To Give, Share, and Inspire

Kenapa Nasi dan Ayam Goreng Sih?

October 12, 2009 · 1 Comment

Jadi, mereka jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memesan nasi dan ayam goreng?

Tiba-tiba saja pikiran itu melintas di kepala saya. Saat itu saya sedang duduk bersama adik saya di salah satu restoran cepat-saji, yang katanya, restoran ‘khas Amerika’ (demi kesopanan, saya tidak akan menyebutkan restorannya). Kami sedang melakukan salah satu kegiatan jalan-jalan dan wisata kuliner kami, dan kali ini kami penasaran ingin mencoba menu Mango Chicken Pocket yang katanya bikin ‘AWddicted’ tea.

(Hehe, ketahuan deh nama restorannya…)

Begitu duduk di meja untuk dua orang, saya mengamati kiri dan kanan saya. Bukan karena saya usil, tapi karena tidak ada kerjaan. Adik saya masih antri menunggu pesanan. Jadilah saya mengamati orang-orang di sekitar saya. Awalnya saya hanya memperhatikan betapa ajaibnya penampilan beberapa orang, dengan celana super pendek dan sepatu hak tingginya, atau dengan tampang preman dan gaya petantang-petentengnya, tapi pakai kawat gigi.

(Tapi sisanya normal kok. Ingat, ini di mall, tidak ada bedanya dengan pasar. Orang boleh berpakaian sesuka hatinya dan tetap menyebutnya ‘mode’.)

Kemudian saya melihat apa yang mereka makan.

Meja sebelah kanan berisi satu keluarga plus pembantunya: paket nasi dan ayam goreng.

Meja sebelah kiri berisi ibu dan putrinya: paket nasi dan ayam goreng.

Meja di sekitar jam sembilan dan sebelas: paket nasi dan ayam goreng. Ditambah kentang goreng mungkin.

Loh? Loh?

Dari semua meja yang saya perhatikan, kecuali meja yang ada di luar restoran yang tertutup orang-orang di meja arah jam sembilan-sebelas, yang dimakan adalah nasi dan ayam goreng. Hanya di meja saya saja yang ada Mango Chicken Pocket dan onion ring kentang goreng. Saya tidak melihat ada yang memesan burger atau menu non-indonesia lainnya.

Saya ceritakan pikiran saya itu pada adik saya. Dan dia berpendapat:
“Yah, mungkin karena yang dianggap ‘makan’ itu ketika sudah makan nasi, jadinya, ya…, pesen itu deh…”

Saya manggut-manggut. Dalam hati saya berkomentar, dasar perut orang Indonesia!

Terus terang saya heran. Saya punya anggapan, kalau saya wisata kuliner atau makan di luar, apalagi di restoran cepat-saji, tentunya saya akan memilih menu yang tidak akan saya jumpai di meja makan rumah saya. Saya akan memilih makanan yang berbeda. Jadi, tujuan saya makan di restoran cepat-saji adalah menikmati menu seperti burger ala Amrik plus kentang goreng, bukan sekedar mencari kenyang semata. Kalau nasi dan ayam goreng, saya bisa membuat sendiri tuatau beli di komplek rumah saya.

Dan kalaupun misalnya alasan mereka makan di resto cepat-saji adalah cari ’suasana’, kalau menurut saya sih,  restoran cepat-saji bukan tempat yang cocok untuk ’suasana’. Saya akan mencari bistro atau restoran etnik yang khas. Yang pemandangannya jelas-jelas bagus.

Jadi buat apa repot-repot makan di restoran cepat saji kalau yang dipesannya teteep nasi dan ayam goreng? Maksudnya, sedari awal  restoran-restoran itu memasangkan ayam goreng dengan nasi, bukan ayam goreng dengan kentang goreng. Tentunya pemiliknya sudah menyadari sesuatu dari perilaku konsumennya bukan?

Mungkin biar gaya aja, makan di restoran cepat saji. “Bagian dari gaya hidup modern,” aku mereka.

Tapi, mungkin penjelasan logisnya begini: Satu, gak ada yang jual nasi padang atau buka warteg di mall. Dua, kayaknya, tempat yang menyediakan nasi cuma restoran cepat saji.

Atauu… mungkin juga seperti yang adik saya bilang, orang Indonesia memang gak bisa lepas dari nasi kalau makan. Dimanapun. Kalaupun bukan makan nasi, setelah sampai di rumah makan lagi. “Yang tadi  itu hitungannya ngemil. Jajan, jajan.”

Kalau memang itu benar, fenomena yang saya jumpai di restoran-restoran cepat saji itu menandakan satu hal lain yang membuat saya prihatin: kita bangsa nasi, jelas-jelas bangsa yang bergantung pada beras, tapi tidak banyak yang bangga dengan petani/pertanian. Kasihan betul para petani itu.

Au ah, elap.

Categories: Serba-serbi, lah!
Tagged:

1 response so far ↓

Leave a Comment