Para penghuni langit ribut
Mereka menggelar rapat besar
Riuh-rendah bertebaran
Rasa resah menggantung di udara
Sang Langit tertarik melihatnya
Ada apa gerangan, tanya sang Langit
Tahukah engkau wahai Langit, kata Angin,
kita sedang menghadapi sebuah momen
yang sukar dilukiskan
Oh ya, tanya Langit lagi
Tadi Jibril bersua dan berkata padaku agar bersiap
Bersiap untuk apa, Langit penasaran
Bersiap untuk menyambut sang Kekasih
yang diantar Izrail melewati kita
Sang Langit terhenyak
Itukah sebabnya?
Ya, jawab Awan
Sungguh kami gembira untuk menyambutnya
Karena akhirnya dia kembali ke pangkuanNya
Tapi tadi Air datang dan menyampaikan
pesan kehilangan dari Bumi
Tidak bisa tidak, tangis pun tumpah dariku
Aku baru sadar, tutur Angin
Meski kini dia kan abadi di rumahNya,
aku tidak akan pernah melihatnya lagi di bumi
Aku takkan bisa menyapanya lagi kala dia
berdiri di bawah hamparan malam
Kulihat Matahari muram
karena tidak dapat lagi menghangatkannya
Bintang-bintang kecewa
karena tidak bisa lagi bercengkerama dengannya
Langit yang terdiam sedari tadi akhirnya berkata:
Berbahagialah, wahai penghuni langit
Tidakkah kau saksikan cahaya itu?
Yang menyelimuti bumi dan isinya?
Itulah pelita yang akan abadi
di hati penghuni bumi
Sang Kekasih mungkin telah kembali
Tapi ia tidaklah pernah mati
Ia akan terus hidup hingga akhir nanti
Dan tahukah kalian?
Baru saja kudengar seorang pujangga
dari masa yang tak terkira
melantunkan kerinduannya
pada sang Kekasih
Dia berkata:
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia…
karena dia begitu indah
[ Bandung, 7 Ramadhan 1427H ]
Thanks to PADI for the inspiration.
7 responses so far ↓
Agung // October 17, 2009 at 9:27 am |
i like the poem and the ‘begitu-indah’ nya. btw, is it about in memoriam of someone?
sherlanova // October 19, 2009 at 9:51 am |
Itu tentang Rasulullah…
Waktu itu, pas lagi ngedengerin lagu
Padi ‘Begitu Indah’ dari kompie yang
disetel dengan volume kenceng, sambil
ngeliat pengumuman lomba bikin puisi
dari Gamais (menang lho, juara 2, he…),
tiba-tiba aja ilham masuk….
Subhanallah…, Allah memang Maha
Pemberi Ilham. Dan ngomong2, udah ada
satu ide puisi lagi tentang Rasul. Masih
tentang wafatnya. Tunggu aja. Lagi nunggu
waktu lowong buat mengeluarkan idenya
dari kepala.
Agung // October 20, 2009 at 12:34 pm |
Congratulations! walau udah lewat banget ya. Pantes perasaan Begitu Indah itu udah jaman kapan…
sherlanova // October 22, 2009 at 7:42 am |
Wah, kerasa ya kalau suasana
kisah dalam puisi itu dari jaman
baheula?
Alhamdulillah, dapat masukan
dan inspirasi baru. Jazakallah
Agung!
Donny Reza // October 22, 2009 at 8:03 am |
puisi ini juga inspiring lho, Les
sherlanova // October 22, 2009 at 1:29 pm |
Terima kasih, kang Donny!
Eh, eh, sekarang tinggal dimana
gitu? Masih di bandung kah?
kusmayanty // October 31, 2009 at 8:00 pm |
Subhanallah, puisinya begitu indah.
Salam kenal.