Memasak. Dan memakannya.

Tumis tahu dengan udang, tomat, dan cabe hijau...

Sejak menikah, saya punya kegiatan baru: memasak. Sebagai professional housewife (ciee… :P ), saya memang gak bisa jauh-jauh dari kegiatan yang satu ini. Kalau dulu, sebelum menikah, suplai ransum harian saya didapat dari warung nasi Bapak Padang (a.k.a induk semang kos saya), maka kini, setelah punya hubby, mau tidak mau ya saya harus masak laaa… Namanya juga ‘istri teladan’, hehee…

(Oh ya, pengumumaaaan! Saya udah nikah lho :mrgreen: … Kemaren-kemaren sibuk hanimun niih *sengaja bikin ngiri*, makanya baru ngisi blog lagi sekarang, hehe…. Oh ya, perkenalkan, suami saya: Ben.)

Tapi rasa cinta dan bakti pada suami bukanlah satu-satunya sebab yang mendorong saya untuk memasak setiap hari. Ada dua alasan lain yang memotivasi saya: Pertama, alasan kesehatan. Beberapa waktu sebelum menikah, Ben sempat melakukan medical check-up. Seminggu kemudian, Ben pun bercerita pada saya, yang waktu itu masih berstatus ‘calon’ istrinya, tentang hasilnya. Semuanya oke kecuali satu hal: kadar trigliserida dalam darahnya sangat tinggi. Bila ambang batas normal kadar trigliserida seseorang adalah 150, maka kadar trigliserida Ben dua kali lipatnya, alias 300!

Mendengar itu, saya jadi sedikit mencak-mencak pada Ben. Bukannya apa-apa, usia Ben masih tergolong muda, tapi keluhan ‘kesemutan’ atau ‘pusing kepala’ atau ‘telapak kaki terasa panas’ tiap hari saya dengar. Seperti kakek-kakek saja, pikir saya. Saya juga tahu dari adik saya, bahwa kadar trigliserida yang tinggi, seperti juga penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis—ya, a-te-ro-skle-ro-sis), merupakan faktor resiko yang sempurna untuk terkena serangan jantung atau kematian mendadak. Dan saya jelas-jelas tidak mau menjadi janda di usia muda. Maka sayapun berjanji pada diri sendiri, bahwa segera setelah menikah, pola makan Ben yang kaya-akan-sate-sapi-nasi-padang-iga-bakar-serta-menghabiskan-rata-rata-delapan-puluh-ribu-rupiah-satu-harinya itu harus segera dihentikan. Saya akan membantunya menurunkan kadar trigliserida yang ‘mengerikan’ itu, sekaligus menerapkan pola makan sehat. Saya harus memasak.

Kedua, alasan ekonomis. Tadi saya sudah menyebutkan bahwa di kantor, Ben bisa menghabiskan rata-rata delapan puluh ribu rupiah untuk makan siang. Sebagai anak dari orangtua yang memiliki usaha restoran, saya tahu persis bahwa keuntungan yang diperoleh dari usaha rumah makan bisa mencapai 100%. Bahkan kadang-kadang lebih, bergantung lokasi restoran dan servisnya. Dengan kata lain, bila modal bahan baku untuk membuat satu porsi, misalnya, cah kangkung standar adalah tiga hingga lima ribu rupiah (bergantung resepnya, apakah ditambah dengan udang atau jamur atau semacamnya, atau tidak), maka harga jualnya berada di kisaran lima hingga sepuluh ribu rupiah. Jadi, daripada Ben mengeluarkan delapan puluh ribu rupiah untuk sekali makan, lebih baik uangnya dikasih ke saya dan bisa saya gunakan untuk masak makanan enak selama tiga hari! Untuk dua orang lagi!

Maklum, namanya juga ibu rumah tangga, hemat dan cermat adalah nomor satu. Lagipula, dengan memasak sendiri, kebersihan dan kadar lemak makanan bisa saya kontrol. Bukan cuma untuk menjaga kesehatan Ben, tapi juga buat saya yang ingin tetap langsing semampai sampai tua nanti, hehe.

Seperti yang Tukul bilang, “Flying watch!

Sewaktu masih lajang, yaitu sejak SMA hingga sebelum menikah, saya memang jarang memasak. Selama tujuh tahun tinggal di Bandung (sejak kuliah), yang namanya ‘Ales’ dan ‘memasak’ terlihat bersama adalah sesuatu yang langka. Bukannya apa-apa, setelah saya hitung-hitung, dibandingkan memasak makanan untuk satu orang, lebih hemat dan praktis bila saya membeli nasi bungkus di warung makan. Dengan uang lima belas hingga dua puluh ribu rupiah, saya bisa makan dengan makmur selama satu hari. Mau makan dengan apa hari itu, tinggal tunjuk saja dan membayar. Tapi bila memasak sendiri, belum tentu saya bisa makan dengan ayam atau ikan goreng.

Begini nih kalau saya masak sendiri: satu malam sebelum atau pagi-paginya, saya harus merencanakan mau makan apa saya hari itu. Sudah begitu, bahan makanan yang tersedia di pasar tentu saja tidak bisa dibeli dalam jumlah kecil, karena biasanya dijual per ikat atau per kilo atau per bungkus. Mana bisa kan saya beli tempe dua iris saja? Bayam juga minimal satu ikat. Apalagi ikan atau ayam. Mana enak membeli ikan atau ayam hanya satu ekor/potong saja. Belum lagi bumbu, minyak goreng, dan pernak-pernik memasak lainnya. Belum lagi proses memasaknya yang memakan waktu minimal 30 menit. Apalagi sebagai anak kos saya tidak punya kulkas (hebat sekali bila anak kosan punya kulkas di kamarnya–itu mah punya rumah namanya). Bahan makanan yang dibeli di pasar harus saya habiskan hari itu juga. Karena kalau tidak, besoknya saya mulai mencium aroma TPS.

Aaaaargh! Ribet deh, pokoknya. Saya keburu lapar duluan, hehe…

Nah, mungkin teman-teman berpikir, setelah menikah, apakah saya lantas kelimpungan karena secara mendadak harus memasak setiap hari? Jawabannya ‘tidak’. Ibu dan juga Uwak-Uwak saya lainnya adalah jago masak. Akibatnya, mau tidak mau saya juga harus bisa memasak. Sejak SMP kelas dua saya sudah dilatih untuk memasak. Apalagi bila orangtua saya keluar kota; yang bertanggung-jawab atas menu makanan adik-adik saya, yaaa, saya. :(

Tapi saya jadi bisa memasak. Meskipun sejak SMA akhirnya dibebas-tugaskan dari tugas itu (maklum, harus mempersiapkan diri menghadapi kuliah), setelah sekian tahun vakum, ternyata saya masih bisa memasak! Dan bisa dimakan lagi! :mrgreen: Padahal adik saya sendiri meragukannya karena dia jarang melihat saya memasak. (Ngomong-ngomong, dia jago membuat kue lho…)

Anyway, sekarang kita lihat beberapa hasil pekerjaan saya selama dua bulan belakangan:

Tongkol cabe hijau.

‘Tongkol Cabe Hijau’:

- 5 iris ikan tongkol yang sudah diasinkan (pindang tongkol)

- 2 ons cabai hijau besar

- 5 siung bawang putih

- Garam dan gula secukupnya

- 1 batang serai

- 3 cm lengkuas
Dan ini adalah resep sup ayam a la Ales :D :

Sup ayam 'ekstra pedasss' dengan wortel dan tomat (ekstra lada buat yang sedang flu).

‘Sup Ayam Ekstra Pedas’:

- 1/4 kg ayam

- 6 batang wortel, iris setebal 0.5 cm

- 3 bonggol jagung, pipil

- 3 butir tomat, belah 8

- 3 sdt lada putih butiran

- Bawang putih, bawang merah

- Daun seledri secukupnya

- Garam dan gula secukupnya

Tambahkan bumbu kaldu ayam R*yco Spesial bila perlu (hehe, gak apa lah, promosi sedikit). Bumbu instan ini ternyata tanpa MSG lho, berdasarkan apa yang saya lihat di kemasannya. Maklumlah, saya ini penganut ‘masakan tanpa MSG’.

Tidak bisa dipungkiri bahwa MSG memang membuat hidup lebih hidup. Rasa masakan memang mak nyus bila kita memberi MSG, gurih bukan buatan. Tapi itu hanya buat yang memang maunya serba instan tanpa memusingkan akibatnya. Padahal, mendapatkan rasa gurih nan mak nyus itu gampang. Kunci kegurihan itu, menurut Uwak saya (terima kasiiiiih atas ilmunya, Bu Dara sayang), adalah protein hewani. Lebih spesifiknya lagi, yang kolesterolnya tinggi, hahaha. Tapi itu bukan masalah. Asalkan jumlahnya diatur agar tetap dalam batas yang wajar, maka bahan makanan berkolesterol tinggi tadi tidak akan mengganggu kesehatan (kuncinya memang ‘cukup’, bukan ‘berlebihan’), dan kita akan mendapatkan masakan yang menggoyang lidah.

‘Penyedap rasa’ alami yang sering saya gunakan untuk membuat tumisan lezat adalah udang atau cumi. Tapi udang lebih praktis karena bisa dihaluskan bersama bumbu lainnya seperti bawang dan cabai. Untuk masakan yang pada dasarnya sudah berisi daging atau tulang, kuncinya adalah kita harus berani bumbu. Bumbunya harus lebih banyak. Kemudian kita harus membubuhkan garam dan gula dalam takaran yang tepat, yang sangat bergantung pada selera masing-masing. Intinya mah, memang ‘jam terbang’ memasak; berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berlatih…

Oh ya. Menu-menu di atas saya masak tanpa resep. Semuanya berdasarkan pengalaman dan hasil dari icip-icip masakan orang lain (ya masakan kokinya warung nasi atau rumah makan yang saya kunjungi). Oleh karena itu saya tidak bisa memastikan, berapa banyak garam, gula atau bumbu lain yang mestinya saya bubuhkan ke masakan. Kalau keasinan sedikit, yaaa, tak apo la yaa…

Pada dasarnya saya senang yang praktis-praktis. Termasuk untuk urusan memasak. Untungnya Ben tidak keberatan, karena menurutnya, asal rasanya enak, tidak masalah, hehe. Karena praktis itulah, menu masakan yang paling sering saya buat adalah gorengan dan tumisan: gorengan untuk lauknya dan tumisan untuk sayurnya. Ikan, telur, daging, tahu, tempe… semuanya digoreng (jadi ingat lagunya Enno Lerian, dulu waktu dia masih imut). Bila sedang niat, maka lauk-lauk tadi saya campur dengan sambal goreng. Untuk sayurnya, saya tidak pernah merancang isi tumisannya dengan serius. Apa saja yang tersisa di kulkas, bisa dijadikan tumisan. Yang penting warnanya harmonis :D . Racikan isi serta bumbunya pun standar: bawang putih, bawang bombay, 2-3 jenis sayur (kombinasi tauge-sawi, wortel-jamur-tomat, sawi putih-jagung, bayam-jagung, dan seterusnya), ditambah dengan tahu atau udang, ataupun keduanya (bergantung persediaan). Kadang-kadang saya beri irisan cabe rawit ataupun cabe hijau, bila Ben sedang kumat ngidam-pedasnya.

Ben juga doyan ngemil. Sementara itu saya tidak. Tapi, sekali lagi, sebagai istri teladan dan cinta pada suami *halah*, saya harus menyediakan cemilan yang sehat. Maka saya buatlah bubur kacang hijau, kadang puding susu. Kadang-kadang, kalau lagi malas memasak bubur atau puding, saya belikan saja dia pisang, pepaya, roti tawar, atau biskuit gandum. Pokoknya dijamin makmur deh!

Dasar ya? Ibu rumah tangga, ibu rumah tangga… ;)

Comments
11 Responses to “Memasak. Dan memakannya.”
  1. michelle says:

    Hahaha. Dasar ya. Ibu rumah tangga, ibu rumah tangga. ;p But this is sweet, Teh Aless… >.< Ben beruntung sangat :) *mampir ke FB-nya Ibnu Hartawan :p

    Semoga selalu berbahagia, Mrs. Housewife! Hahaha. :)

  2. srhie says:

    ya ampun les kirain gw doank yg slalu ngerasa ky gtu tiap mau masak,hehe….secara gw ga prnah masak dirumah!! alhamdulilah suami pgertian jd ga pnh bosen liat menux yg serba “digoreng”,wkwkwk…

  3. mita says:

    oh nooo…ales…welcome to the jungle!!! :D :D

  4. Irfan AD says:

    wah, teh ales penganut masakan tanpa MSG juga tho…
    oya teh, ilmu uwak teteh tentang kegurihan ada pada lemak hewani bener juga.
    karena glutamat juga secara alami terkandung pada daging, susu, keju, tomat, jamur dan beberapa sayuran lain. hanya porsi nya beda2 antara bound glutamate dan free glutamate.
    kalo di MSG, semuanya free glutamate. itu yang menurut beberapa riset bersifat excitotoxin.

    • sherlanova says:

      Ho-oh… :D
      BTW, bedanya bound glutamate sama yang free apa?
      *Kurang paham istilah kimia*

      • Irfan AD says:

        glutamat itu kan sebenarnya asam amino yang secara alami ada di alam.
        asam amino kan penyusun protein. jadi sebenarnya banyak terkandung dalam makanan berprotein (berkantung komposisi proteinnya jg sih). tapi dalam bentuk polimernya. saling berikatan dengan asam amino lain. itu yang disebut bound glutamate.
        kalo yang free, gak terikat dengan asam amino lain. jadi dlm bntuk monomer gt.

        walaupun pada akhirnya yg bound juga akan dicerna menjadi free…
        tapi dalam fisiologi tubuh, banyak pertimbangan, misal:
        yg free bisa bekerja di lidah. mempengaruhi syaraf sensoris di lidah. makanya bikin makanan jd gurih. disini bs trjadi byk kemungkinan ttg apa yg dilakukan si free glutamat tsb thd syaraf2 di lidah, atau bs langsung diabsorpsi via pembuluh darah sub lingual (bawah lidah) yg langsung “nyambung” ke jantung. sementara si bound glutamat, belum bisa bekerja krn masih dlm bentuk polimer. belum bs diabsorpsi jg krn trlalu besar.

        sbnrny byk kemungkinannya. sy jg masih nyari2 jurnal yg rinci soal ini sih teh.

  5. mayuko says:

    Teteeeh, ada cara masak praktis juga untuk daging/ikan yg ternyata hasilnya enak, teh.. dipanggang pake ha*py call. Pertimbanganku cara ini selain 15 menit jadi (dari ulek bumbu sampe mateng), juga ngurangin goreng2-an yg bs jd faktor penambah trigliserida itu, Teh.
    (eniwei resepnya kucomot :D )

    • sherlanova says:

      Hohohoo…

      Ha*py Call adalah salah satu perlengkapan masak
      yang bakal saya masukkan dalam daftar alat masak
      impian (‘impian’ karena dananya belom ada -_-”).

      Nanti ya, nanti…, insya Allah, saya bakal ngoleksi
      semua alat masak canggih dan berkualitas itu. Bukan
      karena saya tukang koleksi peralatan masak mahal,
      tapi karena sejak rajin masak, saya sadar bahwa
      alat masak yang mahhal-mahhaal itu memang
      memberi kualitas aktivitas memasak dan hasil
      memasak yang yahhud…

      Sekarang saya bersyukur dan cukup puas dengan
      wajan anti-lengket bahan teflon dulu, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.