“Subuh-subuh ada tiga orang tuh anaknya. Jam limaan lah. Mereka nyebar ke seluruh komplek.”
“Emang disuruh mereka sama orangtuanya.”
Saya duduk di kursi tengah mobil Avanza itu, menyimak penuturan bapak tadi tentang fenomena ‘maling mangga terang-terangan’ yang dialami warga komplek Baitusalam.
Saudaranya menimpali, “Yah, mereka akan tetep miskin dengan kelakukan itu.”
Sudah bukan rahasia lagi kalau anak-anak kecil yang tinggal di kampung perbatasan komplek kerap menyelinap ke halaman
rumah-rumah (more…)
Categories: pengamatan
Tagged: a glimpse, kontemplasi
“Kata adik saya, Ales pernah tinggal di luar negeri kan?”
Ha?
[Lihat di sini]
Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Percakapan berikut terjadi baru-baru ini:
“Errr, 530 waktu tahun 2003…”
“Hah?! Tapi kata Firman TOEFL kamu di atas 600, Les! (more…)
Categories: Serba-serbi, lah!
Tagged: a glimpse
Apa sih gunanya menuliskan cerita-cerita dari hari kita?
Ada yang hilang dari hari-hari saya ketika saya tidak menulis di jurnal harian saya.
Kalau dihitung-hitung, sejak tahun 2009, yang saya lakukan adalah menempel tiket bioskop, bon pembelian, bon restoran, tiket perjalanan, dan tempelan-tempelan lainnya, yang menandakan peristiwa-peristiwa berkesan dari hari-hari saya.
Saya kadang merasa kehilangan. Tapi lebih sering merasa kalau menuliskan kegiatan harian itu tidak terlalu penting lagi sekarang. Entahlah, kadang rindu menulis, kadang tidak.
Kesibukan menelan saya. Dan saya kehilangan tempat untuk bercerita tentang hal-hal yang (mungkin) hanya saya yang mengerti.
Blog saya biarkan selama berbulan-bulan. Padahal blog adalah tempat terbaik untuk berbagi cerita tentang saya di dunia maya. Hhhhh…., jadi kangen menulis lagi.
Mudah-mudahan ini jadi awal.
Categories: Serba-serbi, lah! · melankolis
Tagged: a glimpse