, baru saya ketahui belakangan, kami sama-sama punya idealisme yang kuat.

Yang kerja di LIPI Bandung baru-baru ini bilang ke saya, “Gua mah mana bisa kerja kayak Gembong gitu, kerja di BUMN. Gua terlalu kritis (kalo ada ketimpangan apapun gak akan diem).”

Si Gembong yang barusan disebut-sebut, yang udah kerja di Surabaya, juga mengungkapkan pengakuan yang serupa.

“Ah, gua mah males ngambil kesempatan kuliah S2 dari kantor itu. Terlalu banyak muatan politisnya… Gua sendiri gak terlalu betah duduk terus dalam ruangan, Les. Meski dapet banyak tawaran kerja di lapangan, gua gak ambil.”

“Kenapa emangnya? Gak enak gitu kerjaannya? Atau gak nyaman di hati”

[Udah dapet firasat sejak dia cerita tentang beasiswa S2 yang terlalu banyak muatan politisnya itu]

“Gak nyaman aja di hati.”

Entah sebanyak apa mudarat yang akan Gembong dapet kalo dia ke lapangan. Namanya juga projek di Indonesia…

[Saya sendiri memilih untuk gak kerja kantoran lantaran saya kurang suka diatur-atur, apalagi kalo lingkungan kerjanya kotor. Mending ngejalanin bisnis.]

Teman….

Sekedar teman yang mampir dalam hidup sih, tak terhitung. Tapi teman yang sehati-sepemikiran, gak gampang diperoleh.

Makanya saya sangat bersyukur bisa berjumpa dengan mereka lagi…

Comments
2 Responses to “Friends”
  1. Donny Reza says:

    Ya, ya … dunia project ternyata memang sangat kotor. Beberapa saat lalu saya masih sangat naif dengan dunia ini, tapi ketika pada akhirnya ternyata saya tahu yang sebenarnya, sangat tidak nyaman di hati. I told you about my resignation plan, right? via email? Ya, karena ituuuu … Idealisme saya menjerit, atau mungkin keimanan saya. Makanya, (sudah sejak sangat lama) pengen berwirausaha juga. Jadi pegawai kantoran bikin lemah. Itu yang saya nggak suka. Tinggal nunggu waktu saja untuk realisasi kan rencana itu … sesegera mungkin.

    Hehe, jadi curhat … Bisnis apa ya enaknya? dengan modal minim ?😀

  2. sherlanova says:

    Mau bisnis dengan modal minim? Serius nih?

    Kalo mau, saya bisa tunjukin. Hubungin aja nomor saya kalo udah mbaca komentar saya ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: